KONTAN.CO.ID - Pada Senin (2/2/2026), harga emas dan perak mulai menunjukkan tanda-tanda stabil setelah mengalami kejatuhan tajam, yang membalikkan reli parabolik dan mengejutkan pelaku pasar Wall Street. “Tanggulnya jebol,” kata Tom Essaye, pendiri Sevens Report Research, kepada
Yahoo Finance. Menurut dia, reli parabolik yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dinilai tidak berkelanjutan.
Harga emas bertahan di sekitar US$ 4.700 per troy ounce pada Senin, setelah anjlok lebih dari 9% pada Jumat lalu. Aksi jual tersebut dikaitkan dengan pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya. Likuidasi paksa dan margin call diduga memperparah tekanan jual di pasar logam mulia. Sementara itu, harga kontrak berjangka perak turun ke sekitar US$ 76 per ounce, memperpanjang penurunan lebih dari 25% sejak Jumat lalu. Meski terjadi aksi jual besar-besaran, sebagian pelaku pasar menilai tekanan belum tentu berakhir. “Pergerakan harga pada aset safe haven seperti ini cukup mengkhawatirkan,” kata CEO dan CIO Laffer Tengler Investments, Nancy Tengler.
Baca Juga: Investor Emas Wajib Tahu! Ini Waktu Terbaik Amankan Cuan Besar Ia menyarankan investor untuk menepi sementara dan menunggu hingga kondisi pasar lebih stabil. “Saya akan menjauh dulu dari transaksi ini karena sudah berubah menjadi perdagangan berbasis momentum,” ujarnya. Sepanjang setahun terakhir, pergerakan harga emas banyak didorong oleh pembelian bank sentral, pelemahan dolar AS yang memicu tema depresiasi nilai mata uang, serta masuknya investor sektor swasta.
Analis tetep optimistis
Analis JPMorgan tetap optimistis terhadap emas. Mereka memperkirakan permintaan kuat dari bank sentral dan investor dapat mendorong harga emas hingga US$ 6.300 per ounce pada akhir 2026. “Meski volatilitas jangka pendek meningkat, kami percaya momentum reli jangka panjang masih akan berlanjut,” tulis analis JPMorgan dalam catatan pada Minggu. Reli perak bahkan dinilai lebih ekstrem, dengan para analis menyoroti spekulasi dari trader China sebagai salah satu pendorong utama. Harga perak sempat melonjak lebih dari 60% pada Januari sebelum kembali terkoreksi tajam. JPMorgan memperkirakan harga perak akan memiliki level dasar (floor) yang lebih tinggi, rata-rata di kisaran US$ 75–80 per ounce, dan menilai perak “tidak mungkin sepenuhnya menghapus kenaikan terbaru.”
Tonton: Harga Emas Melambung Hari ini (02 Februari 2026) Sementara itu, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai mendekatnya Tahun Baru Imlek serta kenaikan persyaratan margin di bursa dapat membatasi minat risiko (risk appetite) terhadap logam mulia dalam jangka pendek.
“Dalam kondisi seperti ini, kesabaran menjadi kunci. Mengejar harga sebelum gambaran pasar lebih jelas bukanlah strategi yang paling bijak,” tulis Hansen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News