Dampak Blokade Trump: Impor Minyak China dari Venezuela Anjlok 75%



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Impor minyak China dari Venezuela diperkirakan akan merosot mulai Februari, seiring semakin sedikit kapal tanker yang berhasil berangkat menuju pembeli utama minyak mentah Caracas tersebut.

Kondisi ini terjadi setelah Amerika Serikat mengklaim telah menguasai produsen minyak anggota OPEC itu, menurut para pedagang dan analis.

Jumlah kapal tanker minyak yang berangkat dari Venezuela menuju China turun tajam setelah Presiden AS Donald Trump pada Desember memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkena sanksi dan mengangkut minyak Venezuela.


Langkah ini merupakan bagian dari kampanye tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang berpuncak pada operasi militer AS yang berujung pada penangkapannya.

Baca Juga: Rusia Tegas: Sanksi AS Takkan Hentikan Proyek Minyak di Venezuela

Usai penangkapan tersebut, Trump mengklaim Amerika Serikat kini mengendalikan Venezuela, negara pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mulai mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk berinvestasi di sektor minyak Venezuela.

Namun, AS telah menyita lima kapal yang terkait dengan Venezuela sejak pengumuman blokade.

Tindakan ini mendorong para pemilik kapal untuk memutar balik armadanya atau kembali ke perairan Venezuela setelah proses pemuatan guna menghindari risiko penyitaan, sehingga menciptakan tingkat pengendalian tertentu atas arus ekspor minyak negara tersebut.

Sekitar selusin kapal tanker bermuatan sempat meninggalkan Venezuela dengan mematikan transponder lokasi di tengah penggerebekan AS pada 3 Januari.

Meski demikian, sebagian besar kapal tersebut kembali ke Venezuela setelah pemerintah sementara Caracas menegosiasikan kesepakatan pasokan minyak sebesar 50 juta barel dengan Washington.

Tiga dari kapal tanker tersebut melanjutkan pelayaran ke Asia dan diperkirakan tiba di China sekitar akhir Februari, ujar seorang sumber yang terlibat dalam pengiriman minyak tersebut.

Kapal-kapal itu mengangkut sekitar 3 juta barel minyak bakar (fuel oil) dan 2 juta barel minyak mentah berat Merey, menurut sumber tersebut yang menolak disebutkan namanya karena sensitivitas isu ini.

Sejak blokade dimulai pada Desember, sebanyak 2,9 juta barel minyak mentah telah berangkat dari Venezuela menuju Asia menggunakan tiga kapal yang mengangkut Merey dan jenis minyak mentah Venezuela lainnya, kata Richard Ro, analis minyak mentah kawasan Amerika di Kpler, melalui email.

Baca Juga: Harga Minyak Dekati Level Tertinggi 7 Pekan: Iran dan Venezuela Jadi Kunci

Perusahaan tersebut juga memperkirakan sekitar 2,6 juta barel minyak bakar berhasil melewati blokade.

Perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA, tidak menanggapi permintaan komentar terkait keberangkatan maupun kembalinya kapal-kapal tanker tersebut.

Total sekitar 5 juta barel minyak bakar dan minyak mentah yang dijadwalkan tiba di China setara dengan sekitar 166.000 barel per hari (bph).

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 642.000 bph ekspor minyak mentah dan minyak bakar Venezuela ke China sepanjang 2025, atau sekitar 75% dari total rata-rata ekspor Venezuela sebesar 847.000 bph tahun lalu, berdasarkan dokumen internal PDVSA.

Stok Minyak China

Meski demikian, China telah menimbun minyak Venezuela pada akhir tahun lalu, sementara jutaan barel masih dalam perjalanan. Kondisi ini membuat kilang-kilang China tidak terburu-buru mencari pasokan alternatif.

Kpler memperkirakan sekitar 43 juta barel minyak Venezuela sedang menuju Asia, sementara perusahaan pelacak Vortexa mencatat angka lebih tinggi, yakni 52 juta barel.

China menerima rekor impor minyak mentah Venezuela sebesar 660.000 bph pada November, menurut data Vortexa. Namun, angka tersebut turun menjadi sekitar 450.000 bph pada Desember seiring kapasitas tangki penyimpanan yang telah penuh.

Perusahaan perdagangan komoditas Trafigura dan Vitol mulai memasarkan minyak Venezuela di bawah mandat AS, dengan menyasar kilang-kilang India serta perusahaan energi milik negara China, CNPC, untuk pengiriman pada Maret.

Dampak ke Kilang Independen (Teapots)

Penurunan pasokan ini diperkirakan paling berdampak pada kilang independen China, yang dikenal sebagai teapots, yang selama ini menjadi pembeli terbesar minyak Venezuela. Meski begitu, pasokan dari Venezuela hanya menyumbang sekitar 4% dari total impor minyak mentah China melalui jalur laut.

Baca Juga: CEO Exxon Sebut Venezuela Tak Layak Investasi, Trump Meradang

Sejumlah pembeli teapot masih memiliki pesanan kargo untuk pengiriman Maret dan April yang berangkat dari Venezuela sebelum blokade AS diberlakukan.

Namun, mereka menunggu dengan “ketidakpastian besar” terkait ketersediaan pasokan ke depan, kata seorang pedagang senior China yang terlibat dalam penjualan ke teapot.

Untuk kuartal kedua, kilang teapot China kemungkinan harus mencari alternatif pasokan, seperti minyak mentah Cold Lake dan Access Western Blend dari Kanada. Para pedagang menilai potensi pengalihan minyak Venezuela ke AS dapat mendorong lebih banyak pasokan minyak Kanada mengalir ke Asia.

Selama ini, kilang teapot biasanya mengolah minyak Venezuela—terutama Merey dan minyak bakar—menjadi bitumen untuk pelapisan jalan. Dalam beberapa tahun terakhir, para pedagang juga kerap “mengemas ulang” minyak Venezuela sebagai pasokan asal Malaysia atau Brasil guna menghindari sanksi AS.

TAG: