Dampak Serangan Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$ 92



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak hampir 5% pada perdagangan Rabu (11/3/2026), dipicu meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan setelah serangan baru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent crude naik US$4,18 atau 4,8% dan ditutup di level US$91,98 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$3,80 atau 4,6% menjadi US$87,25 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah perusahaan keamanan maritim melaporkan tiga kapal lagi terkena serangan proyektil di Selat Hormuz. Dengan insiden terbaru tersebut, jumlah kapal yang terkena serangan di kawasan itu mencapai sedikitnya 14 kapal sejak perang Iran dimulai.


Arus pelayaran di jalur sempit tersebut hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Situasi ini menghambat ekspor sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan mendorong harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022.

Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya siap mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan. Namun sejumlah sumber menyebutkan kepada Reuters bahwa Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan militer karena risiko serangan masih terlalu tinggi.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan! Ini Pemicu Penurunan Si Kuning Mentereng

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan 400 juta barel cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga energi. Jika terealisasi, langkah tersebut akan menjadi pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.

Volume yang diusulkan bahkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan pelepasan 182 juta barel pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Namun sejumlah analis menilai langkah tersebut belum cukup untuk menutup potensi kekurangan pasokan akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Analis dari Macquarie Group memperkirakan volume pelepasan itu setara sekitar empat hari produksi minyak global atau sekitar 16 hari volume minyak mentah yang biasanya melintas di kawasan Teluk.

"Jika terdengar kecil, memang begitu," tulis para analis dalam catatannya.

Pasar minyak juga mengabaikan laporan pemerintah AS yang menunjukkan persediaan minyak mentah negara tersebut meningkat lebih besar dari perkiraan pada pekan lalu. Sebaliknya, stok bensin dan distilat—termasuk diesel dan bahan bakar jet, justru turun lebih besar dari perkiraan.

Kekhawatiran pasokan juga meningkat setelah perusahaan minyak negara Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menutup kilang Ruwais akibat kebakaran yang dipicu serangan drone di salah satu fasilitas kompleks tersebut.

Baca Juga: Minyak Dunia Turun Drastis Hingga 11%, Kenapa Analis Masih Cemas?

Di sisi lain, Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia dilaporkan berupaya meningkatkan pengiriman melalui Laut Merah. Namun volume tambahan tersebut masih jauh dari cukup untuk menutup penurunan pasokan dari Selat Hormuz.

Data pelayaran menunjukkan Arab Saudi kini mengandalkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk meningkatkan ekspor minyak. Langkah ini diambil untuk menghindari pemangkasan produksi yang lebih dalam, sementara negara-negara tetangga seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab telah lebih dulu mengurangi produksi.

Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan konflik yang sedang berlangsung saat ini memangkas pasokan minyak dan produk minyak dari kawasan Teluk hingga sekitar 15 juta barel per hari. Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak mentah melonjak hingga US$150 per barel.

Tonton: Senator AS Desak Arab Saudi Ikut Serang Iran, Timur Tengah di Ambang Perang Besar

Sementara itu, analis dari Morgan Stanley memperingatkan bahwa bahkan jika konflik berakhir cepat, pasar energi global masih akan menghadapi gangguan pasokan selama beberapa pekan ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News