Dari FOMO ke JOMO: Saatnya Generasi Muda Berinvestasi Lebih Mindful
Rabu, 23 September 2026 14:23 WIB
Oleh: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Jakarta, 21 September 2026 Generasi Z kini dihadapkan pada pilihan untuk terus mengikuti berbagai tren yang muncul atau justru memilih untuk melewatkannya. Pilihan untuk tidak selalu mengikuti tren tersebut kerap dikaitkan dengan Joy of Missing Out (JOMO), sebuah pola pikir yang berbeda dari Fear of Missing Out (FOMO). Jika FOMO mendorong seseorang mengikuti tren karena khawatir tertinggal atau tidak menjadi bagian dari suatu pengalaman, JOMO justru menekankan kesadaran untuk memilih apa yang memang dibutuhkan dan sesuai dengan nilai personal. Konsep tersebut sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam Telematics and Informatics Reports1, yang mendefinisikan JOMO (Joy of Missing Out) sebagai kenikmatan ketika seseorang memilih untuk mengambil jeda dari interaksi maupun tuntutan sosial. JOMO bukan semata-mata tentang menghindari lingkungan sosial, melainkan mengenai otonomi dalam menentukan kapan seseorang ingin terhubung dan kapan memilih untuk mengambil waktu bagi diri sendiri. Dalam konteks tren yang bergerak cepat, perspektif ini menunjukkan bahwa tidak mengikuti setiap tren tidak selalu berarti tertinggal, tetapi dapat menjadi bagian dari proses memilih secara lebih sadar atau mindful. Riley Gardiner, seorang pakar komunikasi London, dalam wawancaranya dengan Daily Mail menyebutkan bahwa Gen Z kini mulai mengadopsi tren JOMO ketimbang FOMO. Menurutnya, generasi ini mulai menyadari bahwa tidak terlibat dalam setiap acara bukanlah sebuah kerugian, terutama jika sejak awal acara tersebut memang tidak mereka minati. Jika tren FOMO lahir dari dorongan untuk senantiasa hadir di mana saja, JOMO justru menawarkan kepuasan saat seseorang memilih menepi dan mengambil jeda untuk diri sendiri.2
Perubahan cara pandang tersebut juga dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan finansial, termasuk investasi. Di tengah derasnya informasi dan berbagai tren investasi yang beredar di media sosial, kemampuan untuk tidak selalu ikut-ikutan dapat menjadi bagian dari kebiasaan investasi yang lebih terencana. Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Ria M. Warganda, mengatakan bahwa JOMO dapat menjadi perspektif yang relevan untuk membangun perilaku finansial yang lebih bijak, khususnya bagi generasi muda. “JOMO atau Joy of Missing Out menunjukkan adanya perubahan cara generasi muda memandang tren. Mereka mulai merasa tidak harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai untuk mendapatkan pengalaman atau merasa diterima. Dalam konteks keuangan, pola pikir ini dapat menjadi hal yang positif karena mendorong seseorang untuk lebih selektif dalam menentukan ke mana uangnya akan dialokasikan,” ujar Ria. Menurut Ria, prinsip tersebut juga relevan untuk diterapkan dalam keputusan investasi. Kemudahan akses terhadap isi informasi dan berbagai platform investasi membuat generasi muda semakin mudah mengetahui instrumen yang sedang populer. Namun, popularitas sebuah instrumen tidak selalu berarti instrumen tersebut sesuai dengan kebutuhan setiap orang. “Prinsip JOMO juga relevan dalam investasi. Tidak semua instrumen yang sedang populer harus diikuti. Kita perlu memiliki kesadaran untuk berhenti sejenak, memahami karakteristik dan risikonya, kemudian menilai apakah investasi tersebut memang sesuai dengan tujuan keuangan. Dengan begitu, keputusan investasi tidak semata-mata didorong oleh tren atau kekhawatiran tertinggal dari orang lain,” jelasnya. Dari FOMO Menuju Mindful Investing Dalam investasi, FOMO dapat muncul ketika seseorang mengambil keputusan karena melihat suatu aset atau instrumen sedang ramai diperbincangkan atau banyak orang memperoleh keuntungan darinya. Kondisi tersebut dapat membuat keputusan investasi lebih dipengaruhi oleh sentimen dan dorongan untuk ikut serta dibandingkan dengan pertimbangan yang matang. Paparan informasi yang berlebihan, terutama dari sumber yang tidak terverifikasi, juga berpotensi mendorong keputusan yang lebih impulsif. Sebaliknya, prinsip JOMO dapat menjadi titik awal untuk membangun mindful investing, yaitu kebiasaan mengambil keputusan investasi secara lebih sadar dan tidak reaktif terhadap tren. Generasi muda dapat mulai membangun kebiasaan ini dengan memberikan jeda sebelum mengambil keputusan, memahami tujuan investasi, profil risiko, jangka waktu, serta karakteristik produk yang dipilih. Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada potensi keuntungan atau apa yang sedang populer, tetapi juga pada kebutuhan dan kondisi finansial masing-masing. Kesadaran dan pengendalian diri menjadi penting agar keputusan investasi tidak semata-mata didorong oleh sentimen pasar, tren, maupun kekhawatiran tertinggal. “Mindful investing bukan berarti menghindari peluang atau selalu berada di luar pasar. Justru, mindful investing berarti memahami mengapa kita berinvestasi, apa yang ingin dicapai, seberapa besar risiko yang dapat diterima, dan apakah instrumen yang dipilih sesuai dengan kebutuhan tersebut. Ketika keputusan dibuat berdasarkan pemahaman, kita akan lebih mampu membedakan antara peluang yang relevan dan sekadar FOMO,” tutur Ria. Di tengah semakin cepatnya penyebaran informasi investasi, kemampuan memilah informasi juga menjadi semakin penting. Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperoleh edukasi dan memperluas pengetahuan mengenai investasi, terutama ketika informasi yang diakses bersifat edukatif dan kredibel. Namun, konten yang sensasional atau spekulatif juga dapat memperkuat bias dan mendorong keputusan investasi yang kurang terukur. Oleh karena itu, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan dapat menjadi salah satu cara menerapkan mindful investing, terutama ketika suatu instrumen sedang menjadi tren. Tidak langsung mengikuti sebuah tren bukan berarti kehilangan peluang, melainkan memberikan kesempatan untuk memahami risiko dan karakteristik produk secara lebih menyeluruh. Memilih Reksa Dana Secara Lebih Mindful Prinsip mindful investing juga dapat diterapkan ketika mulai memilih reksa dana. Dengan beragam jenis dan karakteristik reksa dana yang tersedia, masyarakat perlu terlebih dahulu menentukan tujuan investasi, jangka waktu, dan profil risiko sebelum memilih produk yang sesuai. Pemilihan produk juga sebaiknya tidak hanya didasarkan pada tingkat imbal hasil atau seberapa populer suatu produk di tengah masyarakat. Memahami karakteristik produk dan menyesuaikannya dengan kebutuhan menjadi bagian penting agar keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih terukur. Salah satu contohnya adalah Reksa Dana Insight Money (I-Money), yang ditujukan bagi investor dengan profil risiko konservatif dan jangka waktu investasi pendek hingga menengah.
Berdasarkan Fund Fact Sheet Insight per 31 Agustus 2026, I-Money mencatat kinerja 3,29% secara YTD, 5,20% dalam satu tahun, 30,76% dalam lima tahun, dan 94,71% sejak diluncurkan. Pada periode yang sama, benchmark yang digunakan dalam Fund Fact Sheet, yaitu Infovesta Money Market Fund Index, masing-masing mencatat 2,65%, 4,20%, 21,72%, dan 59,78%. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa yang akan datang. Masyarakat perlu membaca dan memahami prospektus serta Fund Fact Sheet sebelum mengambil keputusan investasi. Ria menambahkan bahwa konsistensi dan pemahaman terhadap tujuan investasi menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan investasi.
“Investasi seharusnya menjadi kebiasaan, bukan perlombaan. Tidak apa-apa melewatkan tren ketika kita tahu bahwa investasi tersebut belum tentu sesuai dengan tujuan dan profil risiko kita. Yang lebih penting adalah memiliki tujuan yang jelas, memahami risiko, dan konsisten dengan keputusan yang telah dibuat,” ujar Ria. Sejalan dengan prinsip JOMO yang mendorong seseorang untuk mengambil keputusan secara lebih sadar, termasuk dalam berinvestasi. Prinsip tersebut dapat diterapkan melalui kebiasaan investasi yang lebih terencana, salah satunya dengan memanfaatkan akses investasi reksa dana secara digital melalui InvestasiIN. Aplikasi InvestasiIN dapat diunduh melalui: