KONTAN.CO.ID - Arus dana asing ke pasar obligasi utama Asia melambat pada Juli 2026. Investor asing hanya mencatatkan pembelian bersih sekitar US$2,03 miliar pada obligasi domestik di India, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan dan Thailand. Mengutip
Reuters Rabu (19/8/2026), nilai tersebut menjadi arus masuk bulanan terendah dalam empat bulan terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Dekati US$92, Risiko Selat Hormuz Kembali Menguat Investor cenderung lebih selektif di tengah meningkatnya risiko ekonomi akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong harga energi. Perlambatan arus dana asing ke obligasi Asia terjadi ketika minat terhadap surat utang negara berkembang secara global masih cukup kuat. Institute of International Finance (IIF) mencatat, dana yang masuk ke pasar obligasi negara berkembang mencapai US$26,7 miliar pada Juli. Investor tertarik pada imbal hasil yang tinggi, fundamental ekonomi yang membaik serta peluang diversifikasi dari pasar negara maju. Sebaliknya, pasar saham negara berkembang justru mengalami arus keluar sebesar US$7,8 miliar. Namun, pasar obligasi Asia dinilai kurang menarik karena sejumlah negara di kawasan tersebut sangat bergantung pada impor energi. Konflik Iran yang telah berlangsung selama lima bulan turut mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur utama ekspor energi dari kawasan Teluk. Gangguan tersebut meningkatkan biaya energi bagi negara-negara importir dan memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Sentimen Industri Thailand Naik Dua Bulan Beruntun, Ditopang Penjualan Mobil Listrik Obligasi Indonesia Hanya Dapat US$40 Juta Indonesia menjadi salah satu pasar yang mengalami perlambatan arus dana asing paling signifikan. Investasi asing ke obligasi Indonesia pada Juli hanya mencapai sekitar US$40 juta, terendah dalam empat bulan terakhir. Kondisi tersebut terjadi setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara tak terduga memicu kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Meski demikian, imbal hasil surat utang Indonesia yang relatif tinggi masih menjadi daya tarik bagi investor asing. "Imbal hasil tinggi yang ditawarkan instrumen utang Indonesia saat ini tampaknya cukup untuk mencegah arus keluar dalam jumlah besar meskipun terdapat ketidakpastian akibat pengunduran diri Warjiyo," ujar Khoon Goh, Head of Asia Research ANZ.
Baca Juga: PBB: Kekerasan terhadap Pekerja Kemanusiaan Mencapai Rekor pada 2025, Gaza Terparah India Jadi Pengecualian Berbeda dengan negara Asia lainnya, obligasi India justru mencatatkan arus masuk asing sebesar US$3,04 miliar pada Juli. Angka tersebut menandai pertumbuhan arus dana asing selama dua bulan berturut-turut. Kinerja tersebut didukung kebijakan pemerintah India yang menghapus pajak capital gain pada awal Juni atas pendapatan dari bunga maupun penjualan surat berharga pemerintah bagi investor asing. Sementara itu, obligasi Korea Selatan memperoleh arus masuk sekitar US$600 juta, sekaligus mencatatkan arus dana asing positif selama empat bulan berturut-turut. Minat investor turut ditopang masuknya obligasi Korea Selatan ke dalam indeks obligasi acuan FTSE Russell. Di Malaysia, obligasi mengalami arus keluar asing sebesar US$1,38 miliar karena investor bersikap hati-hati menjelang pemilihan negara bagian. Thailand juga mencatat arus keluar sekitar US$268 juta, seiring kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Yuan China Menguat Rabu (19/8), Pasar Nantikan Sinyal Kebijakan The Fed Risiko Ekonomi Asia Meningkat Tekanan terhadap pasar obligasi Asia juga datang dari melemahnya aktivitas manufaktur di sejumlah negara. Aktivitas manufaktur China mengalami kontraksi pada Juli berdasarkan survei resmi Biro Statistik Nasional China.
Sementara itu, pertumbuhan sektor manufaktur India melambat ke level terendah dalam hampir lima tahun berdasarkan survei swasta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global mulai menjadi risiko bagi prospek pertumbuhan ekonomi Asia. Dengan ketidakpastian geopolitik dan harga minyak yang masih tinggi, investor diperkirakan akan semakin selektif dalam mengalokasikan dana ke pasar obligasi Asia, terutama negara yang memiliki ketergantungan besar terhadap impor energi.
Baca Juga: Aksi Jual Obligasi Melambat, Pasar Saham Global Masih Goyah