Danamon rilis dua produk demi likuiditas



JAKARTA. Di saat likuiditas bank umum mulai cair, sebagian besar bank sudah berani menurunkan suku bunga simpanan. Kondisi berbeda dialami bank syariah. Bank dengan konsep islami ini masih berjuang memupuk likuiditas.

Tengok saja Bank Danamon Syariah. Anak usaha Bank Danamon ini akan bekerja keras memperbesar porsi dana murah dengan meluncurkan dua produk tabungan sekaligus, yakni, Tabungan BISA dan Tabungan BISA Qurban pada Selasa (16/9). Ambisi Danamon Syariah, produk baru tabungan ini bisa mengurangi beban bunga mahal deposito.

Herry Hykmanto, Direktur Bank Danamon Syariah mengatakan, porsi dana murah yakni tabungan dan giro, sebesar 40% terhadap total dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 2,1 triliun per Juni 2014. Danamon Syariah menargetkan bisa meraih 8.000 rekening nasabah tabungan qurban hingga akhir tahun 2014.


"Bank Danamon Syariah juga akan mengembangkan produk tabungan baru, seperti tabungan umroh dan membidik dana haji untuk menambah likuiditas," ujar Herry, kemarin.

Target Danamon Syariah, DPK mencapai Rp 2,7 triliun pada akhir tahun 2014. Sedangkan, pembiayaan ditargetkan mencapai Rp 2,7 trilliun di akhir tahun, dari posisi Rp 2,1 triliun pada Juni 2014. Dus, rasio likuiditas atau finance to deposit (FDR) diperkirakan menurun menjadi 100% dari posisi 111% per Juni 2014.

Proyeksi pesimistis juga dilemparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Edi Setiadi, Kepada Departemen Perbankan Syariah OJK, mengatakan, pihaknya sudah menghimbau pelaku perbankan syariah agar ketat menjaga level (FDR). Arahan OJK, rasio likuiditas tidak melebihi angka 100%.

Edi bilang, likuiditas perbankan syariah masih terbilang aman meski sudah mendekati level 100%. Berdasarkan data OJK, rasio FDR rata-rata bank syariah sebesar 95,50% per Juni 2014. Edi menjelaskan, perlambatan pertumbuhan pembiayaan menjadi faktor yang memengaruhi pelonggaran likuiditas perbankan syariah.

Prediksi OJK, pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah maksimal hanya sebesar 10% saja. Angka tersebut jauh lebih rendah dari rata-rata rencana bisnis bank (RBB) syariah yang berkisar 13%-14%.

"Pencapaian kinerja bank syariah akan berada di bawah RBB," terang Edi. Namun tidak semua bank syariah mengalami perlambatan pertumbuhan pembiayaan. Riyanto, Direktur Utama Bank Syariah Bukopin (BSB), menargetkan, pembiayaan BSB sampai akhir tahun mencapai Rp 4 triliun-4,2 triliun atau tumbuh 20%-30% dari periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, total portofolio pembiayaan BSB mencapai Rp 3,6 triliun. Kendati mematok target tinggi, Riyanto optimistis, rasio pembiayaan bermasalah atau non performing loan (NPF) tetap berada di bawah level 5%. Tahun lalu, NPF BSB tercatat 4,27%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie