Dari Lahan Tak Subur, Jadi Keripik Olahan Petani



Dari kebun hidroponik, Kelompok Wanita Tani (KWT) Amanah mulai memperluas jalan bisnisnya. Hasil panen yang sebelumnya mereka jual segar, kini diolah menjadi dodol melon, keripik kulit semangka, hingga mi kering.

KETERBATASAN lahan menjadi salah satu tantangan bagi warga Pulau Bunyu, Kalimantan Utara, untuk mengembangkan pertanian. Struktur tanah yang sudah tua membuat nutrisi sulit diserap untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

Kondisi tersebut mendorong PT Pertamina EP Bunyu Field mengembangkan Program Kampung Hidroponik bersama kelompok wanita tani setempat.


Namun, menghasilkan panen ternyata bukan akhir dari tantangan. Ketika sayuran dan buah hidroponik mulai dipanen, kelompok tani masih harus mencari cara agar hasil produksi bisa terserap pasar dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi mereka.

Tantangan ini juga KWT Amanah rasakan. Tak ingin hanya mengandalkan penjualan hasil panen dalam bentuk segar, kelompok ini mulai mengembangkan produk olahan dari hasil hidroponik. Langkah ini pun disambut Pertamina.

Dari sinilah, perjalanan KWT Amanah untuk mengubah hasil panen menjadi produk bernilai tambah dimulai. Melalui program pelatihan manajemen dan pengolahan produk turunan, mereka tidak hanya belajar mengolah hasil panen, tetapi juga mendapatkan pengetahuan untuk mengelola usaha secara lebih terukur.

"Kami jadi tahu, hasil hidroponik tidak hanya bisa dijual dalam bentuk sayuran atau buah segar, tapi bisa diolah jadi berbagai produk turunan," ujar Ketua KWT Amanah Munsi, dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9).

Dia bilang, kelompoknya juga belajar menghitung harga pokok penjualan (HPP), mencatat keuangan, dan memasarkan produk.

"Ini membuat kami lebih percaya diri mengembangkan usaha," kata dia.

Sebelum mendapat pendampingan, sebagian pelaku usaha masih mengacu pada harga pasar tanpa menghitung seluruh komponen biaya produksi sebagai HPP. Pengetahuan ini kemudian dilengkapi dengan pengembangan produk.

Hasil panen hidroponik yang sebelumnya dijual dalam bentuk segar mulai diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti dodol melon, keripik kulit semangka, hingga mi kering bernutrisi tinggi.

Diversifikasi dari komoditas tani berbeda menjadi salah satu cara KWT Amanah untuk memperpanjang masa simpan hasil panen sekaligus membuka peluang pasar baru. Munsi berharap, pengetahuan yang didapat melalui pendampingan bisa terus diterapkan dan dikembangkan anggotanya.

"Setelah pelatihan ini kami bisa terus berinovasi dan mengembangkan berbagai produk dari hasil hidroponik kelompok kami," ujarnya.

Bagi KWT Amanah, perubahan tersebut menjadi langkah untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki. Pengetahuan mengenai pengolahan produk dan pengelolaan keuangan bisa membantu kelompok menciptakan sumber pendapatan lebih beragam dari hasil pertanian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News