KONTAN.CO.ID - SEOUL. Dana pensiun negara Korea Selatan, National Pension Service (NPS), memutuskan menambah porsi investasi di saham domestik setelah reli pasar saham Korea Selatan melesat tajam berkat
booming kecerdasan buatan (AI). Kementerian Kesejahteraan Korea Selatan pada Kamis (28/5/2026) menyebut NPS menaikkan target kepemilikan saham domestik menjadi 20,8% pada akhir 2026, lebih tinggi dibanding target sebelumnya 14,9%. Langkah ini menandai perubahan arah strategi investasi NPS yang selama beberapa tahun terakhir justru agresif memperbesar eksposur aset luar negeri demi mengejar imbal hasil lebih tinggi dan mengurangi dampak dominasi dana jumbo tersebut di pasar lokal.
Baca Juga: Pengelola Dana Pensiun Lebih Selektif Masuk Bursa Saham, Ini Pertimbangannya Sebagai informasi, NPS merupakan dana pensiun terbesar ketiga di dunia dengan total aset mencapai 1.610,4 triliun won atau sekitar US$ 1,07 triliun hingga akhir Februari 2026. Nilai aset itu setara sekitar 60% produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan. Keputusan menaikkan porsi saham lokal tak lepas dari lonjakan indeks saham Korea Selatan, KOSPI, yang menjadi salah satu pasar saham dengan performa terbaik dunia tahun ini. Didukung reli saham-saham chip dan euforia AI global, KOSPI telah melesat hampir 90% sepanjang tahun berjalan dan untuk pertama kalinya menembus level 8.000. Tahun lalu, indeks tersebut juga sudah melonjak 76%, menjadi kenaikan terbesar sejak 1999. Reli pasar saham Korea Selatan semakin kuat sejak pemerintahan Presiden Lee Jae Myung mulai menjabat pada Juni 2025. Pemerintah aktif mendorong berbagai kebijakan pro-pasar modal, termasuk memperkuat sektor teknologi dan semikonduktor. Analis Barclays, Bum Ki Son, menilai NPS masih melihat potensi kenaikan pasar saham Korea Selatan, terutama karena prospek industri chip yang diperkirakan tetap kuat dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Penambahan Peserta “Ekspor semikonduktor Korea Selatan masih booming dan diperkirakan bertahan beberapa tahun lagi. NPS kemungkinan ingin mempertahankan eksposur terhadap potensi kenaikan tersebut,” tulis Son dalam catatannya. Selain faktor fundamental, keputusan NPS juga dinilai sarat pertimbangan politik. Jika dana pensiun itu menjual saham untuk menyesuaikan portofolio dengan target lama, langkah tersebut bisa memicu tekanan di pasar domestik dan dianggap berlawanan dengan arus investasi investor lokal. Sebelumnya, pemerintah Korea Selatan sempat memberi kelonggaran sementara agar porsi saham domestik NPS bisa melampaui target tanpa harus melakukan penyeimbangan ulang portofolio. Kebijakan itu akan berakhir pada Juni mendatang.
Meski demikian, pemerintah menyatakan akan memperluas batas toleransi alokasi aset strategis agar manajer investasi NPS tidak perlu terburu-buru menjual aset hanya demi mengejar target portofolio.
Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri: SRBI Menarik sebagai Instrumen Investasi Jangka Pendek Dalam rencana alokasi aset terbaru, target kepemilikan saham luar negeri ditetapkan sebesar 35,6% pada akhir 2027. Sementara target obligasi domestik mencapai 21,8%, obligasi luar negeri 7,4%, dan aset alternatif 14,3%. Untuk periode lima tahun hingga 2031, NPS menargetkan komposisi investasi terdiri dari 55% saham, 30% obligasi, dan 15% aset alternatif.