Dana Asing Masih Catat Outflow, Nilai Pasar Saham Bluechip Mulai Menarik Dikoleksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aliran dana asing masih mencatatkan tren keluar dari pasar saham domestik. Tekanan ini terutama membayangi saham-saham berkapitalisasi besar atau bluechip, khususnya sektor perbankan.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mencatat total outflow asing secara year to date telah mencapai Rp23,91 triliun per 26 Maret 2026.

Outflow ini didominasi aksi jual di sektor perbankan berkapitalisasi besar dan kami melihat tren ini belum akan berbalik dalam jangka pendek selama ketidakpastian global masih tinggi,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).


Baca Juga: IHSG Dibayangi Risk Off, Saham Komoditas Jadi Penopang di Tengah Aksi Jual Asing

Menurut Abida, sejumlah sentimen global seperti eskalasi konflik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, serta ketidakpastian arah suku bunga global menjadi faktor utama yang mendorong keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari domestik, kekhawatiran terhadap potensi defisit APBN 2026 yang melebar serta pelemahan nilai tukar rupiah juga turut menambah tekanan bagi investor asing.

Meski demikian, Abida menilai tekanan jual asing saat ini lebih bersifat sentimen jangka pendek ketimbang mencerminkan penurunan fundamental emiten.

“Prospek saham blue chip tetap solid secara fundamental. Koreksi harga saat ini lebih mencerminkan tekanan eksternal dan bukan deteriorasi kinerja perusahaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, sektor perbankan sebagai proksi utama investor asing di IHSG memang menjadi yang paling terdampak. Namun, kualitas aset perbankan dinilai masih terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang tetap rendah serta pertumbuhan laba yang stabil.

Dalam kondisi tersebut, Abida melihat valuasi saham-saham blue chip kini sudah berada di level yang menarik untuk akumulasi bertahap.

“Banyak saham terkoreksi tajam bukan karena kinerja internal yang memburuk, melainkan panic selling. Ini menciptakan peluang bagi investor jangka panjang untuk masuk di valuasi yang lebih atraktif,” katanya.

Senada, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai outflow asing dipengaruhi kombinasi faktor global seperti suku bunga tinggi lebih lama, penguatan dolar AS, serta meningkatnya risk-off sentiment.

“Kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran penutupan Selat Hormuz juga menambah tekanan karena berpotensi memperlebar defisit fiskal Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Tembus Level Psikologis, Rupiah Berpotensi Melemah Lagi ke Rp 17.250 Per Dolar AS

Meski risiko masih tinggi, Azis menilai sebagian saham blue chip sudah berada di area valuasi yang cukup menarik dibandingkan rata-rata historis.

“Ini membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah hingga panjang, meskipun dalam jangka pendek investor masih cenderung menahan diri,” imbuhnya.

Dari sisi rekomendasi, Abida menyarankan akumulasi selektif pada saham blue chip berfundamental kuat. Ia merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp11.400, BMRI Rp6.200, dan BBNI Rp4.700.

Selain itu, saham TLKM juga direkomendasikan beli dengan target harga Rp4.000, ditopang transformasi digital dan ekspansi bisnis data center.

Sementara itu, Azis merekomendasikan buy saham ASII dengan target harga di kisaran Rp7.000–Rp7.200.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Melemah pada Selasa (31/3), Ini Rekomendasi Saham PTRO dan MEDC

Berikut daftar saham dengan net sell secara year to date per 30 Maret 2026:

BBCA: Rp20,4 triliun

FAPA: Rp17,7 triliun

BUMI: Rp7,6 triliun

BBNI: Rp3,0 triliun

BMRI: Rp2,7 triliun

MEDC: Rp1,7 triliun

DEWA: Rp1,3 triliun

BBRI: Rp1,2 triliun

GOTO: Rp1,0 triliun

BNBR: Rp942,7 miliar

ANTM: Rp742,9 miliar

CMRY: Rp645,3 miliar

DUTI: Rp559,0 miliar

HRTA: Rp481,9 miliar

MYOR: Rp470,0 miliar

ICBP: Rp445,9 miliar

BRIS: Rp416,4 miliar

INKP: Rp361,8 miliar

CUAN: Rp358,3 miliar

Berikut daftar saham dengan net buy secara year to date per 30 Maret 2026:

SGRO: Rp4,8 triliun

ASII: Rp2,4 triliun

MDKA: Rp1,9 triliun

ADRO: Rp1,5 triliun

UNTR: Rp1,4 triliun

INCO: Rp1,4 triliun

EMAS: Rp1,4 triliun

BRMS: Rp1,3 triliun

AADI: Rp1,2 triliun

NSSS: Rp1,0 triliun

RISE: Rp995,1 miliar

SUPA: Rp974,6 miliar

ITMG: Rp918,9 miliar

BHAT: Rp917,1 miliar

PTBA: Rp876,6 miliar

SMMA: Rp852,2 miliar

IMPC: Rp848,1 miliar

NCKL: Rp778,4 miliar

MSIN: Rp774,9 miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News