Danantara Dorong Hunian Terjangkau, SMGR Andalkan Bata Interlock



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Danantara Indonesia mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penyediaan hunian yang layak dan terjangkau.

Kolaborasi tersebut mencakup industri bahan bangunan, pengembang properti, kontraktor, hingga lembaga pembiayaan, dengan inovasi material konstruksi menjadi salah satu kunci untuk menekan biaya dan mempercepat pembangunan rumah.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, Danantara Housing Expo 2026 menjadi salah satu wadah untuk memperkuat sinergi ekosistem perumahan sekaligus mendukung program 3 juta rumah yang menjadi prioritas Presiden Prabowo.


Baca Juga: SIG Dorong Konstruksi Hunian Lebih Cepat lewat Bata Interlock Presisi

”Danantara Housing Expo 2026 merupakan wujud dukungan Danantara Indonesia bersama seluruh ekosistem BUMN terhadap program 3 juta rumah. Kami berupaya menghadirkan pasokan terbaik dengan harga terjangkau serta skema pembiayaan yang kompetitif dan mudah diakses masyarakat,” kata Rosan dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Rosan, kebutuhan rumah saat ini semakin mendesak sehingga pemenuhan hunian perlu didukung kolaborasi seluruh mata rantai industri. Sinergi tersebut melibatkan developer BUMN Karya, bank-bank Himbara, ekosistem Danantara, serta dunia usaha.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyambut positif penyelenggaraan Danantara Housing Expo 2026.

Menurut dia, ajang tersebut mempertemukan masyarakat, pengembang, perbankan, dan pelaku industri dalam satu ekosistem sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi hunian sekaligus pilihan pembiayaan yang sesuai.

Sejalan dengan upaya tersebut, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR)  atau SIG menawarkan Bata Interlock Presisi (BIP) sebagai salah satu solusi material konstruksi.

Baca Juga: Danantara Dorong Hunian Terjangkau lewat Efisiensi Biaya Konstruksi

Produk ini dikembangkan untuk mendukung pembangunan rumah yang lebih cepat, efisien, berkualitas, dan tetap memperhatikan aspek keamanan. 

SIG menghitung penggunaan BIP pada rumah tipe 36 berpotensi menekan biaya pembangunan hingga sekitar 30% dibandingkan metode konvensional. Efisiensi tersebut antara lain berasal dari proses konstruksi yang lebih sederhana serta potensi penghematan biaya tenaga kerja.

Selain menekan biaya, BIP juga diklaim dapat mempercepat waktu pembangunan. SIG memperkirakan rumah tipe 36 yang menggunakan teknologi tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 21–30 hari, atau sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra mengatakan, pengembangan BIP merupakan bagian dari transformasi SIG menjadi penyedia solusi bahan bangunan, sekaligus bentuk dukungan perusahaan terhadap upaya pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak dan terjangkau.

“Dengan menghadirkan Bata Interlock Presisi, kami ingin memastikan masyarakat dapat memiliki rumah yang nyaman, berkualitas, terjangkau, dan memenuhi aspek keamanan,” ujar Indrieffouny.

BIP menggunakan mekanisme pin and lock pada bagian samping dan atas bata sehingga setiap elemen dapat saling mengunci. Sistem tersebut membuat pemasangan lebih sederhana dan presisi dibandingkan metode konstruksi konvensional.

Produk ini memiliki dimensi 25 cm × 12,5 cm × 10 cm dengan pengendalian toleransi hingga 1 milimeter. Tingkat presisi tersebut membuat penyusunan bata lebih mudah sekaligus menghasilkan permukaan dinding yang lebih rapi.

Baca Juga: Menteri PKP: Program Perbaikan Rumah Tak Layak Huni Jangkau 400.000 Unit pada 2026

Dari sisi ketahanan, sistem interlocking membuat antarbata saling terikat. Elemen tertentu juga dapat digunakan sebagai ring balok dan kolom praktis dengan penggunaan tulangan dan mortar setiap 80–120 cm. BIP memiliki kuat tekan minimal 70 kg/cm².

SIG menyebut BIP telah melalui Uji Siklik Dinding Bata Interlock dan Modular 2D dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman (PUSKIM) sesuai SNI 1726-2012 untuk Rumah PIB.

Produk tersebut juga memperoleh sertifikat Kliring Teknologi Rumah Bata Interlock dari Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR.

Selain efisiensi dan kecepatan konstruksi, BIP memiliki sejumlah keunggulan lain, seperti tahan api dan mampu membantu menjaga kondisi udara dalam ruangan tetap lebih sejuk. Material tersebut juga dirancang untuk kebutuhan pembangunan di wilayah rawan gempa.

Karakteristik tersebut membuat BIP tidak hanya relevan untuk pembangunan rumah baru, tetapi juga berpotensi digunakan dalam percepatan pembangunan kembali rumah masyarakat yang terdampak bencana.

Direktur Sales dan Marketing SIG Dicky Saelan mengatakan BIP dikembangkan untuk menjawab kebutuhan konstruksi yang cepat dan efisien dengan tetap mempertahankan ketahanan struktur.

“BIP kami kembangkan untuk konstruksi yang cepat, efisien, sekaligus memiliki ketahanan struktur yang baik,” ujar Dicky.

Dalam Danantara Housing Expo 2026, SIG turut menampilkan rumah tapak yang menggunakan BIP sebagai salah satu inovasi material konstruksi.

Baca Juga: Danantara Tunda Terbitkan Obligasi Dolar, Investor Minta Yield Lebih Tinggi

Kehadiran teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan hunian terjangkau dengan solusi material yang dapat meningkatkan efisiensi pembangunan.

Bagi Danantara, keterlibatan industri bahan bangunan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perumahan yang tidak hanya mengejar keterjangkauan harga rumah, tetapi juga memperhatikan kualitas, keamanan, dan efisiensi pembangunan.

Dengan kebutuhan pembangunan hunian yang besar, inovasi material yang mampu menekan biaya sekaligus mempercepat pengerjaan berpotensi menjadi salah satu pengungkit efisiensi dalam rantai industri perumahan. Bagi SIG, kebutuhan tersebut sekaligus membuka peluang memperluas pemanfaatan solusi bahan bangunan di pasar hunian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News