Dapat pembeli baru, Eratex untung



JAKARTA. Strategi PT Eratex Djaja Tbk mengempiskan beban usaha, rupanya jitu memperbaiki kinerja. Perusahaan tekstil ini tercatat mengantongi laba bersih US$ 1 juta di semester I-2014. Padahal di semester I-2013 perusahaan ini merugi US$ 294.341.

Malah, capaian laba bersih di paruh pertama 2014 tersebut tinggal sejengkal lagi memenuhi target laba bersih incaran Eratex sepanjang 2014, yakni US$ 1,027 juta. "Karena proses efisiensi, kami bisa mencatatkan laba hampir 100% dari target," ujar Juliarti Pudji, Corporate Admin Manager Eratex Djaja kepada KONTAN, Kamis (24/7).

Tiga pos pengurang dalam beban usaha yang sempat menjegal pendapatan Eratex di semester I-2013, yakni beban penjualan, beban umum dan administrasi serta beban klaim. Nah, di semeter I-2014, beban penjualan menyusut 52,19% menjadi US$ 383.154. Lalu, beban klaim menciut 63,07% menjadi US$ 36.281. Sementara beban umum dan administrasi turun tipis 1,91% menjadi US$ 922.127.


Eratex mengecilkan tiga pos dalam beban usaha tersebut dengan mengurangi keterlambatan pengiriman barang ke negara ekspor. Maklum, jika terjadi keterlambatan pengiriman barang, Eratex harus menyiapkan biaya lebih untuk mengganti pengiriman barang menjadi melalui jalur udara.

Kalau menilik pendapatan perusahaan ini di periode tersebut, sebenarnya tak kencang naiknya. Di semester I-2014, Eratex cuma mengumpulkan pendapatan US$ 29,13 juta, atau cuma tumbuh 1,57% dibandingkan dengan pendapatan semester I-2013 yang sebesar US$ 28,68 juta.

Yang pasti, selain berhasil mengempiskan beban usaha, rupanya perusahaan berkode ERTX di Bursa Efek Indoneisa ini juga didukung dua katalis positif lain. Pertama, penambahan pembeli baru dari Amerika Serikat (AS) di semester I. "Buyer dengan merek internasional tapi mereka tidak mau disebutkan namanya," kata Juliarti.

Penujualan ekspor AS mendominasi

Eratex menyatakan, sejauh ini tujuan ekspor terbesar memang ke Negeri Uwak Sam. Porsi penjualan ekspor ke negara tersebut mencapai 65% terhadap total penjualan ekspor. Lantas, disusul ekspor ke Jepang dengan porsi 16%.

Asal tahu saja, penjualan ekspor mendominasi historikal penjualan Eratex. Kembali mengintip penjualan semester I-2014, penjualan ekspor tercatat US$ 28,71 juta atau berkontribusi 98,56% terhadap total penjualan. Sisanya barulah penjualan lokal.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, terdapat empat klien besar Eratex yang mencatatkan pembelian barang lebih dari 10% terhadap total penjualan. Keempat perusahaan tersebut yakni VF (US$ 8,1juta), Ann Taylor (US$ 7,43 juta), Polo Ralph Lauren (US$ 5,66 juta) dan Sojitz (US$ 3,26 juta). VF, Ann Taylor dan Polo Ralph Lauren sudah tercatat sebagai klien besar sejak semester I-2013 lalu.

Lantaran mayoritas penjualan Eratex menyasar pasar ekspor, perusahaan ini tak bilang mencecap berkah kenaikan penjualan lantaran momen Ramadan. Konsekuensi lain dominasi pasar ekspor adalah, Eratex mengaku tak bisa leluasa menaikkan harga demi mengompensasi penaikan tarif dasar listrik (TDL) ke penjualan produk, seperti yang dilakukan pelaku usaha lain. Eratex beralasan ingin menjaga daya saing di pasar mancanegara.

Asal tahu saja, biaya TDL mencuil porsi 1,1% di dalam harga penjualan kain Eratex. Sayangnya, perusahaan ini tak berbagi informasi detil perihal harga jual kain.

Kedua, capaian produksi semester I-2014 sesuai target yakni, mencapai 50% dari target tahunan. Eratex menargetkan total produksi 2014 sebanyak 6 juta - 7 juta lembar kain. "Kalau diakumulasi produksi kuartal I dan kuartal II kami sekitar tiga juta lembar lebih," terang Juliarti.

Tahun ini, Eratex mengincar pendapatan US$ 60,4 juta.Jika dibandingkan dengan pendapatan 2013 US$ 56,98 juta, berarti berharap pertumbuhan 6% tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina