KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman banjir susulan membayangi Nepal dan China setelah dua danau yang terbentuk di kawasan perbatasan kedua negara berisiko jebol. Peringatan ini muncul saat operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung setelah banjir besar melanda wilayah Himalaya dan menewaskan sedikitnya 362 orang. Hampir 1.000 orang masih dilaporkan hilang setelah banjir menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026). Bencana tersebut juga meninggalkan timbunan lumpur, bebatuan, es, dan puing di lembah serta lereng pegunungan.
Baca Juga: AS Pertimbangkan Tindakan Keras Baru Bagi Perusahaan Telekomunikasi China Kedua negara menyebut bencana dipicu runtuhnya gletser yang mendorong material batu, es, lumpur, dan puing ke sistem sungai di kawasan pegunungan. Di Nepal, otoritas penanggulangan bencana pada Kamis (27/8) memperingatkan adanya danau yang terbentuk akibat material longsoran membendung aliran sungai di lokasi banjir. Permukaan air danau tersebut terus naik sehingga berisiko jebol. Otoritas meminta warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, tim penyelamat, serta pengguna jalur di sekitar lokasi untuk menjauh dari area berbahaya dan mencari tempat yang lebih aman. Peringatan serupa datang dari China. Pemerintah China memperkirakan sekitar 3 juta meter kubik air, setara dengan sekitar 1.200 kolam renang Olimpiade, akan masuk ke danau yang telah terbendung di sisi perbatasan dalam tiga hari ke depan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko tanggul alami danau jebol. Puncak aliran air diperkirakan terjadi sekitar 1 September.
Baca Juga: Topan Bavi Ancam Taiwan dan China, Berpotensi Jadi Badai Terbesar dalam 40 Tahun Ancaman semakin besar karena hujan diperkirakan masih turun dalam sepekan mendatang. Kementerian Sumber Daya Air China menyebut peningkatan volume air akan memperbesar risiko jebolnya danau. "Volume air terus meningkat, begitu pula risikonya," kata Zhu Jinfeng, peneliti dari departemen hidrologi Kementerian Sumber Daya Air China, seperti dikutip CCTV. Peringatan tersebut mulai memengaruhi operasi penyelamatan di Nepal. Sejumlah petugas memilih bergerak ke lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari potensi banjir susulan.
Salah satunya Pawan Koirala, yang bersama 13 anggota timnya menjauh dari dasar sungai setelah peringatan dikeluarkan. "Kami di sini untuk melakukan penyelamatan dan tidak ingin berada dekat zona berbahaya," ujar Koirala.
Baca Juga: Panduan Cara Pantau Banjir Solo Raya secara Real-time Sebelum Keluar Rumah Dengan pencarian korban yang masih berlangsung, ancaman jebolnya danau membuat upaya penyelamatan di kawasan terdampak kini menghadapi risiko baru. Hujan yang masih berpotensi turun juga dapat memperburuk kondisi sungai dan mempercepat kenaikan muka air.