Dana kelolaan ETF melonjak 41,18%



JAKARTA. Industri reksadana bursa, exchange traded fund (ETF) terbang tinggi. Di tengah fluktuasi pasar modal, dana kelolaan produk ini mencatat kenaikan 41,18% dari Rp 4,11 triliun pada akhir Desember 2015 menjadi Rp 5,81 triliun pada akhir September 2016.

Secara month on month (MoM), dana kelolaan ETF naik 6,09% dari akhir Agustus 2016 yang sebesar Rp 5,47 triliun. Unit penyertaan ETF juga naik 2,58% dari 3,69 miliar unit di akhir 2015 menjadi 3,79 miliar unit pada akhir September 2016. Secara MoM, unit penyertaan naik 12,75%.

Analis Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, kenaikan dana kelolaan dipicu oleh tingginya minat investor institusi terhadap ETF. ETF menjadi alternatif investasi dengan return yang setara dengan indeks acuannya.


Disamping itu, ETF juga menawarkan keleluasaan dalam melakukan trading karena mekanisme jual beli yang menyerupai saham. "Di luar negeri seperti Amerika Serikat, ETF sangat populer karena management fee rendah dan imbal hasil yang tidak jauh dari indeks," ujar Wawan, Rabu (12/10).

Senior Research Analyst pasardana.id Beben Feri Wibowo menambahkan, mekanisme perdagangan ETF yang fleksibel seperti saham menjadi daya tarik ETF.

Seperti diketahui, ETF dapat diperjualbelikan di pasar perdana dan sekunder, di mana investor dapat bertransaksi dengan harga secara real time. "Produk ini seperti saham namun lebih konservatif yang mengacu pada indeks," ujar Beben.

Direktur Utama Indo Premier Investment Management (IPIM) Diah Sofiyanti mengakui, total dana kelolaan ETF yang dikelolanya naik dari Rp 2 triliun pada awal tahun menjadi Rp 2,6 triliun pada akhir September 2016.

"Pertumbuhan dana kelolaan ETF yang sangat signifikan berasal dari Premier ETF BUMN (XISC), dengan jumlah dana kelolaan saat ini lebih dari Rp 1,1 triliun," ujar perempuan yang akrab disapa Ofie ini.

Menurut dia, kenaikan dana kelolaan ditopang oleh masuknya investor institusi dana pensiun dan asuransi ke ETF. Pasalnya, ETF dinilai berpotensi membagikan return tinggi, sehingga mampu mengerek target return perusahaan.

Kondisi ini terjadi lantaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan industri keuangan non bank (IKNB) menempatkan minimal investasi pada surat berharga negara (SBN). Perubahan portofolio pada IKNB membuat return investasi menjadi minim.

"Kebutuhan untuk meningkatkan target return meningkat, salah satu alternatifnya melalui penempatan di saham, reksadana saham ataupun ETF," ujar Ofie.

Menurutnya, ETF aktif bisa membagikan return tinggi dibandingkan ETF pasif yang mengikuti indeks acuannya. "Secara YTD per 30 September, XIIF membagikan return 28,72%, XIIC 24,21%, XISC sebesar 27,96%, XISR 23% sedangkan IHSG hanya berkinerja 16,8%," tutur dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie