Dapat banyak masukan, Managemen MRT siap lakukan evaluasi setiap hari



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah melakukan uji satu pekan lebih, managemen MRT Jakarta mendapat banyak masukan dari masyarakat pengguna jasa MRT. Salah satunya adalah tersedianya petunjuk di dalam kereta dan di dalam stasiun. 

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengucapkan terima kasih atas masukan dari beberapa komponen masyarakat. "Suara di dalam kereta maupun di stasiun yang akan kami maksimalkan. Kemudian gap antara kereta dan peron akan ditutup dengan trem bagi kawan disabilitas," jelas William, Jumat (22/3).

Sebelumnya pada 19 Maret Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melakukan trial trip dan dari trip tersebut YLKI memberikan beberapa catatan bagi MRT Jakarta. Sejumlah empat catatan disampaikan Ketua Harian YLKI Tulus Abadi.


Diantaranya adalah Masih sangat minim penandaan yang memberikan informasi dan edukasi pada penumpang, baik penandaan di stasiun dan kabin kereta. Untuk kabin kereta sendiri tidak ada penandatanganan terkait safety, sebagaimana di KRL.

"Seperti dilarang bersandar di depan pintu. Juga tidak ada penandaan dilarang makan dan minum di kereta dan atau di ruang tunggu," jelas Tulus saat dihubungi Kontan pada Jumat (22/3).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa informasi terkait buka tutup pintu kereta juga tidak ada, dimana hal tersebut dinilai YLKI sangatlah penting bagi konsumen. Lalu tidak adanya rak bagasi di kabin kereta.

"Jika merujuk pada KRL ada rak bagasi, juga MRT di Jepang. Memang MRT di Singapura tidak pakai rak bagasi. Ketika hal ini saya konfirmasi ke humas MRT Jakarta, space rak bagasi akan dipakai untuk iklan. YLKI menyarankan rak bagasi tetap ada, walau mungkin tidak semua space," terang Tulus.

Meski memberikan empat catatan YLKI menilai secara umum MRT Jakarta sudah baik, secara infrastruktur stasiun, kabin kereta dan atau kualitas selama perjalanan, tidak berisik, dan kemacetan stabil. Kualitas pengereman juga dinilai nyaman. Kereta yang berhenti di stasiun selama 30 detik, dengan headway lima menit juga diapresiasi YLKI.

Selain itu, Yang patut diapresiasi adalah di semua ruang tunggu stasiun dilengkapi pintu pembatas yang bisa buka tutup secara otomatis, sebelum penumpang naik/turun ke/dari kereta.

"Dari sisi safety, pintu pembatas ini sangat penting untuk menghindari kecelakaan penumpang yang tersenggol atau tertabrak MRT, atau bahkan untuk aksi bunuh diri seperti di Jepang dan Korea," kata Tulus.

Masukan dari berbagai komponen masyarakat akan mulai dimaksimalkan setelah memasuki tahap komersial pada 1 April nanti. "Anytime masukan masyarakat akan kami respon," tutur William.

Nantinya model evaluasi akan dilakukan setiap hari usai MRT beroperasi. Dijelaskan William jika permintaan atau masukan dari masyarakat tidak struktural nantinya bisa 4 jam direspon atau ditindaklanjuti.

"Respon sampai 4-8 jam ada respon sampai diatas 24 jam kalau struktural, kami tak berikan batas kalau ada masukan dari masyarakat. Kita punya semua kanal, kita buka semua kanal untuk tampung masukan masyarakat," ujar William dalam konferensi pers di kantornya.

YLKI juga berencana akan melakukan monitoring atau survei usai sebulan MRT beroperasi untuk melihat kembali kualitas pelayanan, dan kepatuhan terhadap regulasi, misalnya standar pelayanan minimal (SPM) baik SPM di stasiun atau SOM di kereta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli