Dalam sepekan, minyak tergerus 2,7%



JAKARTA. Harga minyak mencatat penurunan mingguan pertama dalam sebulan terakhir. Mengutip Bloomberg, Jumat (6/5) harga minyak kontrak pengiriman Juni 2016 di New York Mercantile Exchange menguat 0,77% ke level US$ 44,66 per barel dibanding sehari sebelumnya. Namun dalam sepekan terakhir, minyak tergerus 2,7%.

Agus Chandra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, penguatan harga minyak pada akhir pekan didukung oleh peristiwa kebakaran kilang minyak di Kanada. Kebakaran tersebut merupakan yang terburuk dalam sejarah dan menyebabkan perusahaan minyak mengevakuasi pekerja serta menutup produksi hingga 1 juta barel per hari.

Royal Bank Of Canada menyatakan, penutupan produksi hingga 1 juta barel setara dengan 35% - 38% total produksi minyak kanada yang mencapai 2,6 juta barel per hari. "Isu kebakaran Kanada sempat mengangkat minyak ke level US$ 46 per barel," papar Agus.


Di samping itu, sentimen positif datang dari data produksi minyak negeri Paman Sam. Berdasarkan data Energy Information Administration, cadangan minyak Amerika Serikat (AS) pekan lalu memang naik 2,8 juta barel atau lebih tinggi dari pekan sebelumnya 2 juta barel. Namun, angka produksi turun sebesar 113.000 barel menjadi 8,83 juta barel per hari atau penurunan terbesar sejak Agustus 2015.

Gangguan produksi Kanada serta turunnya produksi di AS cukup mengimbangi tekanan harga minyak dari data cadangan global serta produksi OPEC. Dari data yang dikumpulkan Bloomberg, produksi minyak OPEC bulan lalu tetap tinggi, hingga mencapai 33,22 barel per hari.

Irak menaikkan output sebesar 160.000 barel sementara Iran menambah hingga 300.000 barel per hari ke level tertinggi sejak Desember 2011.

Meski demikian, kenaikan harga minyak yang cukup signifikan memicu koreksi jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie