KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan urun dana atau
securities crowdfunding (SCF) PT Dana Aguna Nusantara (Danamart) telah menyalurkan total pendanaan untuk proyek berbasis
Environmental, Social, and Governance (ESG) mencapai Rp25 miliar sepanjang awal tahun 2026. Head of Marketing Communication Danamart, Cindera Hegawan, mengatakan sejak awal perusahaan telah menetapkan strategi untuk fokus pada pembiayaan berbasis dampak dan keberlanjutan sehingga seluruh portofolio pendanaannya kini berfokus ke proyek ESG. "Sejak awal strategi kami memang diarahkan untuk mengembangkan pembiayaan berbasis
impact dan keberlanjutan," katanya kepada Kontan, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Rupiah Melemah, Bank Pilih Mengubah Strategi Hedging dengan Lebih Selektif Cindera menegaskan, tingkat keberhasilan pendanaan proyek ESG Danamart mencapai 100% dan seluruh proyek yang dijalankan menunjukkan performa pembayaran yang tepat waktu. Menurutnya, kinerja ini mencerminkan bahwa proyek ESG tetap diminati investor selama memiliki struktur bisnis yang jelas, transparansi, dan manajemen risiko yang terjaga. Adapun sepanjang awal tahun ini, Danamart telah mendanai sejumlah proyek ESG yang berhubungan dengan berbagai sektor, terutama energi dan kesehatan. Di sektor energi, perusahaan telah mendukung proyek revitalisasi mini hidro di Sumatra Barat, pembangunan pompa air tenaga surya di Samosir, Sumatra Utara, dan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Kambangan. Sementara di sektor kesehatan, pendanaan disalurkan untuk pengembangan Rumah Sakit Dharma Nugraha guna memperluas akses layanan kesehatan dan asuransi publik, PT Laris Omset Lancar untuk penyediaan layanan terapi medis esensial, dan pembangunan fasilitas diagnostik di Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat. Selain itu, mereka juga mendanai proyek ekspor perkebunan, seperti Sustainable Coffee di Temanggung, Jawa Tengah. Untuk ke depannya, Cindera menilai prospek pendanaan ESG masih menjanjikan. Apalagi secara global, tren investasi ESG terus tumbuh sejak 2020 seiring meningkatnya kesadaran isu keberlanjutan dan risiko jangka panjang.
Baca Juga: Hingga Awal April 2026, Insentif KLM BI Tembus Rp 427,9 Triliun Di Indonesia sendiri, ekosistem ESG masih berada pada tahap awal sehingga ruang pertumbuhan dinilai masih sangat terbuka.
Meski begitu, pendanaan ESG tidak lepas dari sejumlah tantangan. Salah satu risiko utama adalah praktik
greenwashing atau klaim keberlanjutan yang tidak sepenuhnya didukung oleh implementasi nyata atau terukur. Selain itu, tantangan lain terletak pada aspek transparansi dan standarisasi pelaporan dampak. Banyak proyek masih menggunakan metode
self-assessment sehingga validitas data seringkali sulit diverifikasi. Oleh karena itu, menurutnya, peran pihak ketiga yang independen jadi penting untuk melakukan verifikasi, meningkatkan akuntabilitas, dan memastikan dampak yang dilaporkan valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News