KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi membuat konsumen dan dunia usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih tinggi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Hal ini bisa terjadi bahkan jika konflik yang baru berlangsung sekitar sepekan tersebut segera berakhir. Pasalnya, para pemasok energi global masih harus menghadapi kerusakan fasilitas energi, gangguan logistik, serta meningkatnya risiko pelayaran. Kondisi ini menghambat distribusi minyak dan gas ke pasar internasional.
Pasokan Energi Global Terganggu
Konflik ini telah menyebabkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas global terganggu. Hal itu terjadi setelah Iran menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz—jalur pelayaran vital antara Iran dan Oman—serta menyerang infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak lebih dari 25% sejak awal perang, yang langsung mendorong kenaikan harga bahan bakar bagi konsumen global. Penutupan hampir total Selat Hormuz memaksa produsen minyak besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait menghentikan pengiriman hingga 140 juta barel minyak ke kilang-kilang di seluruh dunia. Volume tersebut setara dengan sekitar 1,4 hari permintaan minyak global. Akibat tertahannya ekspor, fasilitas penyimpanan minyak dan gas di kawasan Teluk Persia cepat penuh. Hal ini memaksa sejumlah ladang minyak di Irak dan Kuwait mengurangi produksi, sementara Uni Emirat Arab diperkirakan akan mengambil langkah serupa. “Pada titik tertentu, semua produksi juga akan dihentikan jika kapal tanker tidak datang,” kata seorang sumber dari perusahaan minyak milik negara di kawasan tersebut. Baca Juga: 12 Tahun Tanpa Jawaban, Keluarga Korban MH370 Minta Pencarian DilanjutkanPemulihan Produksi Bisa Memakan Waktu
Gangguan pengiriman membuat sejumlah ladang minyak di Timur Tengah terpaksa menghentikan operasi. Menurut Amir Zaman dari Rystad Energy, pemulihan produksi tidak akan berlangsung cepat. Bahkan jika konflik berhenti, produksi minyak dapat membutuhkan hari, minggu, atau bahkan bulan untuk kembali ke tingkat normal, tergantung jenis ladang minyak, usia fasilitas, serta metode penghentian produksi yang dilakukan. Di sisi lain, Iran juga menargetkan infrastruktur energi regional seperti kilang dan terminal ekspor minyak. Sejumlah fasilitas bahkan mengalami kerusakan serius dan membutuhkan perbaikan sebelum bisa kembali beroperasi.Ekspor Gas Qatar Terhenti
Dampak konflik juga meluas ke pasar gas global. Qatar mengumumkan kondisi force majeure terhadap ekspor gas alamnya setelah serangan drone Iran. Negara tersebut memasok sekitar 20% pasar LNG global, sehingga gangguan ini berpotensi mengguncang pasar energi dunia. Sumber Reuters menyebutkan Qatar membutuhkan setidaknya satu bulan untuk kembali ke tingkat produksi normal. Sementara itu, fasilitas ekspor minyak raksasa Ras Tanura milik Saudi Aramco juga ditutup akibat serangan, meskipun belum ada rincian mengenai tingkat kerusakan fasilitas tersebut. Pemerintah AS membenarkan serangan terhadap Iran dengan alasan negara itu menimbulkan ancaman yang segera terhadap Amerika Serikat. Presiden Trump juga menyatakan kekhawatiran terkait upaya Iran memperoleh senjata nuklir.Ancaman Berkelanjutan di Selat Hormuz
Berakhirnya konflik dengan cepat memang bisa menenangkan pasar energi. Namun pemulihan pasokan ke tingkat sebelum perang kemungkinan tetap memakan waktu. Baca Juga: Trump: Perang Iran Bisa Berakhir Jika Militer dan Pemimpin Teheran Hancur Menurut analis energi Natixis CIB, Joel Hancock, sejauh ini kerusakan infrastruktur belum mencapai tingkat struktural yang permanen. Meski demikian, risiko akan tetap tinggi selama perang masih berlangsung. Pertanyaan terbesar saat ini adalah kapan Selat Hormuz kembali aman untuk pelayaran internasional. Trump telah menawarkan pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker minyak serta dukungan asuransi AS bagi kapal yang beroperasi di kawasan tersebut. Namun sumber militer menyebut Iran memiliki kemampuan untuk melanjutkan serangan drone terhadap kapal selama berbulan-bulan. Konflik ini juga berpotensi mendorong negara-negara meningkatkan cadangan minyak strategis mereka setelah perang berakhir, yang pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan minyak dan menopang harga.Dampak ke Ekonomi Global
Gangguan pasokan energi mulai merambat ke rantai pasok global, terutama di kawasan Asia yang mengimpor sekitar 60% minyaknya dari Timur Tengah. Di India, kilang milik negara Mangalore Refinery and Petrochemicals Ltd menyatakan force majeure terhadap ekspor bensin karena kekurangan pasokan. Sementara itu:- Beberapa kilang di China telah mengurangi produksi
- China meminta kilang menghentikan ekspor bahan bakar
- Thailand menghentikan ekspor bahan bakar
- Vietnam menangguhkan pengiriman minyak mentah