KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi memulai langkah strategis dalam pengelolaan infrastruktur hijau di Pulau Dewata. Melalui proyek pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau
Waste to Energy (WtE) di Bali, Danantara berkomitmen mengubah fasilitas pengelolaan limbah yang selama ini identik dengan kesan kotor menjadi area publik fungsional.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani menyatakan, proyek infrastruktur ramah lingkungan ini akan mengadopsi standar internasional.
Fasilitas mutakhir tersebut dirancang sedemikian rupa agar terintegrasi dengan kebutuhan sosial masyarakat sekitar lokasi pembangunan. Menurutnya, kehadiran proyek ini mampu menyelesaikan persoalan darurat sampah sekaligus memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata.
Baca Juga: Said Iqbal Usul Ambang JHT Kena Pajak Naik Jadi Rp 400 Juta, Ini Pertimbangannya "Teknologi yang kita pakai ini adalah teknologi yang sudah proven, yang sudah terbukti di 50 negara. Dan ini adalah teknologi yang bisa mengambil semua sampah yang ada. Mau sampah baru, mau sampah lama, bisa diserap, bisa diambil," ujarnya dalam Peresmian Pembangunan PSEL Bali, dilansir dari siaran Youtube Danantara Indonesia, Rabu (8/7/2026). Rosan mengungkapkan, berdasarkan peninjauan langsung di sejumlah negara maju, fasilitas PSEL modern terbukti dapat berdiri berdampingan secara aman dengan kawasan pemukiman penduduk. "Kebetulan waktu saya pun mengunjungi beberapa tempat, baik di China, di Jepang, dan negara lain, dengan program ini tempatnya itu yang saya datangi sangat bersih. Dan malah di China itu di tengah pemukiman elit, seperti di Pondok Indah. Di tengah-tengahnya itu ada PSEL-nya, karena bersih tidak ada bau sama sekali," ungkapnya. Melalui konsep ramah lingkungan tersebut, stigma negatif masyarakat terhadap fasilitas tempat pembuangan akhir dinilai akan bergeser secara signifikan. Ke depan, kawasan PSEL Bali ini akan dikembangkan menjadi pusat aktivitas baru yang edukatif dan menarik. "Bahkan di belakangnya dibikin taman bacaan dan rekreasi untuk anak-anak. Nah tentunya harapan ini dan saya meyakini bisa terwujud. Kalau sekarang tempat pembakaran, pengelolaan sampah, kotor, bau, dihindari oleh masyarakat, justru nanti kalau ini sudah jadi, itu akan merubah cara pandang, cara kita melihat pengelolaan sampah," kata Rosan. Lebih lanjut, Rosan memproyeksikan area ini tidak hanya sekadar pabrik pengolahan teknis, melainkan sebuah destinasi yang mendatangkan manfaat sosial. Terkait target penyelesaian fisik proyek, Rosan meyakini proses konstruksi di lapangan bisa berjalan lebih cepat. "Karena saya yakin ini akan bersih, tidak bau, dan justru menjadi salah satu tempat untuk dipelajari, dikunjungi, dan bisa menjadi kalau saya bilang tempat berguna lainnya untuk taman baca, atau rekreasi, dan lain-lain. Saya meyakini walaupun targetnya semester pertama 2028, tapi ini bisa selesai pada akhir tahun 2027," pungkasnya.
Sebagai informasi, PSEL Bali memiliki kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah/hari, dengan teknologi
moving grate incinerator dengan
Air Pollution Control System (APCS) berlapis. Selain itu, standar lingkungan mengacu pada standar emisi internasional (EU IED). PSEL ini memiliki total investasi sebesar Rp 3 triliun dengan estimasi penciptaan lapangan kerja hingga 1.200 orang.
Baca Juga: Purbaya Proyeksikan Penerimaan Pajak 2026 Berpotensi Shortfall Rp 46,9 Triliun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News