JAKARTA. Dana asing sudah mulai melirik kembali pasar negara berkembang. Data ING Finansial Bank NV menyebutkan, dana yang parkir di negara berkembang pada 7 Januari lalu telah mencapai US$ 13 juta. Padahal, pekan sebelumnya, dana asing justru keluar sebanyak US$ 65 juta. "Aliran redemption sudah mengecil dan beberapa manajer investasi punya dana lagi untuk ditaruh," kata Head of Asian Debt ING Investment Management Ltd kepada Bloomberg (9/1).Di Indonesia, tampaknya dana asing masih mencari waktu yang tepat untuk masuk. Per 8 Januari, dana asing pada Surat Utang Negara (SUN) berjumlah Rp 87,56 triliun. Jumlah ini naik tipis 0,78% dibanding 7 Januari 2009 yang sebesar Rp 86,88 triliun. Namun, angka ini tetap lebih sedikit ketimbang dana asing yang masuk per Desember 2008 yang sebesar Rp 87,61 triliun. "Untuk hitungan awal tahun, ini sudah lumayan ramai," kata Associate Director Head of Debt Sales Trimegah Securities Heru Helbianto, kemarin (11/1). Sebagai perbandingan, setahun silam, total dana asing di bulan Januari hanya Rp 79,16 triliun. Lagipula, dana asing masih punya kesempatan masuk lebih banyak lagi pada lelang perdana SUN tahun ini pada Selasa (13/1) besok. Lalu masih ada pula penerbitan sukuk ritel di akhir Februari. Namun, Analis Obligasi Danareksa Sekuritas Budi Susanto menilai, aliran dana asing baru akan deras masuk di kuartal kedua 2009, setelah dua hingga tiga kali lelang SUN lagi. Untuk lelang SUN pertama ini, dominasi dana investor domestik tetap akan lebih besar. Namun, cepat atau lambat dana asing itu akan masuk. Soalnya, perbedaan imbal hasil (yield) antara SUN dengan surat utang pemerintah Amerika Serikat alias US Treasury cukup besar. Rata-rata imbal hasil SUN saat ini mencapai 11% atau lebih. Bandingkan dengan yield US Treasury yang cuma 1% -sampai 3%. Apalagi, "Saat ini tidak banyak pilihan untuk mencari risiko yang minimal," ujar Budi. Ia melihat, setelah inflasi turun, arus dana asing akan terus bertambah. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Dana Asing Bakal Deras di Kuartal Kedua
JAKARTA. Dana asing sudah mulai melirik kembali pasar negara berkembang. Data ING Finansial Bank NV menyebutkan, dana yang parkir di negara berkembang pada 7 Januari lalu telah mencapai US$ 13 juta. Padahal, pekan sebelumnya, dana asing justru keluar sebanyak US$ 65 juta. "Aliran redemption sudah mengecil dan beberapa manajer investasi punya dana lagi untuk ditaruh," kata Head of Asian Debt ING Investment Management Ltd kepada Bloomberg (9/1).Di Indonesia, tampaknya dana asing masih mencari waktu yang tepat untuk masuk. Per 8 Januari, dana asing pada Surat Utang Negara (SUN) berjumlah Rp 87,56 triliun. Jumlah ini naik tipis 0,78% dibanding 7 Januari 2009 yang sebesar Rp 86,88 triliun. Namun, angka ini tetap lebih sedikit ketimbang dana asing yang masuk per Desember 2008 yang sebesar Rp 87,61 triliun. "Untuk hitungan awal tahun, ini sudah lumayan ramai," kata Associate Director Head of Debt Sales Trimegah Securities Heru Helbianto, kemarin (11/1). Sebagai perbandingan, setahun silam, total dana asing di bulan Januari hanya Rp 79,16 triliun. Lagipula, dana asing masih punya kesempatan masuk lebih banyak lagi pada lelang perdana SUN tahun ini pada Selasa (13/1) besok. Lalu masih ada pula penerbitan sukuk ritel di akhir Februari. Namun, Analis Obligasi Danareksa Sekuritas Budi Susanto menilai, aliran dana asing baru akan deras masuk di kuartal kedua 2009, setelah dua hingga tiga kali lelang SUN lagi. Untuk lelang SUN pertama ini, dominasi dana investor domestik tetap akan lebih besar. Namun, cepat atau lambat dana asing itu akan masuk. Soalnya, perbedaan imbal hasil (yield) antara SUN dengan surat utang pemerintah Amerika Serikat alias US Treasury cukup besar. Rata-rata imbal hasil SUN saat ini mencapai 11% atau lebih. Bandingkan dengan yield US Treasury yang cuma 1% -sampai 3%. Apalagi, "Saat ini tidak banyak pilihan untuk mencari risiko yang minimal," ujar Budi. Ia melihat, setelah inflasi turun, arus dana asing akan terus bertambah. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News