KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penarikan bertahap dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Kementerian Keuangan dari bank-bank BUMN diperkirakan mulai memengaruhi biaya dana alias cost of fund (CoF) dan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) pada kuartal III 2026. Analis CGS Sekuritas Indonesia Handy Noverdanius dalam riset 1 Oktober 2026 memperkirakan penarikan dana SAL dari bank-bank BUMN berlangsung bertahap hingga pertengahan 2027. Total saldo SAL saat ini mencapai sekitar Rp 299 triliun, setara dengan 3,1% dari total simpanan sistem perbankan pada Agustus 2026 dan sekitar 6,2% dari total simpanan bank-bank BUMN besar. Menurut Handy, bank-bank BUMN telah mengantisipasi penarikan sekitar Rp 99 triliun hingga akhir 2026. Sementara itu, sisa dana SAL diperkirakan ditarik secara bertahap hingga pertengahan 2027.
Baca Juga: OJK: Baru 20% Barang Milik Negara yang Terlindungi Asuransi "Sebagai gambaran, total saldo SAL saat ini mencapai sekitar Rp 299 triliun dan pihak bank BUMN telah mengantisipasi penarikan bertahap sebesar Rp 99 triliun hingga akhir 2026. Sementara itu, sisa saldo yang ada akan ditarik secara bertahap hingga pertengahan 2027," ujar Handy dalam risetnya. Handy menyebut dampak penarikan SAL kali ini relatif lebih mudah dikelola dibandingkan penarikan pada akhir Juni 2026. Pasalnya, bank-bank BUMN telah memasukkan asumsi penarikan bertahap tersebut ke dalam perencanaan likuiditas. Di sisi lain, sejumlah faktor berpotensi membantu meredam tekanan likuiditas. Salah satunya adalah pelunasan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada periode Agustus-September 2026 yang disertai penurunan imbal hasil. CGS Sekuritas mencatat terdapat sekitar Rp 288 triliun SRBI yang akan jatuh tempo sepanjang Oktober hingga Desember 2026. Jatuh tempo tersebut dinilai dapat memberikan tambahan likuiditas dan membantu mengimbangi dampak penarikan SAL dari perbankan. Selain itu, tingkat bunga bagi special mission vehicles (SMV) di bawah Kementerian Keuangan telah diturunkan mengikuti formula 80% dari suku bunga acuan, efektif 1 September 2026. Ketentuan tersebut berlaku berdasarkan kesepakatan kontrak hingga Januari 2027. Penurunan tersebut membuat tingkat bunga menjadi lebih rendah dibandingkan bunga deposito khusus yang sebelumnya berada di kisaran 7%-7,5%, berdasarkan pemantauan CGS Sekuritas. Nilai transaksi repo obligasi pemerintah juga menunjukkan tren penurunan dibandingkan level puncaknya pada pertengahan Juni 2026.
Baca Juga: OJK: IJP Industri Penjaminan Naik 9,44% menjadi Rp 5,61 triliun pada Agustus 2026 Meski sejumlah faktor tersebut dapat membantu meredam tekanan likuiditas, Handy memperkirakan dampak kenaikan CoF masih akan terlihat dalam kinerja bank pada kuartal III 2026. CGS Sekuritas memperkirakan bank-bank BUMN mengalami penyusutan NIM sekitar 30 basis poin (bps) secara kuartalan pada kuartal III tahun 2026. Tekanan tersebut terutama berasal dari kenaikan CoF akibat tingginya suku bunga deposito khusus pada Juni 2026. CoF bank-bank BUMN diperkirakan meningkat sekitar 40 bps secara kuartalan pada kuartal III 2026. Namun, tekanan terhadap NIM berpotensi diimbangi oleh kenaikan imbal hasil aset. Handy melihat adanya tren peningkatan asset yield sejalan dengan upaya perbankan melakukan repricing kredit, khususnya pada segmen wholesale. Hal ini menjadi penting karena sekitar 41% kredit bank-bank besar utama menggunakan skema managed rate, sementara sekitar 20% lainnya menggunakan skema floating rate. Dengan karakteristik tersebut, kenaikan suku bunga kredit dapat membantu perbankan mengompensasi sebagian kenaikan biaya dana. "Kami mengamati tren kenaikan imbal hasil aset secara umum, sejalan dengan upaya repricing kredit, khususnya di segmen wholesale," jelas Handy. Dari sisi risiko neraca, pelunasan pinjaman pertama PT Agrinas Palma Nusantara senilai Rp 37,7 triliun pada 25 September 2026 dinilai menghilangkan salah satu sumber ketidakpastian jangka pendek bagi bank-bank BUMN. Sebelumnya, bank-bank BUMN telah menyalurkan total pinjaman kepada Agrinas sebesar sekitar Rp 175 triliun per Januari 2026, atau setara dengan sekitar 4% dari total pinjaman perbankan pada Agustus 2026.
Baca Juga: OJK: Nilai Aset Industri Dana Pensiun Sukarela Naik 4,31% pada Agustus 2026 Untuk pelunasan tahun ini, bank-bank BUMN telah melakukan pendebitan dari rekening Agrinas yang tercatat dalam neraca bank, sementara para pemangku kepentingan menyelesaikan seluruh proses verifikasi. Handy juga memperkirakan terdapat peluang revisi terhadap keputusan Menteri Keuangan sebelumnya yang dapat mempermudah proses penggantian dana pada tahun depan. Adapun jadwal pelunasan berikutnya dijadwalkan pada Juni 2027. Selain tekanan margin, kualitas aset tetap menjadi perhatian bank-bank BUMN di tengah perlambatan kondisi makroekonomi. Meski demikian, CGS Sekuritas melihat adanya perbaikan yang relatif baik pada segmen mikro. Perbaikan tersebut antara lain didorong oleh percepatan belanja pemerintah. Untuk segmen korporasi, perkembangan dua perusahaan konstruksi BUMN, yakni PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), menjadi hal yang perlu dipantau karena keduanya berpotensi menjalani restrukturisasi. Sementara itu, dari sisi pertumbuhan kredit, rata-rata pertumbuhan year-to-date (YTD) empat bank besar mencapai 7,6%, meningkat dibandingkan 6,4% pada Juni 2026. Handy mengatakan perkembangan tersebut sejalan dengan sinyal perbaikan permintaan kredit dari sektor swasta. Dalam konferensi pers pada 24 September 2026, Bank Indonesia juga menyebutkan terdapat tanda-tanda permintaan kredit swasta yang mulai membaik. Secara keseluruhan, CGS Sekuritas memperkirakan kinerja bank-bank utama pada kuartal III 2026 masih relatif sesuai ekspektasi, meskipun NIM akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
CGS Sekuritas mempertahankan rekomendasi
overweight untuk sektor perbankan, didukung oleh valuasi yang dinilai menarik dan NIM yang diperkirakan telah mencapai titik terendah.
Baca Juga: Per September 2026, 11 Asuransi Spin Off UUS dengan Mendirikan Perusahaan Baru BBRI dan BBCA menjadi pilihan utama CGS Sekuritas. Adapun risiko penurunan yang perlu diperhatikan adalah tekanan CoF yang lebih tinggi serta memburuknya kualitas kredit. Sebaliknya, katalis positif bagi sektor perbankan berasal dari NIM dan pertumbuhan kredit yang lebih kuat dari perkiraan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News