KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dana Pensiun BCA (Dapen BCA/DPBCA) menyiapkan strategi investasi untuk mendorong peningkatan
return of investment (RoI) pada 2026, di tengah proyeksi penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan potensi pemangkasan suku bunga acuan. Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno mengatakan, perseroan akan tetap mengedepankan strategi investasi yang prudent, adaptif, serta berbasis manajemen risiko. Menurut Budi, Dapen BCA akan mengoptimalkan portofolio melalui diversifikasi yang seimbang pada instrumen pendapatan tetap, SBN, obligasi korporasi, pasar modal, serta instrumen lain yang sesuai dengan ketentuan regulasi dan profil risiko dana pensiun.
Baca Juga: Marak Praktik Jual Beli Kendaraan Hanya dengan STNK, Ini Kata Clipan Finance “Penyesuaian strategi akan dilakukan secara dinamis mengikuti perkembangan suku bunga, kondisi ekonomi domestik, serta prospek pasar keuangan, guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong peningkatan kinerja investasi secara berkelanjutan,” ujar Budi kepada Kontan, Selasa (30/12). Hingga data terakhir, Dapen BCA mencatat realisasi RoI sebesar 8,5%. Lebih lanjut, Budi menanggapi proyeksi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang memperkirakan yield SBN berpotensi turun pada 2026. Penurunan yield tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya penerbitan SBN serta peluang lanjutan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI). Dari sisi portofolio, tren penurunan suku bunga BI dinilai berpotensi memberikan dampak positif terhadap nilai obligasi yang telah dimiliki Dapen BCA, baik SBN maupun obligasi korporasi, seiring kenaikan harga obligasi. Namun, untuk penempatan investasi baru, Budi mengakui bahwa yield yang lebih rendah berimplikasi pada potensi pendapatan kupon yang juga menurun, sehingga dapat menekan tingkat pengembangan investasi.
Baca Juga: Budi Gadai Indonesia Targetkan Pertumbuhan Bisnis 20% pada 2026 “Oleh karena itu, kami akan tetap selektif dan berhati-hati dalam melakukan penempatan baru, dengan mempertimbangkan kualitas penerbit, tenor yang sesuai dengan kewajiban dana pensiun, serta keseimbangan antara stabilitas pendapatan dan potensi pertumbuhan investasi,” jelasnya. Sebelumnya, Chief Economist Pefindo Suhindarto memperkirakan penerbitan SBN pada 2026 akan lebih tinggi dibandingkan 2025, seiring pelebaran defisit APBN dan meningkatnya nilai surat utang jatuh tempo. Berdasarkan proyeksi APBN 2026, target penerbitan SBN diperkirakan mencapai Rp1.585 triliun, yang terdiri dari penerbitan SBN baru sekitar Rp749,19 triliun serta surat utang jatuh tempo sebesar Rp836,2 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan target penerbitan bruto SBN 2025 yang berada di kisaran Rp1.342 triliun. “Kami melihat penerbitan SBN tahun depan akan relatif cukup tinggi. Namun, permintaan domestik masih berpotensi menjadi buffer yang kuat untuk menyerap penerbitan pemerintah, sehingga yield cenderung tetap menurun,” ujar Suhindarto kepada Kontan, Jumat (19/12/2025).
Baca Juga: Waspada Modus Penipuan! Pluang Imbau Pengguna Jauhi Akun Telegram Bodong Pefindo memperkirakan tren penurunan yield SBN masih berlanjut, sejalan dengan peluang pemangkasan lanjutan suku bunga acuan BI. Meski BI telah memangkas suku bunga sebesar 125 basis poin sepanjang 2025, ruang penurunan masih terbuka.
“Rentang suku bunga acuan ke depan berpotensi bergerak di kisaran 4% hingga 4,5%, dengan asumsi The Fed masih menurunkan suku bunganya satu kali lagi,” tutup Suhindarto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News