Danantara Kaji Penerbitan Obligasi Global Senilai Minimal US$ 500 Juta



KONTAN.CO.ID - Badan pengelola investasi milik negara Danantara dikabarkan tengah mengkaji penerbitan obligasi global berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) senilai sedikitnya US$ 500 juta dengan tenor jangka panjang.

Mengutip Reuters, Kamis (23/7/2026), dua sumber yang mengetahui langsung rencana tersebut mengatakan, obligasi akan diterbitkan melalui Danantara Investment Management, yang merupakan kendaraan investasi (investment vehicle) Danantara.

Baca Juga: Novo Nordisk Perkuat Upaya Pencegahan Obesitas Anak


Salah satu sumber menyebutkan Danantara kemungkinan akan memilih tenor 20 tahun atau 30 tahun, namun tidak menerbitkan keduanya secara bersamaan.

Penerbitan obligasi ini akan memperpanjang kurva pendanaan luar negeri Danantara ke tenor yang lebih panjang, seiring semakin besarnya peran lembaga tersebut dalam mendukung agenda pembangunan ekonomi Presiden Prabowo Subianto.

Namun, investor global masih mencermati sejumlah faktor, termasuk tata kelola (governance), independensi, serta kemampuan Danantara dalam mengeksekusi berbagai proyek investasinya.

Jika terealisasi, penerbitan ini juga akan menguji minat investor internasional untuk memberikan pendanaan jangka panjang kepada Danantara setelah debut obligasi global senilai US$ 1,5 miliar pada Juni lalu memperoleh permintaan yang kuat.

Baca Juga: Izin Tambang Tak Boleh Tunjuk Langsung, Muhammadiyah Masih Wait and See

Kurangi risiko nilai tukar

Salah satu sumber Reuters mengatakan, penerbitan obligasi tersebut bertujuan menyesuaikan struktur pendanaan dengan karakter investasi luar negeri Danantara yang berjangka panjang.

"Alasan strategis penerbitan obligasi ini adalah untuk mencocokkan investasi ekuitas luar negeri jangka panjang dengan sumber pendanaan dolar AS berjangka panjang, sehingga mengurangi risiko ketidaksesuaian mata uang (currency mismatch)," kata sumber tersebut.

Menurutnya, langkah tersebut juga akan membantu mengurangi tekanan tambahan terhadap permintaan dolar AS di pasar domestik sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Sumber tersebut menambahkan, waktu penerbitan obligasi akan bersifat fleksibel karena Danantara saat ini tidak menghadapi tekanan likuiditas.

Hingga berita ini ditulis, Danantara belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Baca Juga: Integrasi KAI-INKA Diminta Bertahap, INKA Sebaiknya Fokus Dukung Operasional KAI

Gandeng lima bank global

Berdasarkan dokumen mandat yang diperoleh Reuters, Danantara telah menunjuk Citigroup, HSBC, JPMorgan, MUFG, dan Standard Chartered Bank sebagai joint lead managers dan bookrunners untuk rencana penerbitan obligasi tersebut.

Obligasi yang akan diterbitkan nantinya merupakan bagian dari program Global Medium-Term Note (GMTN) senilai US$ 5 miliar yang dimiliki Danantara.

Materi presentasi kepada investor yang diperoleh Reuters menunjukkan bahwa hingga 30 April 2026, Danantara memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 123 triliun.

Posisi likuiditas tersebut ditopang oleh beberapa sumber pendanaan, antara lain:

  • Hasil penerbitan obligasi global perdana senilai US$ 1,5 miliar.
  • Fasilitas kredit bergulir multivaluta (multicurrency revolving credit facility) sebesar US$ 10 miliar.
  • Dividen badan usaha milik negara (BUMN) sebesar Rp 70 triliun.
  • Dana Patriot Bond sebesar Rp 68,4 triliun.
Baca Juga: Aismoli: Skema Baru Insentif Motor Listrik Tak Ubah Manfaat bagi Konsumen

Target alokasi aset hingga 2030

Dalam materi yang sama, Danantara juga mengungkapkan rencana penyesuaian portofolio secara bertahap menuju target alokasi aset strategis pada 2030.

Komposisi portofolio yang dituju meliputi:

  • 10%-20% pada investasi strategis.
  • 20%-45% pada aset privat (private assets).
  • 20%-40% pada aset publik (public assets).
  • 15%-25% pada portofolio alokasi fleksibel.
  • 5% sebagai cadangan likuiditas.
Strategi tersebut dirancang untuk mendukung ekspansi investasi jangka panjang Danantara sekaligus menjaga fleksibilitas pendanaan dan pengelolaan risiko di tengah dinamika pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News