KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan tetap melanjutkan rencananya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada semester II-2026, meski kondisi pasar saham masih cenderung
bearish. Beberapa calon emiten yang mencuat antara lain PT Bach Multi Global Tbk (BACH) yang terafiliasi Grup Djarum dengan kisaran harga penawaran Rp 400 - Rp 500 per saham dan target dana hingga Rp 307,5 miliar. Selain itu, ada PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) yang bergerak di layanan kesehatan melalui jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, dengan target dana hingga Rp683,2 miliar dan kisaran harga Rp 1.200 - Rp 1.400 per saham.
Baca Juga: Diamond Food Indonesia (DMND) Bagi Dividen Tunai Rp 71,01 Miliar, Cek Jadwalnya Dari sektor hiburan, PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) juga bersiap IPO dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal disetor, dengan rentang harga Rp135-Rp170 per saham dan potensi dana hingga Rp429,25 miliar.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai calon emiten yang memiliki afiliasi dengan Grup Djarum menjadi yang paling menarik di antara kandidat IPO tersebut. “Kami menilai kandidat yang memiliki afiliasi dengan Grup Djarum relatif paling menarik, terutama karena rekam jejak kinerja yang kuat, disiplin finansial, serta portofolio bisnis yang sudah matang,” jelas Azis kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). Menurut Azis, daya tarik utama emiten tersebut terletak pada prospek pertumbuhan bisnis yang solid, skala usaha yang besar, serta sinergi dalam ekosistem grup yang kuat. Kemampuan menghasilkan laba secara berkelanjutan juga menjadi faktor penting yang membuat emiten tersebut lebih unggul dibanding kandidat IPO lainnya. Di tengah kondisi pasar yang cenderung tertekan, Azis melihat minat investor terhadap saham IPO masih tetap ada, meskipun dengan pendekatan yang lebih selektif.
Baca Juga: Pasar Saham Indonesia Kembali Tergoncang, MSCI Buka Risiko Downgrade di November 2026 “Dalam kondisi
bearish,
appetite investor masih ada, tetapi cenderung lebih selektif. IPO juga bisa menjadi pemanis bagi investor ritel di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif,” jelasnya. Ia menambahkan, momentum IPO pada semester II-2026 masih cukup terbuka, khususnya bagi perusahaan dengan fundamental yang kuat serta rencana penggunaan dana yang jelas.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati kinerja calon emiten, terutama konsistensi pertumbuhan pendapatan dan laba sebagai indikator bahwa bisnis masih berada dalam fase ekspansi. Selain itu, aspek valuasi juga menjadi faktor krusial yang perlu diperhatikan, dengan membandingkan harga penawaran terhadap emiten sejenis di industri yang sama. “Valuasi perlu diperhatikan agar investor dapat menilai secara objektif apakah harga yang ditawarkan masih menarik dibandingkan dengan kompetitor,” tambahnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News