KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (PERMINAS) yang sahamnya dimiliki 99% oleh Danantara telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan asal Abu Dhabi, New Energy Metals Holdings Ltd (NEM), pada Senin (16/02/2026). MoU ini menetapkan kerangka kerja untuk mengevaluasi potensi kolaborasi strategis terkait antara Perminas dan NEM, yang terdiri dari dua poin penting, yaitu: (i) sumber daya niobium dan rare earth elements (REE) Maboumine di Republik Gabon dan, (ii) potensi inisiatif rantai nilai hilir rare earth di Republik Indonesia. Untuk diketahui New Energy Metals Holdings Ltd (NEM) merupakan pengembang dan investor mineral strategis yang didirikan di Abu Dhabi Global Market (ADGM). Perusahaan saat ini beroperasi di Republik Gabon, Afrika Tengah melalui anak usahanya, Dusk Gabon S.A., yang memegang hak dan izin pertambangan terkait proyek Maboumine, yaitu sumber daya polimetalik yang mencakup niobium dan rare earth elements magnet bernilai tinggi (REE), dengan produk samping fosfat terkait. Kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat integrasi hulu–hilir serta membangun rantai pasok rare earth yang tangguh dan berdaya saing global yang mencakup pengembangan sumber daya, pemrosesan, dan manufaktur lanjutan. Baca Juga: Terungkap! Ini Tujuan Prabowo Bentuk Perminas untuk Industri Rare Earth Indonesia Sebagai platform investasi strategis nasional Indonesia, Danantara Indonesia berperan memastikan kerja sama ini selaras dengan agenda hilirisasi, penguatan rantai pasok mineral kritis, serta pengembangan kapabilitas pemrosesan dan manufaktur lanjutan melalui potensi pembiayaan dan partisipasi investasi strategis bersama PERMINAS, guna mendorong integrasi hulu–hilir yang berdaya saing global. Rosan Roeslani, Chief Executive Officer Danantara Indonesia mengatakan bahwa pada fase berikutnya pertumbuhan industri Indonesia membutuhkan akses yang tangguh terhadap input strategis serta kemampuan untuk mengonversi input tersebut menjadi produk hilir yang berdaya saing global. "Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan," kata Rosan dalam keterangan tertulis, Selasa (17/02/2026). Brian Yuliarto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) turut menambahkan, kerjasama ini akan menandai fase baru dalam keterlibatan Indonesia di industri mineral kritis, termasuk rare earth elements. "Kolaborasi dengan NEM mencerminkan meningkatnya kapasitas industri Indonesia serta kepercayaan mitra internasional terhadap potensi mineral kritis Indonesia," ungkapnya. Melalui kemitraan ini, Indonesia bertujuan mendorong pengembangan industri dalam negeri sekaligus memperkuat partisipasinya dalam pasar mineral kritis global. Baca Juga: Perminas Bakal Urus Tambang Martabe Milik Agincourt Resources MoU ini menetapkan kerangka kerja bagi para pihak untuk mengevaluasi keterkaitan hulu–hilir, termasuk potensi Indonesia berperan sebagai platform pemrosesan hilir, manufaktur, dan integrasi industri, sejalan dengan mandat PERMINAS, prioritas industri nasional, serta ketentuan regulasi yang berlaku. Gilarsi Wahju Setijono, President Director (CEO) PERMINAS, mengatakan, pihaknya berkomitmen mendorong pencapaian tujuan strategis Indonesia di sektor mineral kritis dan industrialisasi hilir. "MoU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang," ungkapnya. Membangun ketahanan rantai pasok rare earth yang kritis Material kritis seperti niobium (Nb) dan rare earth elements termasuk neodymium (Nd) dan praseodymium (Pr), yang merupakan input utama untuk magnet permanen berkinerja tinggi, serta heavy rare earth elements seperti dysprosium dan terbium yang meningkatkan performa magnet pada suhu tinggi, semakin esensial bagi industri modern dan ketahanan nasional. Material-material ini menjadi komponen kunci bagi kendaraan listrik (EV) dan elektrifikasi yang lebih luas, energi terbarukan (termasuk turbin angin dan infrastruktur jaringan listrik), aplikasi kedirgantaraan dan pertahanan tingkat lanjut, serta berbagai penggunaan industri bernilai tinggi yang bergantung pada akses yang aman terhadap input kritis. MoU ini membentuk Joint Working Group dengan mandat untuk menjalankan program kerja sama yang terstruktur dan dipercepat, termasuk pertukaran informasi secara segera, lokakarya teknis bersama, serta asesmen komersial yang terkoordinasi.
