KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana Pensiun BCA atau Dapen BCA (DPBCA) yang merupakan Dana Pensiun Pemberi Kerja dengan Program Iuran Pasti (DPPK PPIP) mencatatkan peningkatan kinerja
Return on Investment (RoI). Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno menerangkan RoI Dapen BCA sampai Februari 2026 tercatat di level 0,92%. "Angka itu sejalan dengan tren kenaikan di industri dana pensiun konvensional. Kalau dibandingkan periode yang sama tahun lalu, memang ada peningkatan dari sekitar 0,48%," ujarnya kepada Kontan, Senin (27/4).
Asal tahu saja, RoI dana pensiun (dapen) konvensional juga meningkat dari Februari 2025 sebesar 0,12%, menjadi 0,92% per Februari 2026.
Baca Juga: Tring! by Pegadaian Sudah Dipakai 6 Juta Pengguna Sejak Diluncurkan Budi menerangkan peningkatan RoI Dapen BCA utamanya didorong oleh kondisi yield obligasi yang lebih rendah dibanding tahun lalu. Dengan demikian, dia bilang valuasi portofolio surat utang ikut naik. "Ditambah, pendapatan kupon juga masih stabil dan tetap memberikan kontribusi ke imbal hasil," tuturnya. Untuk mendorong ROI di tengah kondisi pasar yang cukup volatil, Budi menyampaikan pihaknya akan tetap fokus ke pengelolaan portofolio yang prudent dan terdiversifikasi. Dia bilang alokasi aset dioptimalkan, terutama di instrumen fixed income yang bisa menjaga keseimbangan antara return dan risiko. Selain itu, pengelolaan durasi juga dilakukan secara aktif untuk mengantisipasi pergerakan suku bunga. Budi mengatakan diversifikasi ke instrumen lain tetap dilakukan, tentunya dengan profil risiko yang terukur, supaya kinerja tetap stabil. "Sebagian portofolio obligasi juga kami kelola dengan pendekatan
hold-to-maturity untuk meredam volatilitas. Di sisi lain, penyesuaian alokasi secara taktis tetap dilakukan agar peluang yield yang lebih optimal bisa tetap ditangkap," ucapnya. Sementara itu, Budi juga angkat bicara mengenai potensi RoI dapen konvensional melampaui capaian pada akhir 2025 yang sebesar 8,18%. Menurutnya, tahun ini memang akan sangat tergantung pada kondisi pasar, terutama arah suku bunga, pergerakan pasar obligasi, dan volatilitas saham.
"Dengan kondisi tersebut, peluang untuk mencapai ROI yang kompetitif tetap ada, tetapi memang masih ada ketidakpastian yang perlu dicermati," tuturnya. Dengan demikian, Budi mengatakan penyelenggara melihatnya secara hati-hati dan realistis, dengan tetap fokus pada konsistensi hasil investasi dalam jangka panjang.
Baca Juga: Jumlah nasabah Superbank capai 6,5 juta hingga Awal 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News