KONTAN.CO.ID - Arus lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz mulai kembali mengalir normal pada Kamis (18/6/2026). Pemulihan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) secara resmi mencabut blokade maritim terhadap Iran seiring berlakunya kesepakatan damai sementara (interim deal) untuk mengakhiri kecamuk perang di antara kedua negara.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lagi Jumat (19/6): Brent ke US$ 78,31 & WTI ke US$ 76,14 Respons positif langsung datang dari pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia merosot ke level terendah sejak awal Maret lalu. Para analis menilai, dibukanya kembali Selat Hormuz yang mengontrol sekitar seperlima dari total pasokan minyak global akan mengembalikan volume ekspor minyak ke level normal dalam beberapa bulan ke depan. Meski demikian, pelaku pasar global masih dibayangi skeptisisme. Di tengah berlakunya gencatan senjata ini, eskalasi militer Israel di Lebanon masih terus berlanjut, memicu pertanyaan besar terkait ketahanan pakta perdamaian ini.
Baca Juga: Emas Terus Kehilangan Kilau Jumat (19/6), Siap Catat Pelemahan Tiga Pekan Beruntun Konsesi Finansial dan Sinyal Keras Teheran Dokumen perjanjian yang berlaku memberikan waktu 60 hari bagi kedua belah pihak untuk merundingkan status permanen program nuklir Iran. Sebagai bagian dari insentif finansial, kesepakatan ini juga menetapkan pembentukan dana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar bagi Iran, di samping pelonggaran berbagai sanksi ekonomi. Wakil Presiden AS JD Vance yang ditunjuk memimpin delegasi Washington menyatakan bahwa AS juga akan berupaya menekan kepemilikan rudal jarak jauh Teheran dalam negosiasi lanjutan tersebut. Namun, ruang kompromi diperkirakan berjalan alot. Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Trump menandatangani kesepakatan ini "karena putus asa". "Jika pihak Amerika mengajukan tuntutan yang terlalu berlebihan, kami tidak akan menerimanya," tegas Khamenei dalam sebuah pesan tertulis.
Baca Juga: BHP dan Rio Tinto Terpukul Jumat (19/6), Bursa Australia Loyo di Akhir Pekan Kritik Politik dan Posisi Tawar Iran yang Menguat Di Washington, langkah Donald Trump memicu riak politik domestik. Sejumlah sekutu politiknya dari Partai Republik di Kongres mempertanyakan apakah Trump telah memberikan terlalu banyak konsesi demi mengakhiri perang yang memang tidak populer di mata pemilih AS tersebut. Saat meluncurkan invasi hampir empat bulan lalu, Trump menegaskan misinya adalah menghancurkan total program nuklir Iran dan memicu tumbangnya rezim teokrasi di sana. Namun, kesepakatan ini akhirnya diteken tanpa satu pun dari target awal tersebut terpenuhi. Para kritikus menilai posisi tawar Iran kini justru jauh lebih kuat karena berhasil bertahan dari serangan negara adidaya, mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, serta mendapatkan kelonggaran sanksi keuangan bernilai miliaran dolar. Bahkan selama masa transisi 60 hari ini, Teheran menegaskan tetap memegang otoritas pengawasan dan perizinan lalu lintas kapal di selat tersebut.
Baca Juga: Langka Terjadi, Moody's, Fitch, dan S&P Kompak Dukung SpaceX Rift Diplomatik Terbesar: AS Peringatkan Israel
Faktor risiko terbesar bagi stabilitas pasar saat ini bergeser pada sikap Israel. Kendati kesepakatan damai menyerukan penghentian perang permanen serta pemulihan kedaulatan Lebanon, militer Israel meluncurkan serangan udara baru dan merilis peta wilayah pendudukan yang diperluas di Lebanon Selatan. Trump secara terbuka mendesak gencatan senjata total di semua lini demi kelancaran proses negosiasi. Kritik keras ini memicu keretakan (
rift) diplomatik terbesar antara AS dan Israel dalam beberapa dekade terakhir. Wakil Presiden JD Vance bahkan melayangkan peringatan keras bernada sindiran kepada pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Tel Aviv. "Jika saya berada di dalam kabinet pemerintah Israel, saya tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia saat ini," ujar Vance tajam saat berbicara di Gedung Putih.