KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam tren melemah. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat tipis 0,07% secara harian ke Rp 18.036 per dolar AS pada Jumat (5/6). Namun dalam sepekan, rupiah telah melemah 0,86% dari posisinya di Rp 17.881 per dolar AS pada Jumat (29/5). Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 18.039 per dolar AS pada Jumat (5/6), nilai ini sama dengan penutupan pada perdagangan kemarin (4/6). Namun, dalam sepekan, rupiah melemah 0,87% dari posisinya di Rp 17.883 per dolar AS pada Jumat (29/5). Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah selama sepekan dipengaruhi oleh sentimen domestik dan global. Investor terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah dimana Israel melakukan operasi militer di Lebanon Selatan meski akhirnya kedua negara tersebut sepakat melakukan gencatan senjata pada Rabu (3/6) waktu AS.
Sementara Iran menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain. Selain itu, pasukan AS melakukan serangan di Pulau Qeshm Iran. Pulau tersebut terletak di dekat Selat Hormuz yang merupakan jalur air vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Baca Juga: IHSG Ditutup Anjlok 4,2% ke 5.594 pada Jumat (5/6), WIFI, PGAS, JPFA Top Losers LQ45 Kemudian berdasarkan data PMI non-manufaktur AS menunjukkan bahwa ukuran harga yang dibayarkan oleh bisnis jasa AS melonjak ke level tertinggi sejak 2022. Ini didorong oleh biaya yang lebih tinggi untuk produk minyak bumi dan komoditas lainnya. “Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim, Jumat (5/6/2026). Dari dalam negeri, Ibrahim melihat pasar khawatir karena harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3%. Selain itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar menjadi hanya US$ 89,1 juta, anjlok dari US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Hal ini karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Serta iinflasi Mei meningkat menjadi 3,08%, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor. Kemudian, Moodys’s Ratings memberikan peringkat pertamanya untuk PT Danantara Investment Management pada level Baa2 dengan outlook negatif. Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa memperkirakan pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS seiring ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga masih cenderung berhati-hati karena ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda. Dari faktor eksternal, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, terutama data ketenagakerjaan dan inflasi, yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Jika data ekonomi AS kembali menunjukkan hasil yang solid, dolar AS berpotensi tetap menguat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. “Perkembangan geopolitik global dan pergerakan harga energi juga masih menjadi sentimen yang perlu diperhatikan pasar,” ujar Amru. Sementara itu, dari dalam negeri, pasar masih mencermati kondisi sektor eksternal Indonesia setelah neraca perdagangan April 2026 yang dirilis pada 2 Juni 2026 turun menjadi US$0,09 miliar dari US$3,32 miliar pada bulan sebelumnya. Penurunan surplus tersebut menunjukkan pasokan devisa dari aktivitas perdagangan luar negeri mulai berkurang.
“Di samping itu, pergerakan arus modal asing, langkah stabilisasi Bank Indonesia, serta konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah akan tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan rupiah,” jelas Amru. Amru memproyeksikan rupiah dalam sepekan ke depan bergerak dalam kisaran Rp 17.950 – Rp 18.150 per dolar AS. Sementara Ibrahim memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan dikisaran Rp 17.950 – Rp 18.250 per dolar AS.
Baca Juga: Asing Lepas SBN Rp 15,43 Triliun, Rata-rata Yield Obligasi Pemerintah Naik 5,61 Bps Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News