KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bisnis pengelolaan dana nasabah kaya atau
wealth management perbankan semakin bergairah pada kuartal I-2026. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan dana kelolaan atau
asset under management (AUM) yang terus meningkat di sejumlah bank besar. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan, simpanan rekening dengan saldo di atas Rp 5 miliar per Maret 2026 mencapai Rp 5.933 triliun atau tumbuh 21,6% secara tahunan (
year on year/YoY). Jumlah rekeningnya juga meningkat 8,1% YoY menjadi 115.481 rekening. Sejumlah bank melihat pertumbuhan dana nasabah kaya tersebut turut menopang bisnis
wealth management dan menjadi sumber pertumbuhan baru di tengah tekanan margin bunga bersih (
net interest margin/NIM).
GM Wealth Management BNI Henny Eugenia mengatakan, pertumbuhan industri
wealth management turut tercermin pada bisnis private banking BNI. Dana kelolaan nasabah di segmen BNI Private dengan minimum AUM Rp 15 miliar tumbuh 30% secara tahunan hingga April 2026.
Baca Juga: Begini Pergerakan Saham Big Bank pada Kamis (21/5), Sehari Setelah Kenaikan BI Rate “Sejalan dengan pertumbuhan industri, bisnis
wealth management di BNI juga mengalami pertumbuhan positif,” ujar Henny kepada Kontan, Kamis (21/5/2026). Ia menjelaskan, saat ini komposisi portofolio nasabah masih didominasi produk saving account dan deposito. Meski demikian, permintaan terhadap produk pasar modal mulai meningkat signifikan. Menurut Henny, produk seperti surat berharga dan reksadana mulai menjadi alternatif investasi yang diminati karena menawarkan diversifikasi portofolio, termasuk produk syariah,
offshore, hingga instrumen valuta asing. BNI optimistis bisnis
wealth management masih akan tumbuh agresif hingga akhir tahun seiring transformasi digital dan penguatan layanan kepada nasabah
affluent. Untuk menggenjot bisnis ini, BNI mengandalkan strategi pengembangan layanan multicurrency, akses global
privileges, serta dukungan
dedicated relationship manager dan
investment specialist. “Gejolak ekonomi global membuat nasabah membutuhkan
insight investasi yang lebih memadai untuk menjaga portofolionya,” katanya. Selain fokus pada pertumbuhan dana nasabah
existing, BNI juga mempercepat akuisisi nasabah baru dan pengembangan fitur investasi melalui aplikasi wondr by BNI. Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan bisnis
wealth management BCA juga menunjukkan tren positif seiring meningkatnya literasi keuangan masyarakat. Per Maret 2026, total AUM reksa dana dan obligasi BCA tumbuh lebih dari 10% YoY. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada produk reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang. “Hal ini selaras dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya memiliki investasi,” ujar Hera. BCA terus memperkuat layanan
wealth management melalui fitur investasi di aplikasi myBCA maupun layanan offline di lebih dari 190 kantor cabang yang melayani transaksi investasi. Melalui aplikasi myBCA, nasabah dapat mengakses layanan registrasi investor, jual beli reksa dana dan obligasi, pemantauan portofolio, hingga edukasi investasi dalam satu platform.
Baca Juga: Naiknya BI Rate Berpotensi Turunkan Minat Bank Terbitkan Surat Utang Hera mengatakan, BCA optimistis bisnis
wealth management masih akan tumbuh positif ke depan dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan bisnis perseroan. Di sisi lain, PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) juga agresif mendorong pertumbuhan bisnis
wealth management sebagai sumber
fee based income. Direktur Branch Business Hana Bank Hendri Setiawan mengatakan, sejak fokus mengembangkan bisnis
wealth management dalam tiga tahun terakhir, Hana Bank telah mengelola dana
off balance sheet lebih dari Rp 700 miliar. Tahun ini, Hana Bank menargetkan pendapatan komisi dari layanan
wealth management mencapai Rp 50 miliar atau naik dua kali lipat dibanding target tahun lalu sebesar Rp 25 miliar. “Bisnis
wealth management ini baru fokus di tiga tahun terakhir karena mempertimbangkan NIM kita tertekan, sehingga pilihannya menumbuhkan FBI,” ujar Hendri. Menurut dia, gejolak global membuat bank tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga bersih. Walau NIM Hana Bank turun 4,3% secara tahunan menjadi Rp 449,66 miliar pada kuartal I-2026, perseroan masih mampu mencatat laba bersih Rp 200,78 miliar atau tumbuh 23,8% YoY. “Strategi paling logis saat ini memang memperbesar kontribusi
fee based income,” imbuh Hendri. Adapun PT Bank OCBC NISP Tbk juga terus memperkuat bisnis
wealth management di tengah meningkatnya kebutuhan layanan pengelolaan aset yang terintegrasi. Direktur OCBC Johannes Husin mengatakan, nilai bisnis
wealth management OCBC hingga akhir 2025 telah melampaui Rp 120 triliun. Pertumbuhan bisnis
wealth management OCBC sepanjang 2022 hingga 2025 tercatat memiliki
compound annual growth rate (CAGR) sebesar 29%. Johannes mengatakan, transformasi digital menjadi salah satu faktor utama yang mengubah perilaku nasabah dalam mengelola investasi. Hal ini terlihat dari porsi transaksi
wealth management melalui platform digital yang meningkat menjadi 44% pada 2025 dari sebelumnya 30% pada 2024. Selain itu, jumlah transaksi obligasi digital tumbuh 50% YoY dengan volume transaksi melonjak 89% YoY. “Nasabah kini membutuhkan layanan finansial yang semakin terintegrasi, mulai dari transaksi harian hingga pengelolaan aset,” ujar Johannes.
OCBC menghadirkan tiga layanan utama sesuai segmen nasabah, yakni NYALA by OCBC untuk nasabah digital, OCBC Premier Banking untuk layanan
wealth management komprehensif, serta OCBC Private Bank bagi segmen
ultra-high-net-worth. Selain itu, OCBC juga memperkuat sinergi dengan OCBC Sekuritas Indonesia dan Great Eastern Life Indonesia untuk menghadirkan solusi finansial yang lebih menyeluruh. Johannes menilai
wealth management kini bukan sekadar menjual produk investasi, melainkan mendampingi nasabah dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan jangka panjang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News