Dampak Kekeringan, Inflasi di Argentina Melambung Lebih Cepat dari Perkiraan



KONTAN.CO.ID - BUENOS AIRES. Inflasi di Argentina melonjak lebih dari yang diperkirakan karena negara ini tengah menghadapi dampak kekeringan yang hebat. Selain itu, pengeluaran pemerintah yang berlebihan untuk mendorong kenaikan harga bulanan tertinggi dalam dua dekade juga jadi penyebab inflasi melonjak.

Seperti dilansir Bloomberg pada Minggu (16/4), inflasi meningkat menjadi 7,7% di bulan Maret, lebih tinggi dari ekspektasi median sebesar 7% di antara para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg. 

Menurut data pemerintah yang diterbitkan, pada tahun lalu harga-harga di Argentina naik 104,3%, level tahunan tertinggi sejak 1991. 


Baca Juga: 10 Negara Berkembang Ini Menghadapi Krisis Utang Akut

Adriana Dupita, ekonom untuk Brasil dan Argentina mengatakan, perubahan kebijakan untuk memperbaiki masalah inflasi harus lebih drastis jika inflasi terus bertahan di kisaran 100%.

"Tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah menjelang pemilihan umum bulan Oktober. Kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral berikutnya akan menjaga suku bunga riil tetap positif, seperti yang telah disepakati dengan IMF, tetapi tidak akan memiliki dampak jangka pendek terhadap inflasi," ujar Dupita.

Sementara itu, lonjakan harga yang mengejutkan ini menimbulkan rintangan baru bagi masa depan politik Menteri Ekonomi Sergio Massa, yang secara luas dipandang sebagai calon presiden potensial tahun ini dalam koalisi Peronis yang berkuasa.

Berbagai langkah, seperti kontrol harga yang ekstensif, belum mampu mengendalikan inflasi. Akhir tahun lalu, Sergio Massa memperkirakan tingkat inflasi bulanan akan berada di bawah 4% pada bulan April, sebuah tugas yang hampir mustahil untuk dilakukan sekarang.

Salah satu deputi Sergio Massa, Sekretaris Kebijakan Ekonomi Gabriel Rubinstein, menyalahkan kekeringan parah dan flu burung yang mendorong harga-harga lebih tinggi daripada faktor musiman yang biasanya terjadi.

"Beberapa faktor ini tidak kami perkirakan akan muncul di bulan April, dalam hal ini kami memperkirakan akan ada penurunan yang cukup besar dalam indeks," kata Rubinstein dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

Kategori pendidikan dan pakaian memimpin semua kenaikan di bulan Maret, bulan yang dikenal di Argentina sebagai bulan kenaikan harga musiman karena dimulainya tahun ajaran baru.

Kekeringan terburuk dalam sejarah Argentina juga mendorong tekanan pada harga makanan di Argentina, kategori yang paling banyak memberikan pengaruh pada indeks inflasi negara tersebut.

Baca Juga: Inflasi Argentina Tembus 100% untuk Pertama Kalinya Sejak 1991

Biaya makanan naik 9,3% dari bulan sebelumnya karena harga ayam dan telur melonjak lebih dari 25% akibat merebaknya flu burung di Argentina.

Kontrol mata uang dan pembekuan harga yang dilakukan pemerintah telah gagal mendinginkan inflasi atau mengimbangi dampak pencetakan uang untuk membiayai pengeluaran dan kurangnya rencana ekonomi yang kredibel di mata para investor.

Para pemilih di Argentina mengatakan bahwa inflasi yang tinggi adalah isu utama mereka menjelang pemilihan presiden di bulan Oktober 2023.

Editor: Herlina Kartika Dewi