KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mempercepat program hilirisasi nasional dengan memulai pembangunan 13 proyek tahap II senilai Rp 116 triliun pada 2026. Proyek ini menjadi bagian dari strategi besar transformasi ekonomi berbasis nilai tambah sumber daya alam. Peresmian pembangunan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Cilacap. Program ini dijalankan melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara sebagai pengelola investasi strategis negara. “Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” ujar Prabowo, Rabu (28/4/2026).
Baca Juga: Harga BBM Diesel di SPBU Swasta Rp 30.890, Pertamina Ungkap Alasan Jaga Harga BBM Sebanyak 13 proyek tahap II tersebut mencakup sektor energi, mineral, dan pertanian, mulai dari peningkatan kapasitas kilang, pengembangan produk turunan, hingga pembangunan fasilitas pendukung rantai pasok industri. Selain tahap II, pemerintah juga menyiapkan enam proyek tambahan pada tahap III yang ditargetkan mulai dibangun tahun ini. Nilai investasinya diperkirakan mencapai hampir US$ 10 miliar atau sekitar Rp 170 triliun. “Enam proyek itu mungkin kurang lebih nilainya itu lebih besar (dari Tahap 2). Mungkin itu kurang lebih hampir US$ 10 miliar atau sekitar Rp 170 triliunan,” ujar CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani. Meski demikian, Rosan belum merinci jenis proyek pada tahap III karena masih dalam tahap studi kelayakan dan penilaian pasar serta teknologi. “Mungkin saya
nggak berani kasih bulan, nanti meleset ya, tapi ini kita sedang kaji secara mendalam, karena kita juga memastikan bahwa proyek-proyek ini proyek-proyek besar, jadi kita memastikan bahwa dari segi
timing,
delivery-nya,
market-nya, kemudian teknologinya itu semua adalah yang terbaik. Tahap 3 mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi,” ujarnya. Selain proyek baru, Danantara juga telah menjalankan proyek hilirisasi di luar tahap I dan II dengan total investasi mencapai US$26 miliar atau sekitar Rp450,42 triliun. Proyek tersebut mencakup sektor kelapa dan industri kimia, termasuk fasilitas petrokimia milik PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon.
Baca Juga: Ada kebijakan Baru Pengambilan Peti Kemas di Tanjung Priok, Ini Efeknya ke Biaya “Memang sebelumnya sudah ada yang berjalan juga di luar fase pertama dan kedua. Sudah ada proyek, seperti hilirisasi kelapa,” ujar Rosan. Dari sisi dampak ekonomi, pemerintah memproyeksikan seluruh proyek hilirisasi dapat menyerap tenaga kerja hingga 600.000 orang. "Kalau kita lihat dari proyek-proyek yang kita jalankan ini, akan menciptakan lapangan pekerjaan mencapai kurang lebih 600.000 orang," tutur Rosan. Pengembangan proyek hilirisasi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari BUMN, sovereign wealth fund (SWF), hingga sektor swasta. Peneliti LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menilai skema pembiayaan campuran menjadi kunci keberhasilan program ini. “Proyek ini feasible, tetapi harus ditopang pembiayaan dari BUMN, sovereign wealth fund (SWF), dan sektor swasta,” ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Targetkan 30–40 Proyek Hilirisasi Mulai Dibangun Tahun Ini Ia menambahkan, proyek hilirisasi membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian panjang, sehingga peran negara sebagai investor utama menjadi krusial. Dengan rangkaian proyek yang terus bertambah, pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai motor utama transformasi ekonomi nasional, sekaligus memperkuat struktur industri dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News