Dana Kelolaan Reksadana Pendapatan Tetap Turun Dalam pada Mei 2026, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan atau asset under management (AUM) sejumlah jenis reksadana mengalami penurunan pada Mei 2026. 

Tekanan terutama terjadi pada reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham seiring koreksi pasar keuangan akibat kenaikan suku bunga dan aksi jual investor asing.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), AUM reksadana pendapatan tetap turun dari Rp 266,80 triliun pada April 2026 menjadi Rp 240,67 triliun pada Mei 2026. Penurunan ini menjadi yang terbesar dibandingkan jenis reksadana lainnya.


Baca Juga: Debut di Bursa, Simak Prospek Saham PT Rans Entertainmen Milik Raffi Ahmad

Pada periode yang sama, AUM reksadana saham menyusut dari Rp 71,91 triliun menjadi Rp 65,23 triliun. AUM reksadana campuran juga turun dari Rp 38,82 triliun menjadi Rp 35,12 triliun.

Di tengah pelemahan tersebut, reksadana pasar uang justru mencatatkan pertumbuhan. AUM jenis reksadana ini naik dari Rp 150,73 triliun pada April menjadi Rp 152,42 triliun pada Mei 2026.

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menilai penurunan AUM reksadana dipengaruhi oleh koreksi pasar yang dipicu kenaikan suku bunga serta tekanan jual investor asing akibat proses rebalancing indeks global.

"Pasar obligasi dan pasar saham mengalami tekanan. Dampaknya tercermin pada penurunan nilai aset reksadana, terutama yang memiliki eksposur besar pada instrumen tersebut," ujar Wawan kepada Kontan, Selasa (22/6).

Menurut dia, reksadana pendapatan tetap menjadi jenis yang paling terdampak karena memiliki dana kelolaan terbesar dan mayoritas portofolionya ditempatkan pada Surat Utang Negara (SUN). 

Kenaikan suku bunga Bank Indonesia menjadi 5,75% menyebabkan harga obligasi turun sehingga nilai aset bersih reksadana ikut tergerus meski tidak terjadi redemption yang signifikan.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,10% ke Rp 17.861 per Dolar AS pada Selasa (23/6) Siang

Selain itu, kinerja reksadana pendapatan tetap yang relatif baik dalam setahun terakhir juga mendorong sebagian investor melakukan profit taking dan memilih menunggu perkembangan pasar selanjutnya.

Di sisi lain, kondisi suku bunga yang tinggi justru menjadi sentimen positif bagi reksadana pasar uang. Wawan melihat sebagian investor yang merealisasikan keuntungan dari reksadana saham maupun pendapatan tetap mengalihkan dana mereka ke instrumen pasar uang sebagai tempat parkir sementara.

"Kenaikan suku bunga sangat menguntungkan reksadana pasar uang. Investor yang masih wait and see cenderung memilih instrumen ini karena risikonya lebih rendah dan imbal hasilnya menjadi lebih menarik," kata Wawan.

Meski demikian, Wawan menilai peluang pemulihan industri reksadana masih terbuka. Seiring membaiknya kondisi pasar dan kinerja investasi, minat beli investor berpotensi kembali meningkat.

Wawan menyarankan manajer investasi untuk terus mengedukasi investor bahwa kenaikan suku bunga justru memberikan keuntungan bagi reksadana pasar uang. 

Selain itu, kenaikan yield obligasi saat ini juga dapat menjadi daya tarik bagi investor baru karena berpotensi memberikan kinerja yang lebih baik dalam jangka menengah, termasuk pada 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News