KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus modal asing mulai berbalik arah dari sejumlah pasar negara berkembang (
emerging market), termasuk Indonesia. Meningkatnya ketidakpastian global, suku bunga tinggi di Amerika Serikat, hingga meningkatnya minat investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor utama yang mendorong investor global mengurangi eksposur di berbagai negara berkembang. Fenomena ini tercermin dari meningkatnya arus keluar modal di sejumlah negara. India menjadi salah satu contoh yang mencatatkan pembalikan arus modal cukup signifikan.
Pada Mei 2026, India mengalami arus keluar modal bersih (net capital outflow) sebesar US$ 2,4 miliar, berbalik dari arus masuk modal bersih sebesar US$ 3,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tekanan tersebut dipicu oleh aksi jual investor portofolio asing atau foreign portfolio investor (FPI). Sepanjang Mei 2026, investor portofolio asing melakukan penjualan bersih senilai US$ 4,7 miliar.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Selasa (28/7), Cermati Sentimen Pendorongnya Sementara itu, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) bersih India juga tercatat negatif sebesar US$ 0,1 miliar, menandakan tekanan tidak hanya terjadi pada investasi jangka pendek, tetapi juga mulai merambah investasi jangka panjang. Kondisi serupa juga membayangi pasar keuangan Indonesia. Arus keluar modal asing masih menjadi salah satu faktor yang menekan pasar domestik, terutama tercermin dari meningkatnya imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Per 24 Juli 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 7,37%, naik 1,89% dalam sepekan terakhir dan melonjak sekitar 13% secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan yield tersebut menunjukkan investor meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di instrumen utang Indonesia. Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai pengurangan eksposur investor global tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir di seluruh pasar negara berkembang. Menurutnya, sikap hawkish Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), tingginya imbal hasil aset berbasis dolar AS, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta sentimen risk-off menjadi faktor utama yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman. Investor global saat ini cenderung mengalihkan dana ke obligasi pemerintah Amerika Serikat dan pasar negara maju yang lebih likuid. Selain itu, sektor kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor juga menjadi tujuan utama investasi global. Untuk Indonesia, Rully menilai tekanan arus keluar modal masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek apabila kondisi global belum membaik dan premi risiko domestik masih tinggi. Beberapa faktor yang masih menjadi perhatian investor meliputi tingginya suku bunga AS, volatilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal pemerintah, hingga prospek pertumbuhan ekonomi yang dinilai belum cukup kuat.
Baca Juga: Sektor Saham Ini Terdampak Ketidakpastian Pimpinan Bank Sentral "Di pasar obligasi, kenaikan yield SBN menunjukkan investor memang meminta kompensasi lebih besar untuk memegang risiko Indonesia, terutama saat sentimen global risk-off," kata Rully kepada Kontan, Minggu (27/7/2026) malam. Ia menambahkan, investor asing berpeluang kembali masuk ke Indonesia apabila terdapat kombinasi sejumlah faktor positif, seperti perubahan sikap The Fed menjadi lebih dovish, pelemahan dolar AS, menurunnya volatilitas global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta membaiknya prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Selain itu, perbaikan persepsi terhadap kondisi fiskal Indonesia juga dinilai menjadi katalis penting untuk menarik kembali aliran dana asing. Sementara itu, Co-Founder Alphagate Capital sekaligus Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan, Henry Wibowo, menilai investor global sebenarnya belum sepenuhnya meninggalkan pasar negara berkembang. Menurutnya, banyak investor institusi masih mempertahankan posisi overweight di emerging market, namun dengan pendekatan yang jauh lebih selektif. Negara-negara yang memiliki keterkaitan kuat dengan perkembangan industri AI, seperti Korea Selatan dan Taiwan, menjadi tujuan utama investasi karena dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang lebih menarik. Selektivitas tersebut dipengaruhi oleh perbedaan prospek pertumbuhan ekonomi, kualitas fundamental, stabilitas kebijakan, hingga besarnya eksposur terhadap sektor teknologi dan AI. Henry menjelaskan, arus dana global saat ini banyak mengalir ke perusahaan yang bergerak di bidang semikonduktor, pusat data (data center), komputasi awan (cloud computing), serta berbagai teknologi pendukung AI. "Sektor AI memiliki prospek pertumbuhan yang sangat besar dan saat ini menjadi salah satu tema investasi utama bagi investor institusi maupun investor ritel. Hal tersebut mendorong arus dana yang signifikan masuk ke perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang semikonduktor, pusat data, komputasi awan, serta berbagai teknologi pendukung AI," tambah Henry.
Baca Juga: Dinamika Global dan Perkembangan Fiskal Jadi Penentu Aliran Dana Asing ke Pasar SBN Meski demikian, Henry optimistis prospek pasar modal Indonesia mulai membaik. Ia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencapai titik terendah pada Juni 2026 dan berpotensi menguat ke kisaran 7.000 hingga 7.500 pada akhir tahun. Menurutnya, keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan prospek stabil menjadi sinyal positif terhadap fundamental ekonomi nasional. Selain itu, keputusan MSCI mengenai status klasifikasi pasar Indonesia juga akan menjadi katalis penting. Henry berharap Indonesia tetap dipertahankan sebagai pasar negara berkembang (emerging market) dan tidak diturunkan menjadi pasar frontier karena hal tersebut berpotensi meningkatkan kembali kepercayaan investor asing.
Memasuki semester II 2026, Henry memperkirakan peluang kembalinya aliran dana asing ke Indonesia akan semakin besar, didukung oleh valuasi pasar yang relatif murah. Saat ini, valuasi saham Indonesia diperdagangkan pada kisaran 8–9 kali Forward Price to Earnings Ratio (PER), disertai dividend yield sekitar 6%–8% dan tingkat pengembalian atas ekuitas (Return on Equity/ROE) di atas 10%. "Kombinasi valuasi yang menarik, imbal hasil dividen yang tinggi, fundamental perusahaan yang sehat, serta stabilitas kebijakan ekonomi dapat menjadi katalis utama bagi masuknya kembali investor asing," tambah Henry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News