KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hanya ditopang lokal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya menguat dua hari. Tekanan jual yang masih terjadi di pasar membuat indeks terkoreksi meski aktivitas transaksi tetap ramai. IHSG turun 0,27% atau 15,86 poin ke level 5.886,03. Tekanan pada IHSG sejalan dengan masih berlanjutnya aksi jual investor asing. Pada perdagangan Kamis, investor asing membukukan
net sell atau jual bersih sebesar Rp252,65 miliar di seluruh pasar. Namun investor asing tetap melakukan akumulasi pada sejumlah saham pilihan saat IHSG berada di zona merah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham Bank Central Asia (BBCA) sebesar Rp 387,96 miliar.
Nilai tersebut menjadi yang terbesar di antara seluruh saham yang diperdagangkan kmarin, BBCA mengalahkan 2. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 97,18 miliar 3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 87,77 miliar Masuknya dana asing turut mendorong kenaikan harga saham BBCA sebesar 3,1% atau Rp 175 menjadi Rp 5.825 per saham pada penutupan perdagangan. Penguatan tersebut memperpanjang tren kenaikan saham BBCA selama tiga hari berturut-turut. Selain menjadi saham dengan
net buy asing terbesar, BBCA juga mencatatkan nilai transaksi tertinggi di pasar reguler. Nilai transaksi saham emiten perbankan terbesar di Indonesia itu mencapai Rp 3,17 triliun atau sekitar 14,25% dari total nilai transaksi saham di BEI sepanjang hari. Minat investor terhadap BBCA muncul di tengah pandangan sejumlah analis yang menilai valuasi saham sektor perbankan masih relatif murah. BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900 per saham. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan menilai, valuasi BBCA saat ini berada di kisaran mendekati minus dua standar deviasi (-2SD) dibandingkan rata-rata
price to book value (P/BV) selama 10 tahun terakhir yang berada di level 2,1 kali. “Kondisi tersebut dinilai menciptakan ruang valuasi yang menarik bagi investor. Selain itu, posisi BBCA sebagai bank dengan franchise yang kuat dan neraca keuangan yang dominan dinilai mampu memberikan bantalan terhadap pandangan pertumbuhan yang lebih moderat,” tulis Erindra dalam riset 2 Juni 2026.
Baca Juga: Sentimen MSCI Sudah Lewat, Kinerja Fundamental Jadi Penentu Prospek Saham BBCA Sentimen positif terhadap saham BBCA juga datang dari aksi korporasi yang tengah dijalankan perseroan. Bank swasta terbesar di Indonesia tersebut kembali merealisasikan program pembelian kembali
(buyback) saham pada Kamis (11/6), melanjutkan program serupa yang telah dijalankan sebelumnya. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong mengatakan, pelaksanaan
buyback merupakan bentuk keyakinan perseroan terhadap prospek pasar modal Indonesia sekaligus mencerminkan optimisme terhadap fundamental perusahaan. "Pelaksanaan
buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini juga sudah mempertimbangkan kondisi fundamental perseroan," ujar Hendra, Kamis (11/6). BCA menyiapkan dana maksimal Rp 5 triliun untuk program
buyback tersebut, termasuk biaya transaksi terkait. Program ini akan berlangsung selama 12 bulan sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027, kecuali dihentikan lebih awal sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut manajemen, pelaksanaan
buyback tidak akan memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan operasional perseroan. Seluruh proses juga dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Selain buyback, BBCA juga akan membagikan dividen interim termin pertama sebesar Rp 20 per saham. Dividen tersebut dijadwalkan dibayarkan pada 26 Juni 2026, dengan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 15 Juni 2026. Pembagian dividen itu didasarkan pada kinerja keuangan yang solid hingga kuartal I-2026. Per Maret 2026, BBCA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 14,68 triliun, dengan saldo laba ditahan mencapai Rp 239,07 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 259,35 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News