Dana Asing Serbu Obligasi Asia, Indonesia Jadi Tujuan Utama



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus dana asing ke pasar obligasi Asia melonjak ke level tertinggi dalam tujuh bulan pada Juni 2026.

Penurunan harga minyak dunia, kuatnya permintaan terhadap produk teknologi, serta meningkatnya minat investor terhadap aset yang lebih aman di tengah kekhawatiran pasar saham menjadi pendorong utama derasnya aliran modal tersebut.

Berdasarkan data regulator dan asosiasi pasar obligasi di Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan India, investor asing membukukan pembelian bersih obligasi senilai US$ 11,51 miliar sepanjang Juni.


Baca Juga: Dana Asing Kabur dari Indonesia: Thailand Raih Berkah Berlimpah

Nilai itu menjadi arus masuk bulanan terbesar sejak November 2025.

Indonesia menjadi tujuan utama aliran dana asing dengan pembelian bersih mencapai US$ 5,5 miliar. Angka tersebut merupakan arus masuk terbesar sejak Mei 2024 dan melampaui negara-negara lain di kawasan.

Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, mengatakan sebagian besar dana asing yang masuk ke Indonesia mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Investor masih tertarik pada imbal hasil Indonesia yang relatif tinggi," ucapnya.

India mencatat pembelian bersih obligasi sebesar US$ 3,24 miliar, terbesar sejak Juni 2017. Lonjakan itu terjadi setelah pemerintah India menghapus pajak capital gain atas pendapatan bunga maupun penjualan surat utang pemerintah bagi investor asing.

Baca Juga: Dana Asing Terus Keluar, Laju IHSG Semakin Liar

Sementara itu, obligasi Korea Selatan membukukan arus masuk bersih US$ 2,2 miliar, sekaligus menjadi bulan ketujuh dari delapan bulan terakhir yang mencatatkan aliran dana asing positif. Malaysia juga mencatat pembelian bersih sebesar US$1,21 miliar.

Berbeda dengan negara-negara tersebut, pasar obligasi Thailand justru mengalami arus keluar dana asing dengan penjualan bersih mencapai US$ 627 juta.

Reuters melaporkan, turunnya harga minyak mentah sepanjang Juni membantu meredakan tekanan inflasi di negara-negara pengimpor minyak di Asia.

Harga minyak Brent anjlok 20,8% dari level tertinggi dalam empat tahun dan sempat menyentuh posisi terendah dalam empat bulan, sehingga memperbaiki sentimen investor, meski harga kembali menguat akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Selain itu, geliat investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI) turut menopang prospek ekonomi kawasan.

Baca Juga: Kemarau Dana Asing di Bursa Saham

Permintaan yang kuat terhadap produk-produk teknologi mendorong aktivitas manufaktur di sejumlah negara Asia, termasuk China, Jepang, dan Korea Selatan, sehingga memperkuat optimisme investor terhadap prospek ekonomi regional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News