Dampak virus corona, HSBC kembali pangkas proyeksi ekonomi global jadi kontraksi 4,8%



KONTAN.CO.ID - LONDON. HSBC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun ini dengan kontraksi 4,8%.

Berdasarkan catatan dari kepala ekonom HSBC Janet Henry yang dirilis Jumat (15/5), kontraksi yang lebih besar terjadi pada perekonomian global setelah lockdown yang dilakukan sejumlah negara diperpanjang hingga bulan April dan pembukaan kembali perekonomian yang belum berjalan mulus.

Di awal April, bank terbesar di kawasan Eropa itu sudah memperkirakan ekonomi global kontraksi 3,3% di tahun ini. 


Baca Juga: Jika Corona Mereda, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021 Bisa 4,5% Hingga 5,5%

HSBC menambah deretan perbankan besar yang memilih merevisi ke bawah proyeksi ekonomi global untuk tahun ini. 

Dalam proyeksi terbarunya, HSBC juga menurunkan proyeksi ekonomi negara maju dari kontraksi 5,9% menjadi kontraksi 7,1%. 

Dan untuk ekonomi negara berkembang, HSBC yang sebelumnya masih memperkirakan adanya pertumbuhan 0,5%, kini direvisi menjadi kontraksi 1,7%.

Sementara untuk perekonomian Amerika Serikat (AS) di tahun ini diprediksi akan kontraksi 0,7%. Sedangkan untuk ekonomi China diproyeksi masih tumbuh sekitar 1,7%. 

"Sebagian besar negara di bawah cakupan kami telah memperketat pembatasan penguncian atau memperpanjang durasi mereka," tulis Henry dalam catatan itu, yang turut menulis bersama ekonom James Pomeroy.

Di mana pembukaan kembali telah dimulai, itu juga lebih lambat dan lebih tentatif daripada yang diperkirakan beberapa minggu lalu, kata mereka.

Baca Juga: Terkontraksi parah tahun ini, pemulihan ekonomi global butuh waktu lama

"Bukan hanya langkah membuka diri dan kemungkinan perubahan perilaku yang mengurangi kecepatan aktivitas, tetapi juga sentimen konsumen dan prospek pekerjaan. Ini sudah terbukti di China dan kemungkinan akan menjadi faktor di banyak negara," tambah Henry.

Hari ini, China telah melaporkan rebound yang pada produksi industri untuk bulan April. Tetapi belanja konsumen masih merana walau kebijakan pembatasan sudah ditiadakan. 

Editor: Anna Suci Perwitasari