KONTAN.CO,ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir menjadi 5,75% nyatanya belum mampu menghentikan pelemahan nilai tukar rupiah. Pada Rabu (24/6) rupiah ditutup di level Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,52% secara harian. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas kenaikan suku bunga dalam menarik minat investor asing terhadap berbagai aset domestik, mulai dari Surat Berharga Negara (SBN), saham, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga obligasi korporasi. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan, tujuan utama BI menaikkan suku bunga acuan memang untuk meningkatkan daya tarik investasi Indonesia di mata investor global. Namun menurutnya, faktor yang menjadi perhatian investor bukan semata-mata tingkat suku bunga nominal yang tinggi.
Baca Juga: Waskita Beton (WSBP) Tuntaskan Private Placement Rp 9,07 M, WTON Pembeli Mayoritas “Namun perlu diingat bahwa daya tarik investasi itu dapat meningkat jika
real interest rate negara tersebut meningkat, bukan
nominal interest rate,” ungkap Eddy kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). Menurut Eddy, kenaikan suku bunga nominal belum tentu otomatis membuat mata uang suatu negara menguat. Ia merujuk pada teori
International Fisher Effect (IFE) yang menyebut negara dengan tingkat suku bunga nominal lebih tinggi justru berpotensi mengalami depresiasi mata uang dibandingkan negara lain. Karena itu, ia berpandangan upaya memperkuat rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kenaikan BI Rate. Yang lebih penting adalah meningkatkan suku bunga riil melalui kombinasi berbagai faktor fundamental ekonomi. “Jadi, jika ingin rupiah apresiasi dan stabil kembali, yang perlu di target adalah
real interest rate, yang hanya bisa naik atau turun secara alami karena kombinasi faktor inflasi, stabilitas politik, atmosfer bisnis dan legal yang kondusif, dan lainnya,” tambahnya. Selain itu,
nominal interest rate yang lebih tinggi biasanya identik dengan pengendalian inflasi namun
trade-off nya adalah
full employment dan pertumbuhan ekonomi yang mungkin sedikit tertahan. Ada pun demikian jika melihat dari sisi minat investor asing, Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan kenaikan BI Rate ini sebenarnya memicu respons yang terpolarisasi. Menurut Rahma, terjadi strategi
switching yang sangat kentara, asing berbondong-bondong memburu instrumen jangka pendek dengan imbal hasil tinggi (
high-yield), tetapi cenderung menjauhi pasar saham. SRBI menjadi instrumen yang paling sukses menyerap likuiditas valas asing saat ini. Data kuartal II-2026 menunjukkan
net inflow asing ke SRBI menembus angka Rp 70,1 triliun. Sementara pasar obligasi pemerintah sempat mengalami tekanan hebat akibat lonjakan yield US Treasury. “Investor asing cenderung mengoleksi SBN tenor pendek dan menengah untuk mengamankan imbal hasil baru yang lebih tinggi seperti seri FR benchmark 5 tahun yang yield-nya merangkak naik ke area 6,8%–6,9%,” jelas Rahma.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Akan Rilis Obligasi Rp 2,25 Triliun, Beri Kupon Hingga 10% Kemudian, pasar saham justru menjadi korban dari kenaikan suku bunga acuan dan ketidakpastian makro. Kenaikan BI Rate meningkatkan beban biaya modal (cost of fund) emiten, yang memicu revisi valuasi saham.
Pasar saham pun mengalami tekanan jual yang masif dari investor asing. Sepanjang kuartal kedua ini, net outflow asing di pasar saham mencapai Rp 23,5 triliun, bahkan secara Ytd tekanan jual jauh lebih besar. Asing memilih mengurangi eksposur di aset berisiko
equities dan memindahkannya ke instrumen bebas risiko (
risk-free) yang bunganya sedang tinggi. Untuk obligasi korporasi, minat asing tergolong minim dan sangat selektif. Investor asing umumnya enggan masuk ke obligasi korporasi domestik di tengah tren pelemahan rupiah karena likuidity
risk and risk premium yang lebih tinggi dibandingkan SBN atau SRBI. Rahma bilang, transaksi di pasar obligasi korporasi saat ini masih didominasi oleh pemain institusi domestik seperti perbankan dan asuransi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News