Danantara Sokong Kerjasama Perminas & Perusahaan Abu Dhabi Kembangkan Mineral Kritis
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (PERMINAS) yang sahamnya dimiliki 99% oleh Danantara telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan asal Abu Dhabi, New Energy Metals Holdings Ltd (NEM), pada Senin (16/02/2026). MoU ini menetapkan kerangka kerja untuk mengevaluasi potensi kolaborasi strategis terkait antara Perminas dan NEM, yang terdiri dari dua poin penting, yaitu: (i) sumber daya niobium dan rare earth elements (REE) Maboumine di Republik Gabon dan, (ii) potensi inisiatif rantai nilai hilir rare earth di Republik Indonesia. Untuk diketahui New Energy Metals Holdings Ltd (NEM) merupakan pengembang dan investor mineral strategis yang didirikan di Abu Dhabi Global Market (ADGM). Perusahaan saat ini beroperasi di Republik Gabon, Afrika Tengah melalui anak usahanya, Dusk Gabon S.A., yang memegang hak dan izin pertambangan terkait proyek Maboumine, yaitu sumber daya polimetalik yang mencakup niobium dan rare earth elements magnet bernilai tinggi (REE), dengan produk samping fosfat terkait. Kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat integrasi hulu–hilir serta membangun rantai pasok rare earth yang tangguh dan berdaya saing global yang mencakup pengembangan sumber daya, pemrosesan, dan manufaktur lanjutan. Baca Juga: Terungkap! Ini Tujuan Prabowo Bentuk Perminas untuk Industri Rare Earth Indonesia Sebagai platform investasi strategis nasional Indonesia, Danantara Indonesia berperan memastikan kerja sama ini selaras dengan agenda hilirisasi, penguatan rantai pasok mineral kritis, serta pengembangan kapabilitas pemrosesan dan manufaktur lanjutan melalui potensi pembiayaan dan partisipasi investasi strategis bersama PERMINAS, guna mendorong integrasi hulu–hilir yang berdaya saing global. Rosan Roeslani, Chief Executive Officer Danantara Indonesia mengatakan bahwa pada fase berikutnya pertumbuhan industri Indonesia membutuhkan akses yang tangguh terhadap input strategis serta kemampuan untuk mengonversi input tersebut menjadi produk hilir yang berdaya saing global. "Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan," kata Rosan dalam keterangan tertulis, Selasa (17/02/2026). Brian Yuliarto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) turut menambahkan, kerjasama ini akan menandai fase baru dalam keterlibatan Indonesia di industri mineral kritis, termasuk rare earth elements. "Kolaborasi dengan NEM mencerminkan meningkatnya kapasitas industri Indonesia serta kepercayaan mitra internasional terhadap potensi mineral kritis Indonesia," ungkapnya. Melalui kemitraan ini, Indonesia bertujuan mendorong pengembangan industri dalam negeri sekaligus memperkuat partisipasinya dalam pasar mineral kritis global. Baca Juga: Perminas Bakal Urus Tambang Martabe Milik Agincourt Resources MoU ini menetapkan kerangka kerja bagi para pihak untuk mengevaluasi keterkaitan hulu–hilir, termasuk potensi Indonesia berperan sebagai platform pemrosesan hilir, manufaktur, dan integrasi industri, sejalan dengan mandat PERMINAS, prioritas industri nasional, serta ketentuan regulasi yang berlaku. Gilarsi Wahju Setijono, President Director (CEO) PERMINAS, mengatakan, pihaknya berkomitmen mendorong pencapaian tujuan strategis Indonesia di sektor mineral kritis dan industrialisasi hilir. "MoU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang," ungkapnya. Membangun ketahanan rantai pasok rare earth yang kritis Material kritis seperti niobium (Nb) dan rare earth elements termasuk neodymium (Nd) dan praseodymium (Pr), yang merupakan input utama untuk magnet permanen berkinerja tinggi, serta heavy rare earth elements seperti dysprosium dan terbium yang meningkatkan performa magnet pada suhu tinggi, semakin esensial bagi industri modern dan ketahanan nasional. Material-material ini menjadi komponen kunci bagi kendaraan listrik (EV) dan elektrifikasi yang lebih luas, energi terbarukan (termasuk turbin angin dan infrastruktur jaringan listrik), aplikasi kedirgantaraan dan pertahanan tingkat lanjut, serta berbagai penggunaan industri bernilai tinggi yang bergantung pada akses yang aman terhadap input kritis. MoU ini membentuk Joint Working Group dengan mandat untuk menjalankan program kerja sama yang terstruktur dan dipercepat, termasuk pertukaran informasi secara segera, lokakarya teknis bersama, serta asesmen komersial yang terkoordinasi.
TAG: