KONTAN.CO.ID - PT Bank Central Asia Tbk atau BCA telah mencatat kinerja yang solid di tengah suku bunga yang tinggi dan dinamika ekonomi global. Mengacu pada laporan keuangan Semester I-2026, penyaluran kredit untuk pertama kalinya tembus Rp1.000 triliun atau tepatnya mencapai Rp1.036 triliun. Hal inj menjadi bukti nyata perusahaan berkode saham BBCA itu mampu menangkap momentum permintaan pembiayaan yang strategis. Tak hanya itu, BCA juga dianggap mendominasi kebutuhan pasar di industri perbankan nasional. Pencapaian outstanding kredit tersebut tidak lepas dari strategi ekspansi yang terukur. Dari total kredit, sebanyak 79% atau sekitar Rp802 triliun dialokasikan langsung untuk sektor produktif. Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan, kinerja BBCA yang semakin bertumbuh tidak lepas dari penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor dengan berpatok pada prinsip kehati-hatian. “Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” kata Hendra.
Dana Murah Berlimpah, BBCA Andalkan Kredit Produktif
KONTAN.CO.ID - PT Bank Central Asia Tbk atau BCA telah mencatat kinerja yang solid di tengah suku bunga yang tinggi dan dinamika ekonomi global. Mengacu pada laporan keuangan Semester I-2026, penyaluran kredit untuk pertama kalinya tembus Rp1.000 triliun atau tepatnya mencapai Rp1.036 triliun. Hal inj menjadi bukti nyata perusahaan berkode saham BBCA itu mampu menangkap momentum permintaan pembiayaan yang strategis. Tak hanya itu, BCA juga dianggap mendominasi kebutuhan pasar di industri perbankan nasional. Pencapaian outstanding kredit tersebut tidak lepas dari strategi ekspansi yang terukur. Dari total kredit, sebanyak 79% atau sekitar Rp802 triliun dialokasikan langsung untuk sektor produktif. Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan, kinerja BBCA yang semakin bertumbuh tidak lepas dari penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor dengan berpatok pada prinsip kehati-hatian. “Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” kata Hendra.
TAG: