KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengungkapkan total investasi yang tengah digarap dalam proyek hilirisasi mencapai sekitar Rp 225 triliun. Investasi tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari mineral, energi, hingga pertanian dan pangan. CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani
mengatakan, proyek-proyek hilirisasi tersebut dikembangkan dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup enam proyek yang tersebar di 13 daerah, sementara pada tahap kedua Danantara menambahkan 13 proyek lainnya. “Kalau yang menyangkut di Danantara, kita sudah melakukan kurang lebih ada 13 di dalam dua tahap. Yang pertama di tahap pertama ada 6 proyek di 13 daerah, tahap kedua di 13 proyek tambahan sehingga total yang kami lakukan investasinya adalah Rp225 triliun,” ujar Rosan dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Rosan mengatakan proyek-proyek tersebut mencakup berbagai bidang hilirisasi. Perkembangan seluruh proyek juga dipantau Danantara melalui dashboard setiap hari untuk melihat progres investasi dan pembangunan masing-masing proyek.
Baca Juga: Prabowo Dorong Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai Beroperasi 2027 Berdasarkan paparan Rosan, salah satu fokus utama hilirisasi Danantara berada di sektor mineral
. Sejumlah proyek yang tercantum antara lain pengolahan alumina menjadi aluminium serta pengolahan bauksit menjadi smelter-grade alumina di Mempawah, Kalimantan Barat. Danantara juga mencantumkan proyek hilirisasi batu bara menjadi
dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Selain itu terdapat pengembangan produksi stainless steel dari nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, serta produksi carbon steel slab berbahan baku nikel. Proyek mineral lainnya mencakup produksi
carbon steel slab menggunakan bijih besi lokal di Cilegon, Banten, pengembangan fasilitas produksi aspal Buton di Karawang, Jawa Barat, serta proyek hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur. Selain mineral, Danantara juga mengembangkan sejumlah proyek hilirisasi di sektor
energi. Di antaranya produksi bioavtur berbahan baku used cooking oil (UCO) di Cilacap, Jawa Tengah, serta proyek bioethanol di Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam paparan tersebut juga tercantum pembangunan
fasilitas kilang gasoline di Dumai dan Cilacap serta proyek produksi tangki penyimpanan bahan bakar di sejumlah wilayah, termasuk Palembang, Balikpapan dan Mamuju. Adapun sektor
pertanian dan pangan juga menjadi bagian dari proyek hilirisasi Danantara. Proyek yang tercantum antara lain pengembangan integrated poultry business di berbagai wilayah Indonesia serta pengolahan industri garam yang mencakup wilayah Sampang, Madura dan Balikpapan. Danantara juga mendorong hilirisasi komoditas perkebunan. Dalam paparan Rosan terdapat proyek pengolahan
minyak kelapa sawit menjadi oleokimia dan biodiesel di Sei Mangkei, Sumatera Utara. Selain itu, terdapat proyek
pengolahan pala untuk menghasilkan oleoresin dan integrated coconut downstream processing yang berlokasi di Maluku Tengah. Baca Juga: Pemerintah Bidik Pembangunan 30 GW PLTS Tahun Ini, Hemat Rp 73,9 Triliun Dalam kesempatan itu, Rosan juga menyebut investasi di sektor hilirisasi secara keseluruhan berkontribusi sekitar
22,1% terhadap realisasi investasi. Pada semester pertama 2026, investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp181,4 triliun atau tumbuh 10,2% secara tahunan. Namun, kontribusi tersebut masih didominasi oleh hilirisasi mineral dengan nilai sekitar
Rp121 triliun. Pemerintah pun mendorong perluasan hilirisasi ke sektor perkebunan, kehutanan, serta minyak dan gas bumi. Rosan menyebut, perluasan tersebut penting karena investasi pada sektor berbasis perkebunan dan kehutanan memiliki potensi penyerapan tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan proyek hilirisasi mineral, meskipun nilai investasinya secara nominal cenderung lebih rendah. “Kami mendorong juga tentunya hilirisasi di perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi. Karena dari segi penyerapan tenaga kerja, memang kalau investasi di hilirisasi di bidang kehutanan, di perkebunan itu penyerapan tenaga kerjanya lebih besar walaupun dari segi nominalnya di bawah angka dari investasi di bidang mineral,” jelas Rosan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News