KONTAN.CO.ID - Dana pensiun raksasa asal Australia memanfaatkan gejolak pasar global akibat perang Iran untuk menambah porsi investasi di saham, khususnya sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Mengutip
Reuters Rabu (15/6/2026), HESTA, dana pensiun dengan kelolaan sekitar A$100 miliar aktif membeli saham global yang terkoreksi, seiring dislokasi pasar akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Pameran Dagang Terbesar di China Digelar, Luas Area Setara 200 Lapangan Sepak Bola Langkah ini mencerminkan strategi agresif dana pensiun Australia yang dikenal dengan skema superannuation, dalam memanfaatkan volatilitas pasar untuk mengakumulasi aset pada valuasi yang lebih menarik. Deputy Chief Investment Officer HESTA Jeff Brunton mengungkapkan bahwa sebelumnya pihaknya berada dalam posisi underweight terhadap saham. Namun, koreksi pasar akibat perang justru membuka peluang untuk kembali meningkatkan eksposur. "Saat pasar turun dan mendekati valuasi yang kami anggap wajar, kami mulai kembali membeli saham," ujarnya.
Baca Juga: Harga Tembaga Bertahan di Level Tertinggi Enam Pekan Rabu (15/4), Apa Pemicunya? HESTA tercatat memiliki sekitar A$42 miliar investasi pada saham domestik dan global per awal Februari dalam portofolio
balanced fund. Fokus pembelian diarahkan pada pasar saham secara luas, dengan eksposur signifikan ke sektor teknologi. Hal ini tidak terlepas dari dominasi saham teknologi dalam indeks global, terutama kelompok “Magnificent Seven”. Kelompok saham tersebut mencakup Apple, Microsoft, Alphabet, Amazon, Nvidia, Meta, dan Tesla. Per akhir Desember, HESTA telah memiliki sekitar US$ 3,3 miliar investasi di saham-saham tersebut dalam portofolio balanced growth fund. Brunton menilai, volatilitas pasar seperti saat ini justru menjadi peluang strategis bagi investor jangka panjang, termasuk untuk memperkuat eksposur pada tema pertumbuhan seperti AI.
Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Rabu (15/4), Ringgit dan Dolar Taiwan Menguat Di sisi lain, pelaku industri juga mengingatkan investor agar tidak gegabah mengalihkan investasi ke aset kas saat pasar bergejolak. Studi Super Members Council menunjukkan bahwa investor yang beralih ke kas saat pandemi COVID-19 justru berpotensi kehilangan potensi imbal hasil dalam jangka panjang. Sebagai gambaran, pekerja dengan dana pensiun A$100.000 yang memindahkan investasinya ke kas saat pandemi bisa kehilangan sekitar A$50.000 dalam lima tahun. Ke depan, HESTA melihat peluang besar bagi dana pensiun untuk tidak hanya berinvestasi di sektor AI, tetapi juga berperan dalam mendorong penerapan teknologi tersebut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di perusahaan portofolio mereka.