Dalam 4 bulan, transaksi SUN merosot



JAKARTA. Pasar obligasi pemerintah semakin sepi. Infovesta Utama mencatat, nilai transaksi surat utang negara (SUN) seri acuan sepanjang April hanya Rp 88,51 triliun atau turun 31,23% dibandingkan Desember 2014 yang sekitar Rp 128,71 triliun.

Analis Infovesta Utama Praska Putrantyo mengatakan, penurunan nilai transaksi akibat perlambatan kinerja pasar SUN. Rata-rata kinerja obligasi pemerintah atau Infovesta Goverment Bond Index (IGBI) melemah dalam dua bulan terakhir. Pada Maret 2015 tercatat minus 0,84% dan secara year to date (ytd) 28 April 2015 minus 0,78%.

Tekanan pasar obligasi disebabkan  depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dan inflasi tahunan yang diperkirakan kembali naik. "Sehingga menjadi pemberat laju IGBI dalam dua bulan terakhir," ujar Praska, Rabu (29/4).


Analis PT Millenium Danatama Indonesia Desmon Silitonga juga menilai, penurunan nilai transaksi terbilang wajar, lantaran tekanan di pasar SUN. Kondisi tersebut terlihat dari yield yang naik sejak minggu kedua April 2015. "Investor akan menahan diri sehingga nilai transaksi turun," tutur Desmon.

Senior Fund Manager BNI Asset Management Hanif Mantiq sepakat. Menurut dia, investor bersikap wait and see menanti kebijakan Bank Sentral AS alias The Fed menaikkan suku bunga. "Investor menanti kapan pasar bottom dan bisa masuk," katanya.

Selain itu, pasar melihat, pidato Presiden Joko Widodo dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) yang cenderung keras terhadap lembaga pembiayaan internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Investor juga kecewa karena peringkat utang Indonesia dari lembaga pemeringkat dunia Standard & Poor (S&P) tetap stabil.

Padahal, banyak pihak berekspektasi S&P akan menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade. "Sehingga investor lari ke pasar Asia Utara seperti Korea dan Tiongkok," ujar Hanif.

Praska memperkirakan, kinerja obligasi pemerintah semester I sideways. Investor mengantisipasi kebijakan moneter dalam negeri serta kebijakan suku bunga The Fed.

Kendati demikian, pasar SUN hingga akhir tahun ini akan membaik seiring pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan suku bunga rendah. Selain itu, neraca perdagangan diperkirakan surplus serta laju inflasi terkendali bakal memicu penguatan rupiah terhadap dollar AS. "Sehingga, aliran dana asing di SUN akan meningkat dan mendorong peningkatan transaksi di pasar SUN," tutur Praska.

Menurut Desmon, di tengah kondisi seperti ini, investor bisa mengoleksi seri FR0070 dan FR0069 yang cukup likuid. "Hingga akhir tahun ini, diperkirakan SUN bisa memberikan return antara 11%-12%," tutur Desmon.        

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto