KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah melakukan reorganisasi terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk di sektor logistik. Langkah konsolidasi ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem logistik pelat merah yang lebih efektif, efisien, dan kompetitif. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai, ini dilakukan lantaran struktur BUMN logistik masih sangat gemuk namun terfragmentasi. Kondisi ini membuat perusahaan negara tertinggal dari agresivitas sektor swasta yang sudah menerapkan integrasi hulu ke hilir. "Saat ini ada 7 induk BUMN logistik dan puluhan anak usaha, masalahnya adalah kurang terintegrasi. Sementara pelaku usaha swasta makin terintegrasi dari mulai gudang hingga last-mile delivery. Akibatnya biaya logistik kurang kompetitif dibanding pemain swasta yang agresif," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (17/3/2026).
Bhima menekankan, Danantara memikul tugas berat untuk memastikan penyatuan ini memberikan dampak nyata pada penurunan biaya logistik nasional. Menurutnya, keberhasilan reorganisasi ini tidak bisa hanya diukur dari berkurangnya jumlah entitas bisnis secara administratif, melainkan dari kedalaman integrasi operasionalnya. "Konsolidasi BUMN logistik di bawah Danantara idealnya bukan sekadar memangkas jumlah perusahaan jadi satu holding logistik, tapi integrasi antar cabang usahanya," tegasnya.
Baca Juga: Danantara Targetkan Konsolidasi BUMN Logistik Rampung Semester I-2026 Lebih lanjut, Bhima mengingatkan adanya tantangan besar dalam menyelaraskan model bisnis yang beragam serta cakupan geografis yang sangat luas. Menurutnya, penyatuan manajemen antara BUMN yang kuat di wilayah Barat dengan yang menguasai jalur logistik di Timur Indonesia membutuhkan kalkulasi yang sangat matang agar tidak terjadi tumpang tindih. Tak kalah krusial, Bhima menyoroti aspek ketenagakerjaan yang sering kali menjadi titik panas dalam proses konsolidasi. Ia mendesak pemerintah untuk melakukan dialog terbuka mengenai kepastian status dan kesejahteraan para pekerja mitra yang saat ini menggantungkan hidupnya di berbagai anak usaha BUMN logistik tersebut. "Komunikasi dengan pekerja juga penting, terutama meningkatnya jumlah pekerja mitra yang merasa bahwa konsolidasi tidak menguntungkan mereka. Apakah pasca konsolidasi pekerja mitra bisa diangkat jadi karyawan tetap oleh Danantara? Apa gaji dan tunjangan naik? Apa terjadi PHK dan pemutusan kontrak? Pertanyaan itu harus dijawab berdasarkan dialog sosial antar pihak," pungkasnya. Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengungkapkan, proses konsolidasi ini sedang berjalan dan diharapkan menunjukkan hasil signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Pihaknya membidik penyederhanaan struktur BUMN logistik agar lebih kompetitif di pasar.
Baca Juga: CEO Danantara Rosan Masih Kaji Opsi Pembentukan BUMN Baru di Sektor Tekstil "Jadi kami mulai langsung, Insya Allah mudah-mudahan dalam empat bulan ke depan sudah selesai. Masih ditargetkan rampung semester satu," ujarnya saat ditemui di Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (16/3/2026). Dony menjelaskan, konsolidasi ini tidak melibatkan BUMN pelayaran secara langsung, melainkan menyasar anak-anak usaha BUMN yang memiliki lini bisnis logistik namun masih tersebar di berbagai sektor. Ia menyebutkan beberapa unit bisnis seperti Semen Logistik, Pupuk Logistik, Angkasa Pura Logistik, hingga KAI Logistik akan masuk dalam radar penataan. Langkah ini diambil karena Danantara melihat adanya fragmentasi yang cukup besar di lini logistik pelat merah. "Itu totalnya banyak sekali kan (perusahaan BUMN Logistik). Kami mau bikin lebih efisien, lebih baik, lebih strong," tegas mantan Direktur Utama InJourney tersebut.
Dia bilang, merger menjadi jalan keluar bagi BUMN logistik agar struktur biaya menjadi lebih efisien. Dengan pengurangan jumlah entitas, diharapkan performa BUMN di bawah naungan Danantara akan menjadi lebih kokoh. "Jadi nanti seluruh BUMN-nya akan sehat, kuat dan jumlahnya menjadi sedikit," pungkasnya.
Baca Juga: Danantara Rem Suntik Modal ke BUMN, Bidik Lonjakan Nilai Tambah Tahun Ini Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News