KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek Waste to Energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ditargetkan terlaksana pada Maret 2026. CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan pihaknya membutuhkan waktu yang cukup singkat untuk mendapatkan nama-nama pemenang dari lelang proyek pengolahan sampah menjadi energi itu. "Dulu negosiasinya satu project (PLTSa) tiga sampai empat tahun, baru putus (selesai). Sekarang, kita baru buka (lelang) Desember kemarin, mulai bidik di awal, target kita Maret sudah bisa groundbreaking," ungkap Rosan dalam agenda diskusi bertajuk Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas di Jakarta, dikutip Senin (19/01/2026). Baca Juga: Infrastruktur Dorong Minat Investasi Manufaktur Korea ke Indonesia Menurutnya, program WtE ini sudah ada dari tahun 2014 tetapi tidak berjalan secara optimal. Adapun di Indonesia, hanya ada dua PLTSa yang sudah berjalan, yaitu di Surabaya dan Surakarta. "Faktor ketidakpastian itu, sehingga kalau kita lihat kan sampah itu sudah sangat banyak, kalau kita lihat minatnya sangat luar biasa, dalam maupun luar negeri," tambah dia. "Dari semua negara, Eropa, Belanda, Jerman, Spanyol, Korea, Jepang, China, semua kita jabarkan secara terbuka. Kita sudah tetapkan (harga) 20 sen (per kWh) itu satu harga, jadi mereka sudah bisa melihat," ungkap Rosan. Dia juga menyebut, pada batch pertama lelang yang menyasar empat kota/kabupaten, terdapat lebih dari 100 perusahaan dari berbagai negara yang berminat mengikuti lelang proyek PLTSa ini. "Dan yang ikut di atas 100 perusahaan dan teknologi yang tertinggi, dan konsorsium dengan lokal," katanya.
Danantara Sebut Groundbreaking Proyek PLTSa Pertama pada Maret 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek Waste to Energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ditargetkan terlaksana pada Maret 2026. CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan pihaknya membutuhkan waktu yang cukup singkat untuk mendapatkan nama-nama pemenang dari lelang proyek pengolahan sampah menjadi energi itu. "Dulu negosiasinya satu project (PLTSa) tiga sampai empat tahun, baru putus (selesai). Sekarang, kita baru buka (lelang) Desember kemarin, mulai bidik di awal, target kita Maret sudah bisa groundbreaking," ungkap Rosan dalam agenda diskusi bertajuk Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas di Jakarta, dikutip Senin (19/01/2026). Baca Juga: Infrastruktur Dorong Minat Investasi Manufaktur Korea ke Indonesia Menurutnya, program WtE ini sudah ada dari tahun 2014 tetapi tidak berjalan secara optimal. Adapun di Indonesia, hanya ada dua PLTSa yang sudah berjalan, yaitu di Surabaya dan Surakarta. "Faktor ketidakpastian itu, sehingga kalau kita lihat kan sampah itu sudah sangat banyak, kalau kita lihat minatnya sangat luar biasa, dalam maupun luar negeri," tambah dia. "Dari semua negara, Eropa, Belanda, Jerman, Spanyol, Korea, Jepang, China, semua kita jabarkan secara terbuka. Kita sudah tetapkan (harga) 20 sen (per kWh) itu satu harga, jadi mereka sudah bisa melihat," ungkap Rosan. Dia juga menyebut, pada batch pertama lelang yang menyasar empat kota/kabupaten, terdapat lebih dari 100 perusahaan dari berbagai negara yang berminat mengikuti lelang proyek PLTSa ini. "Dan yang ikut di atas 100 perusahaan dan teknologi yang tertinggi, dan konsorsium dengan lokal," katanya.