KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menjadi angin segar bagi emiten yang berbasis ekspor dan komoditas. Sejumlah emiten seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) berpotensi membukukan kenaikan pendapatan konversi yang dapat mempertebal margin laba bersih. Kendati pergerakan valuta asing berpeluang menguntungkan, dampaknya pada masing-masing emiten akan sangat bergantung pada dinamika operasional, beban ekspansi, serta pergerakan harga komoditas global.
Analis OCBC Sekuritas Devi Harjoto memaparkan, INCO mencatatkan perbaikan kinerja yang solid hingga semester I-2026. Laba bersih perseroan melonjak 313,4% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 104,4 juta, ditopang oleh pertumbuhan volume penjualan bijih nikel yang meningkat lebih dari sepuluh kali lipat mencapai 2,5 juta WMT. Di sisi lain, efisiensi biaya bahan bakar di tengah fluktuasi harga minyak turut menjaga margin kas perseroan.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Tetap Volatil di Semester II-2026, Emiten Komoditas Ekspor Untung "Dari sisi biaya, INCO menunjukkan ketahanan; biaya tunai nickel matte turun sebesar 3,6% secara kuartalan (QoQ) pada kuartal kedua tahun 2026, yang mencerminkan fleksibilitas perusahaan dalam mengoptimalkan pengelolaan bahan bakar di tengah lonjakan tajam harga High Sulfur Fuel Oil (HSFO) menjadi USD 96 per barel," tulis Devi dalam risetnya, (3/8/2026). Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, sentimen INCO ditopang oleh kenaikan harga jual nikel, efisiensi operasional, serta berjalannya proyek strategis seperti Bahodopi dan Pomalaa. Penguatan dolar AS akan menjadi sentimen positif bersih bagi INCO karena mayoritas penjualannya dikontrak dalam valuta asing. Namun, pergerakan sahamnya tetap dipengaruhi oleh ekspektasi harga nikel global.
Baca Juga: Kinerja Indah Kiat (INKP) dan Tjiwi Kimia (TKIM) Diuntungkan Kurs, Ini Rekomendasinya Sementara itu, untuk sektor kertas, Analis Bahana Sekuritas Arvin Lienardi menilai INKP berada di posisi strategis berkat dimulainya komersialisasi pabrik anyar di Karawang pada semester I-2026. Pabrik berkapasitas 2,4 juta ton kertas industri ini diproyeksikan menyumbang pendapatan hingga US$ 594 juta pada 2026, sekaligus mendorong pertumbuhan laba inti perseroan sebesar 55% YoY. "Kami menilai INKP berada di posisi yang baik karena kami memperkirakan harga pulp akan bertahan di atas US$ 600 per ton pada semester II-2026, dengan sedikit normalisasi ke kisaran US$ 570–590 per ton pada tahun 2027 (estimasi)," ungkap Arvin dalam risetnya, (21/7/2026). Arvin menyebutkan bahwa keunggulan biaya terintegrasi dan porsi ekspor sekitar 45% memberikan perlindungan margin yang kuat bagi INKP di tengah fluktuasi nilai tukar. Menurut Nafan, performa saham INKP cenderung bergerak lebih moderat karena investor masih mencermati keberlanjutan harga pulp dunia dan siklus permintaan industri kertas. Di sisi lain, emiten komoditas dan energi seperti CUAN dan INDY juga mencetak lonjakan kinerja yang fantastis. Berdasarkan data Stockpick LQ45 BRI Danareksa Sekuritas per 5 Agustus, CUAN mencatatkan pertumbuhan laba bersih tertinggi hingga 920% YoY yang disokong oleh kenaikan pendapatan sebesar 59,3% YoY.
Baca Juga: INDY Raih Pendapatan US$ 1,15 Miliar di Semester I-2026, Ini Penopangnya Sementara itu, INDY mengekor di posisi berikutnya dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 355% YoY. Nafan menjelaskan bahwa CUAN memperoleh dorongan dari meningkatnya volume penjualan serta perluasan portofolio aset tambang batu bara dan mineral. Meski demikian, karena harga saham CUAN telah mengalami apresiasi sangat tinggi, ruang kenaikan berikutnya akan sangat bergantung pada realisasi ekspansi lanjutan. Adapun transformasi bisnis INDY menuju diversifikasi portofolio non-batu bara, seperti tambang emas dan mineral, terbukti efektif memperbaiki profitabilitas perseroan. Nafan mengingatkan bahwa kendati penguatan kurs valas menjadi angin segar bagi emiten komoditas, besaran manfaatnya akan ditentukan oleh kondisi keuangan internal masing-masing perusahaan. "Penguatan dolar merupakan sentimen positif bersih, tetapi besarnya dampak bergantung pada struktur aset, liabilitas, dan biaya masing-masing emiten," terang Nafan kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Melihat prospek fundamental dan dampak pergerakan kurs valuta asing tersebut, sejumlah analis memberikan rekomendasi positif bagi saham-saham ini.
Devi Harjoto merekomendasikan buy untuk saham INCO dengan target harga Rp 7.500 per saham, sementara Arvin Lienardi menetapkan rekomendasi buy untuk INKP dengan target harga Rp 10.600 per saham. Di sisi lain, Nafan Aji Gusta memberikan rekomendasi add bagi saham CUAN dengan target harga Rp 935 per saham, sekaligus memberikan rekomendasi add untuk INDY pada target harga Rp 3.330 per saham.
Baca Juga: Laba Vale Indonesia (INCO) Melejit 313%, Tingginya Harga Nikel Jadi Pendorong Utama Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News