KONTAN.CO.ID - Israel memiliki sistem pertahanan udara berlapis (multi-layered air defence) untuk menghadapi ancaman rudal balistik dan drone Iran. Sistem ini menjadi payung pertahanan utama di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran yang berpotensi memicu eskalasi militer di kawasan.
Baca Juga: Ekspansi Agresif Hyatt Bidik Ledakan Wisata India Berikut lapisan utama pertahanan udara Israel, seperti dirangkum dari laporan Reuters Jumat (27/2/2026): 1. Arrow 3 dan Arrow 2 Sistem Arrow dirancang untuk menghadapi ancaman rudal balistik jarak jauh, khususnya dari Iran. Arrow-2 mencegat rudal di dalam atmosfer. Arrow-3 dirancang untuk mencegat rudal di luar atmosfer (exo-atmospheric interception), memungkinkan hulu ledak dihancurkan pada ketinggian tinggi sehingga meminimalkan risiko dampak non-konvensional. Proyek ini dikembangkan oleh Israel Aerospace Industries dengan keterlibatan Boeing dalam produksi interceptor. 2. David's Sling Dirancang untuk menghadapi ancaman jarak menengah (sekitar 100–200 km), David’s Sling mampu mencegat: Rudal balistik jarak menengah, Rudal jelajah, Pesawat tempur, dan Drone. Sistem ini dikembangkan bersama oleh Rafael Advanced Defense Systems dan RTX Corp (sebelumnya Raytheon).
Baca Juga: Pakistan Gempur Afghanistan, Konflik Perbatasan Memanas ke Arah Perang Terbuka 3. Iron Dome Iron Dome merupakan lapisan pertahanan jarak pendek yang dirancang untuk mencegat roket dan mortir, termasuk serangan dari kelompok militan seperti Hamas. Beroperasi sejak 2011, sistem ini:
- Menggunakan radar untuk mendeteksi lintasan roket
- Menghitung apakah proyektil akan jatuh di area berpenduduk
- Hanya mencegat ancaman yang berisiko mengenai wilayah sipil
Iron Dome awalnya diklaim mampu melindungi kota dari roket jarak 4–70 km, namun kapasitasnya disebut telah diperluas. Versi angkatan lautnya dikerahkan pada 2017 untuk melindungi aset maritim.
Baca Juga: Nintendo Siapkan Divestasi Saham Strategis 4. Iron Beam Iron Beam adalah sistem laser berkekuatan tinggi berbasis darat yang dinyatakan operasional penuh pada akhir 2025. Berbeda dengan sistem berbasis rudal, Iron Beam menggunakan sinar laser untuk:
- Memanaskan dan melumpuhkan drone kecil (UAV)
- Menghancurkan mortir dan ancaman udara berukuran kecil
Keunggulannya adalah biaya operasional yang jauh lebih murah dibanding interceptor rudal konvensional.
Baca Juga: Kasus Kripto Korsel: 22 Bitcoin Sitaan Senilai US$1,4 Juta Hilang, 2 Orang Ditangkap 5. THAAD Amerika Serikat (AS) mengerahkan sistem
Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) ke Israel pada Oktober 2024. THAAD dirancang untuk mencegat dan menghancurkan rudal balistik jarak pendek hingga menengah pada fase terminal penerbangan. Sistem ini merupakan bagian penting dari jaringan pertahanan udara militer AS. Militer AS juga dilaporkan membantu mencegat rudal Iran menggunakan sistem berbasis darat, sementara kapal perusak Angkatan Laut AS di Mediterania Timur turut berkontribusi dalam intersepsi rudal balistik.
6. Pertahanan Udara ke Udara Selain sistem darat, helikopter tempur dan jet tempur Israel juga menggunakan rudal udara-ke-udara untuk menghancurkan drone yang menuju wilayah Israel. Dengan kombinasi sistem jarak pendek, menengah, hingga luar atmosfer, Israel membangun salah satu jaringan pertahanan udara paling kompleks di dunia. Sistem berlapis ini dirancang untuk memberikan beberapa kesempatan intersepsi terhadap ancaman rudal balistik, drone, dan proyektil lainnya dalam berbagai fase penerbangan.