KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di banyak kota besar dunia, elemen alam seperti danau, taman kota, dan waterfront terbukti menjadi penggerak pertumbuhan kawasan terpadu. Kehadirannya bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dan daya tarik properti di sekitarnya. Danau menjadi salah satu elemen paling diminati. Pemandangan air menciptakan suasana tenang, sejuk, dan eksklusif yang sulit ditemukan di kawasan perkotaan padat. Karena itu, hunian yang menghadap danau sering diposisikan sebagai produk premium dengan harga tinggi. Melihat tren tersebut, banyak pengembang menghadirkan kawasan hunian berkonsep
lake view atau
waterfront living. Selain menawarkan panorama alam, kawasan ini umumnya dilengkapi fasilitas modern seperti taman, jogging track, area komersial, hingga ruang terbuka hijau yang mendukung gaya hidup urban.
Meski dibanderol dengan harga tidak murah dan menyasar segmen atas, permintaan terhadap properti di kawasan danau tetap tinggi. Konsumen menilai hunian seperti ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol kenyamanan, prestise, dan investasi jangka panjang.
Baca Juga: Metland (MTLA) Raih Marketing Sales Rp 677 Miliar per April, Rumah Tapak Jadi Andalan Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property, Martin Samuel Hutapea, menilai rumah tepi danau memiliki nilai lebih dari sisi estetika maupun lingkungan. Pada umumnya, kawasan dengan konsep danau juga didukung area penghijauan yang lebih melimpah sehingga menciptakan suasana asri bagi penghuni. “Penghuni dapat menikmati rekreasi di sekitar danau, terutama bila kawasan tersebut memang didesain untuk aktivitas rekreasi,” jelasnya pada Kontan.co.id, Selasa (28/5/2026). Tak hanya sebagai elemen estetika, kata Martin, keberadaan danau juga memiliki fungsi teknis, yakni sebagai water retention atau penampungan air saat hujan. Faktor ini menjadi salah satu alasan pengembang menghadirkan konsep danau dalam kawasan hunian terpadu. Dari sisi bisnis, ia melihat rumah yang berada di sekitar danau umumnya memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding unit lain di kawasan yang sama tanpa pemandangan danau. Panorama air dinilai menjadi nilai tambah yang mampu meningkatkan daya tarik properti, khususnya untuk segmen menengah atas. Meski demikian, konsep hunian tepi danau juga memiliki tantangan tersendiri. Martin menjelaskan biaya pemeliharaan kawasan danau relatif tinggi. Jika tidak dirawat secara berkala, kondisi danau dapat menimbulkan ketidaknyamanan seperti bau maupun tingkat kelembapan yang tinggi.
Baca Juga: Penjualan Rumah Lesu, Pengamat Ingatkan Risiko Overpay Properti Selain itu, risiko kenaikan permukaan air saat hujan deras dalam durasi panjang juga perlu menjadi perhatian. Potensi luapan air ke jalan kawasan tetap ada apabila desain kawasan tidak memperhitungkan jarak aman dan elevasi jalan terhadap permukaan danau. Ke depan, Martin melihat tren rumah dengan fasilitas danau masih akan tetap ada di pasar properti, namun sifatnya lebih sebagai produk khusus dan tidak mendominasi pasar. “Konsep ini lebih menjadi pilihan bagi calon pembeli yang memang menyukai pengalaman tinggal dengan suasana danau dan lingkungan alami,” katanya.
Dongkrak nilai kawasan
Kini fenomena serupa terlihat di kawasan Gading Serpong setelah revitalisasi Danau Cihuni rampung. Danau yang memiliki luas 32,3 hektare (ha) ini mulai direvitalisasi pada Juli 2025 oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Danau Cihuni yang dahulu dikenal sebagai kawasan resapan air dan pengendali banjir, kini bertransformasi menjadi ruang publik sekaligus destinasi gaya hidup yang lebih hidup dan nyaman. Penataan kawasan tepian danau menghadirkan berbagai fasilitas baru seperti jogging track sepanjang 1 kilometer (km), jalur pedestrian, ruang terbuka hijau, hingga area santai untuk menikmati suasana sore. Keindahan danau yang dikelilingi pohon pinus rindang, ditemani suara kicauan burung, menciptakan suasana tenang yang cocok untuk melepas penat. Aktivitas masyarakat pun tumbuh secara alami, mulai dari olahraga pagi, jogging sore, bersepeda, hingga menikmati sunset bersama keluarga di tepian air. Danau Cihuni sebetulnya sudah ada sejak era kolonial sebagai danau alami. Namun, perkembangan kota membuat kondisi danau ini sempat lama terbengkalai. Sedimentasi, penyempitan lahan, hingga sengketa kepemilikan sempat mengancam keberadaan Situ Cihuni. Konflik status lahan berlangsung sejak 2015 sebelum akhirnya Mahkamah Agung pada 2022 menetapkan Situ Cihuni sebagai aset negara yang harus dilindungi. Putusan itu menjadi titik balik penyelamatan kawasan danau ini. BBWSCC menjalankan revitalisasi dengan fokus utama sekadar mempercantik kawasan, melainkan mengembalikan fungsi ekologis danau sebagai pengendali banjir dan daerah resapan air. Pemerintah juga menata ruang publik agar kawasan ini dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa menghilangkan fungsi konservasinya. Baca Juga:
Ciputra Group Resmi Luncurkan Citra Homes Halim, Gandeng 18 Bank KPR Kehadiran Danau ini juga telah mengangkat nilai kawasan di sekelilingnya menjadi titik premium baru. Area komersial, lifestyle district, hingga hunian premium tumbuh mengikuti perubahan kualitas kawasan tersebut. Penataan danau, peningkatan kualitas lingkungan, serta hadirnya ruang terbuka hijau membuat kawasan ini semakin menarik sebagai destinasi hunian bergaya waterfront living. Terbaru, hadir di kawasan ini klaster rumah mewah bertajuk Matera Lakeside yang dikembangkan Paramount Land. Klaster ini menghadirkan keseimbangan antara privasi dan eksklusivitas hunian dengan kemudahan akses menuju pusat bisnis. Klaster ini dikembangkan di lahan seluas 3 ha yang nantinya akan merangkum 70 unit rumah mewah. Tahap pertama telah dipasarkan sebanyak 25 unit yang dibanderol denagn harga mulai Rp 6,9 miliar - Rp 12,5 miliar.
Kawasan ini juga menerapkan sistem double gate. Gerbang kawasan berada di jalan utama sisi danau dan terhubung langsung dengan Maggiore Hills Park, ruang terbuka hijau di sempadan Danau Cihuni. Sementara itu, gerbang kedua yang menjadi akses utama menuju hunian dirancang menghadap danau. Menurut Martin, rumah mewah merupakan segmen pasar yang sangat terbatas. Pembelinya umumnya berasal dari kalangan dengan kondisi finansial sangat kuat, biasanya didukung oleh bisnis yang sudah mapan. “Pengembangan rumah mewah tidak lagi terpusat di Jakarta, melainkan banyak berkembang di kawasan penyangga. Faktor kunci dalam segmen ini adalah reputasi pengembang yang terbukti mampu merealisasikan produk sesuai janji,” pungkas Martin. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News