KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi menjadi ancaman bagi kualitas kredit konsumer perbankan. Di tengah meningkatnya jumlah pekerja terdampak PHK, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) kredit rumah tapak juga menunjukkan kenaikan. Data Sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) mencatat sebanyak 53.490 pekerja melaporkan PHK sepanjang Januari-Agustus 2026. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit konsumsi perbankan melambat menjadi 5,07% secara tahunan (year on year/YoY) pada Agustus 2026, dari 5,38% pada Juli 2026. Berdasarkan data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) Bank Indonesia (BI), NPL kredit rumah tapak di posisi 3,33% pada Agustus 2026, naik dari 2,27% pada Juli 2026 dan 2,26% pada Juni 2026. Baca Juga: LinkAja Catat Pertumbuhan Transaksi QRIS 10% pada Kuartal III-2026, Bisa Tumbuh 20% Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, dampak PHK terhadap kenaikan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) konsumer perbankan baru akan terasa pada semester II 2027. “Lonjakan PHK berpengaruh kepada NPL konsumer akan terlihat tahun depan, jadi tidak akan langsung terlihat tahun ini karena mereka masih bertahan dengan pesangon,” ujar Bhima kepada Kontan, Minggu (11/10/2026). Meski begitu, perbankan perlu mewaspadai peralihan masyarakat ke pinjaman jangka pendek seperti buy now pay later (BNPL). Selain itu, debitur kredit kendaraan bermotor (KKB) yang terdampak PHK berpotensi downgrade, yaitu menjual kendaraannya dan beralih ke kendaraan yang lebih murah. Bhima mengatakan jika kondisi ekonomi dan lapangan kerja tidak membaik, kenaikan NPL konsumer berpotensi mendorong bank meningkatkan pencadangan, sehingga akan menekan laba pada 2027. Hingga semester I 2026, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat rasio non performing loan (NPL) sebesar 1,9% turun dari 2,2% pada periode yang sama tahun lalu. Rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,9%, turun dari 5,7%. Baca Juga: Bank Asing Ramai-ramai Perbesar Bisnis di Indonesia EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan BCA terus menjaga kualitas penyaluran kredit di berbagai segmen dan sektor, termasuk pada segmen konsumer di tengah dinamika kondisi perekonomian. "Berdasarkan posisi Juni 2026, Kredit Pemilikan Rumah atau KPR merupakan kontributor terbesar terhadap portofolio kredit konsumer BCA, dengan outstanding mencapai Rp 144,3 Triliun," ujar Hera kepada Kontan, Jumat (9/10/2026). Hera menjelaskan BCA terus memantau perkembangan ekonomi dan kualitas kreditnya, termasuk dengan mengevaluasi sektor industri serta menetapkan limit kredit sesuai profil risiko debitur. BCA juga menerapkan sistem early warning sign untuk mendeteksi potensi debitur bermasalah dan meminimalkan risiko kredit macet. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga mencatat penurunan rasio NPL menjadi 2,99% pada semester I 2026, dari 3,3%. Rasio LaR BTN juga turun jadi 18,6% dari 20,2%. Adapun PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat rasio NPL sebesar 1,83% pada semester I 2026, turun dari 1,88%. Rasio LaR CIMB Niaga juga membaik menjadi 6,4%, dari 8,4% pada periode yang sama tahun lalu.
Dampak PHK ke Rasio Kredit Macet Perbankan Diprediksi Terasa pada 2027
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi menjadi ancaman bagi kualitas kredit konsumer perbankan. Di tengah meningkatnya jumlah pekerja terdampak PHK, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) kredit rumah tapak juga menunjukkan kenaikan. Data Sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) mencatat sebanyak 53.490 pekerja melaporkan PHK sepanjang Januari-Agustus 2026. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit konsumsi perbankan melambat menjadi 5,07% secara tahunan (year on year/YoY) pada Agustus 2026, dari 5,38% pada Juli 2026. Berdasarkan data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) Bank Indonesia (BI), NPL kredit rumah tapak di posisi 3,33% pada Agustus 2026, naik dari 2,27% pada Juli 2026 dan 2,26% pada Juni 2026. Baca Juga: LinkAja Catat Pertumbuhan Transaksi QRIS 10% pada Kuartal III-2026, Bisa Tumbuh 20% Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, dampak PHK terhadap kenaikan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) konsumer perbankan baru akan terasa pada semester II 2027. “Lonjakan PHK berpengaruh kepada NPL konsumer akan terlihat tahun depan, jadi tidak akan langsung terlihat tahun ini karena mereka masih bertahan dengan pesangon,” ujar Bhima kepada Kontan, Minggu (11/10/2026). Meski begitu, perbankan perlu mewaspadai peralihan masyarakat ke pinjaman jangka pendek seperti buy now pay later (BNPL). Selain itu, debitur kredit kendaraan bermotor (KKB) yang terdampak PHK berpotensi downgrade, yaitu menjual kendaraannya dan beralih ke kendaraan yang lebih murah. Bhima mengatakan jika kondisi ekonomi dan lapangan kerja tidak membaik, kenaikan NPL konsumer berpotensi mendorong bank meningkatkan pencadangan, sehingga akan menekan laba pada 2027. Hingga semester I 2026, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat rasio non performing loan (NPL) sebesar 1,9% turun dari 2,2% pada periode yang sama tahun lalu. Rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,9%, turun dari 5,7%. Baca Juga: Bank Asing Ramai-ramai Perbesar Bisnis di Indonesia EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan BCA terus menjaga kualitas penyaluran kredit di berbagai segmen dan sektor, termasuk pada segmen konsumer di tengah dinamika kondisi perekonomian. "Berdasarkan posisi Juni 2026, Kredit Pemilikan Rumah atau KPR merupakan kontributor terbesar terhadap portofolio kredit konsumer BCA, dengan outstanding mencapai Rp 144,3 Triliun," ujar Hera kepada Kontan, Jumat (9/10/2026). Hera menjelaskan BCA terus memantau perkembangan ekonomi dan kualitas kreditnya, termasuk dengan mengevaluasi sektor industri serta menetapkan limit kredit sesuai profil risiko debitur. BCA juga menerapkan sistem early warning sign untuk mendeteksi potensi debitur bermasalah dan meminimalkan risiko kredit macet. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga mencatat penurunan rasio NPL menjadi 2,99% pada semester I 2026, dari 3,3%. Rasio LaR BTN juga turun jadi 18,6% dari 20,2%. Adapun PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat rasio NPL sebesar 1,83% pada semester I 2026, turun dari 1,88%. Rasio LaR CIMB Niaga juga membaik menjadi 6,4%, dari 8,4% pada periode yang sama tahun lalu.