Dana bank di surat utang membesar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penempatan dana bank di surat utang terutama milik pemerintah, semakin meningkat. Hal tersebut seiring peningkatan bisnis bank. Kredit yang belum kencang juga menjadi faktor lain.

Berdasarkan data Otoritas Jasa keuangan (OJK) sampai November 2017, penempatan dana pada surat utang bernilai Rp 671,6 triliun. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 19,1% dibandingkan periode sama tahun 2016.

Panji Irawan, Direktur Tresuri dan Internasional PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mengatakan, penempatan dana di surat utang naik seiring tumbuhnya pendanaan. "Selain itu juga, seiring pemenuhan terhadap ketentuan regulator," tutur Panji kepada KONTAN, Kamis (8/2).


Senada, Haryono Tjahrijadi, Presiden Direktur PT Bank Mayapada International Tbk menyebutkan, penempatan dana pada surat utang membesar seiring peningkatan dana pihak ketiga (DPK) dan juga kredit. "Karena bank perlu penambahan cadangan sekunder, salah satunya dalam bentuk penempatan di surat utang," tutur Haryono.

Hexana Tri Sasongko, Senior Executive Vice President (SEVP)  Global Tresury PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mengungkapkan, penempatan di surat utang merupakan bagian dari strategi pengelolaan cadangan sekunder bank. "Oleh karena itu dengan semakin besarnya skala bisnis BRI, maka portofolio surat utang akan naik dari saat ini," kata Hexana.

Asal tahu saja, likuiditas perbankan bisa bertambah longgar jika ekspansi kredit tertahan karena minat pengusaha belum cukup besar dalam memanfaatkan pinjaman bank. Ada yang berpandangan, permintaan kredit dirasa masih akan lesu pada awal tahun ini. Konsolidasi internal bank serta masih tingginya credit at risk disinyalir menjadi faktor lemahnya kredit di awal tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner Lembaha Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan, sampai pertengahan tahun 2018, kegiatan ekspansi kredit perbankan belum akan melaju cepat, cenderung masih lambat. Faktornya yakni penyerapan anggaran belanja pemerintah yang belum maksimal. "Selain itu perbankan yang masih tahap konsolidasi untuk membersihkan neraca mereka karena beberapa sektor NPL masih tinggi,” jelas Halim.

Risiko kredit yang masih tinggi pun menjadi salah satu faktor kredit yang tidak terlalu agresif di awal tahun ini. Catatan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), credit at risk di bulan Januari 2018 hampir menyentuh 10% “Kemungkinan credit at risk akan mulai turun tahun ini seiring naiknya kredit, namun tidak akan cepat,” imbuh Halim.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menambahkan, kredit perbankan di awal tahun memang cenderung masih lemah, dan itu hal yang wajar terjadi di awal tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sofyan Hidayat