KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Investasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perlu menghasilkan nilai tambah ekonomi dan memperkuat kemampuan industri nasional. Danantara menilai, investasi tidak cukup hanya mengejar imbal hasil finansial, tetapi juga harus membangun keahlian sumber daya manusia, rantai pasok, dan institusi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang. Managing Director Danantara Development Management Fund Rachmat Kaimuddin mengatakan, keputusan investasi perlu menyeimbangkan potensi inovasi dengan disiplin pengelolaan modal.
Investor juga perlu memastikan proyek yang didanai memiliki kesiapan pelaksanaan dan mampu menarik investasi lanjutan.
Baca Juga: Danantara Bidik Investasi US$ 30 Miliar Lewat New Asia Forum 2026 “Kapabilitas menarik kapabilitas. Kita perlu berinvestasi dalam inovasi, kemampuan, dan teknologi,” ujar Rachmat dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026). Menurut Rachmat, investasi perlu memperhitungkan indikator keuangan, termasuk tingkat pengembalian, serta aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Namun, investasi juga harus membangun kapabilitas nasional secara berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan keahlian tenaga kerja, rantai pasok, dan institusi. Ia menambahkan, proyek yang terstruktur dengan baik dan didukung kemampuan pelaksana yang memadai menjadi kunci untuk membangun kepercayaan investor. Dengan begitu, potensi Indonesia, mulai dari sumber daya alam hingga demografi, dapat diterjemahkan menjadi proyek yang berjalan dan menghasilkan imbal hasil sepadan dengan risikonya. Tantangan tersebut semakin relevan di tengah besarnya investasi global pada teknologi AI. Pemenang Nobel Ekonomi 2011 Thomas J. Sargent mengatakan, keputusan investasi teknologi bergantung pada keyakinan terhadap keberhasilan teknologi, potensi pasar, dan kepastian kebijakan pemerintah.
Baca Juga: Intip Enam Sektor Strategis yang Jadi Incaran Danantara untuk Investasi Global Sargent mencontohkan lonjakan investasi AI oleh perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Amazon, dan Google. Ia membandingkan tren tersebut dengan ekspansi pembangunan jalur kereta api di Amerika Serikat pada abad ke-19, yang mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi juga mengandung risiko kegagalan. “Investasi pada dasarnya adalah sebuah pertaruhan berbasis keyakinan. Modal harus dikumpulkan dan dialokasikan jauh sebelum hasil investasinya terlihat,” kata Sargent. Selain potensi teknologi, ketersediaan modal juga perlu ditopang akses pasar dan kemitraan. George Monize dari Export Development Canada (EDC) mengatakan, pengembangan sektor strategis seperti infrastruktur digital, AI, transisi energi, dan manufaktur maju membutuhkan komitmen investasi jangka panjang. Sementara itu, Co-Founder ADEN Financial Holding Jason Chen menyoroti pentingnya kepercayaan, likuiditas, perlindungan investor, dan transparansi data untuk memperluas partisipasi investor institusional. Ia juga menilai AI dan blockchain berpotensi meningkatkan efisiensi arus modal, pembayaran, serta penyelesaian transaksi.
Baca Juga: Tekan Kendaraan ODOL, Ada Usulan Jembatan Timbang di Kawasan Industri DTIIF 2026 berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di Fairmont Jakarta dengan tema Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation and Sustainable Growth. Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, investor global, dan akademisi untuk membahas pengembangan teknologi dan investasi di berbagai sektor strategis. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News