Dapat sokongan eksternal, penguatan rupiah diramal bakal berlanjut esok hari



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Rabu (12/6) diprediksi bakal menguat melanjutkan penguatan rupiah Selasa (11/6).

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah menguat 0,07% ke level Rp 14.239 per dollar AS dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 14.250 per dollar AS. Sementara itu, di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah masih mencatatkan pelemahan tipis 0,18% ke level Rp 14.258 per dollar AS. Sedangkan 

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan, rupiah cenderung menguat dalam beberapa hari terakhir terhadap dollar AS lantaran dipengaruhi oleh beberapa sentimen eksternal.


Di antaranya, ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan kembali menaikkan tarif impor China jika Presiden China Xi Jinping tidak hadir dalam KTT G20 akhir Juni nanti di Jepang.

Selain itu, sentimen yang mengindikasikan bahwa The Federal Reserved (The Fed) akan memangkas suku bunga acuannya kian meningkat, meskipun investor khawatir untuk menjual secara agresif sebelum KTT G20 bulan ini. Ditambah lagi, komentar dovish dari pejabat The Fed dan data ekonomi yang lemah telah mendukung harapan untuk penurunan suku bunga.

Sementara itu, data manufaktur Inggris telah lemah, memicu asumsi bahwa Bank of England (BoE) akan menurunkan suku bunganya. Namun, para pembuat kebijakan telah mengadopsi sikap hawkish yang tidak terduga.

"Bank of England mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar keuangan, sebagaimana disampaikan Michael Saunders," kata Ibrahim, Selasa (11/6).

Selain itu, prospek perdamaian di Semenanjung Korea juga menjadi samar-samar, karena Korea Utara dikabarkan tengah menggelar persiapan untuk kembali melakukan uji coba rudal balistik. 

Sedangkan dari sentimen domestik, langkah Standard and Poor (S&P) menaikkan peringkat utang Indonesia ke peringkat layak investasi dari BBB- menjadi BBB, membuat investor semakin yakin untuk berinvestasi di aset-aset berbasis rupiah (terutama obligasi) karena kemungkinan gagal bayar semakin kecil. 

BPS juga mencatat inflasi Mei 2019 sebesar 0,68% mom atau menjadi 3,32% yoy. Ibrahim menilai, bagi negara berkembang seperti Indonesia, inflasi tinggi adalah sebuah default setting. Sebab permintaan terus tumbuh sementara industri domestik masih mencari bentuk permainan terbaik. 

"Ini artinya, pasokan yang tersedia niscaya belum mampu memenuhi permintaan yang terus naik," ungkapnya. 

Jadi inflasi rendah adalah sebuah berkah, karena pertanda permintaan yang tumbuh mampu dipenuhi oleh sisi penawaran. Sisi pasokan Indonesia semakin baik, dunia usaha semakin mampu untuk menyesuaikan irama permintaan konsumen.

Dalam transaksi besok (12/5), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan menguat di kisaran level support Rp 14.205 per dollar AS, dan untuk resistance Rp 14.275 per dollar AS. Dimana, sentimen eksternal diyakini masih akan mendominasi pergerakan rupiah Rabu (12/5).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi