Dampak Perang Iran Kian Terasa, Pabrikan Eropa Hadapi Kenaikan Biaya Tertinggi



KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur global menghadapi tekanan yang semakin besar akibat dampak konflik Iran yang memicu gangguan rantai pasok dan lonjakan biaya produksi.

Survei aktivitas pabrik yang dirilis pada Senin (1/6/20206) menunjukkan, sektor manufaktur Eropa mulai merasakan dampak ekonomi perang tersebut.

Baca Juga: Tantang Apple dan Intel, Nvidia Luncurkan Chip AI untuk Laptop dan PC


Sementara sejumlah negara Asia masih mampu mempertahankan ekspansi berkat upaya penumpukan persediaan (stockpiling).

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu perdagangan global, mengguncang pasar keuangan, serta meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas internasional.

Kekhawatiran tersebut juga disuarakan oleh pimpinan berbagai lembaga internasional, termasuk International Energy Agency (IEA), International Monetary Fund (IMF), World Bank, dan World Trade Organization (WTO), yang memperingatkan bahwa perang telah menekan pasokan energi global.

Baca Juga: Harga Aluminium Cetak Rekor Tertinggi 4 Tahun, Konflik Timur Tengah Jadi Katalis

Di kawasan Eropa, survei S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Zona Euro turun menjadi 51,6 pada Mei dari 52,2 pada April yang merupakan level tertinggi hampir empat tahun.

Meski masih berada di atas level 50 yang menandakan ekspansi, perlambatan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap sektor industri.

Chief Business Economist S&P Global Market Intelligence Chris Williamson mengatakan, sektor manufaktur Eropa mulai terbebani oleh kenaikan biaya dan gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Prancis Sita Kapal Tanker Tagor Milik Rusia, Begini Reaksi Moskow

"Meskipun manufaktur zona euro masih mencatat ekspansi untuk bulan keempat berturut-turut pada Mei, sektor ini mulai menunjukkan tanda-tanda kesulitan menghadapi kenaikan harga dan gangguan rantai pasok yang berasal dari perang di Timur Tengah," ujar Williamson.

Jerman, sebagai ekonomi terbesar di Eropa, mencatat stagnasi aktivitas manufaktur pada Mei.

Sementara itu, sektor manufaktur Prancis kembali mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak November tahun lalu.

Tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi juga diperkirakan akan mendorong bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) untuk kembali menaikkan suku bunga deposito bulan ini dan setidaknya sekali lagi sebelum akhir tahun.

Data inflasi resmi yang akan dirilis Selasa (2/6) diperkirakan menunjukkan kenaikan inflasi yang semakin menjauh dari target ECB sebesar 2%.

Di Inggris, pabrikan juga menaikkan harga jual produknya pada laju tercepat sejak Juni 2022 sebagai respons terhadap lonjakan biaya produksi.

Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3% Senin (1/6), Brent ke US$ 94,05

Asia Masih Bertahan

Berbeda dengan Eropa, aktivitas manufaktur di sebagian besar negara Asia masih mencatat pertumbuhan.

Di China, survei manufaktur sektor swasta menunjukkan ekspansi untuk bulan keenam berturut-turut.

Baca Juga: Coinbase Kembali Ekspansi, Hadirkan Layanan Kripto di India

Indeks PMI Manufaktur RatingDog China yang disusun S&P Global berada di level 51,8 pada Mei, turun dari 52,2 pada April namun masih lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 51,6.

Kinerja tersebut kontras dengan survei resmi pemerintah China yang menunjukkan aktivitas manufaktur nyaris stagnan akibat melemahnya pesanan baru dan masih tingginya biaya input.

Sementara itu, aktivitas manufaktur Jepang juga masih tumbuh dengan PMI mencapai 54,5 pada Mei, meski melambat dari level tertinggi lebih dari empat tahun di 55,1 pada April.

Namun, perusahaan-perusahaan Jepang melaporkan kenaikan biaya bahan baku tercepat sejak September 2022 seiring meningkatnya harga komoditas global.

Korea Selatan mencatat performa yang lebih kuat. PMI manufaktur negara tersebut naik menjadi 54,8 pada Mei dari 53,6 pada April, level tertinggi sejak Maret 2021.

Peningkatan aktivitas tersebut mencerminkan langkah perusahaan-perusahaan Korea Selatan untuk mengamankan pasokan bahan baku dan komponen di tengah risiko gangguan perdagangan global akibat konflik Timur Tengah.

Negara-negara Asia lainnya juga menunjukkan tren serupa. PMI manufaktur Vietnam naik menjadi 52,8 dari 50,5 pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Macron Raup Komitmen Investasi 93 Miliar Euro, Dorong Prancis Jadi Hub AI Eropa

Taiwan mencatat kenaikan PMI menjadi 56,1 dari 55,3, sedangkan Filipina melonjak ke level 50,8 dari sebelumnya 48,3.

Secara keseluruhan, data terbaru menunjukkan manufaktur global mulai menghadapi dampak nyata dari konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sementara negara-negara Eropa merasakan tekanan dari lonjakan biaya energi dan gangguan pasokan, negara-negara Asia masih mampu mempertahankan pertumbuhan berkat strategi penumpukan persediaan dan permintaan industri yang tetap kuat, terutama di sektor teknologi dan semikonduktor.